Cinta Biru: Runtuh Hati Jin Bersayap

Cinta Biru: Runtuh Hati Jin Bersayap
Menghantam gelisah


__ADS_3

“Tidak, berjanjilah jangan meninggalkan ku lagi” Raja Permadi mendekap erat putri, tidak terasa genangan di sudut manik mata mengalir.


Semusim berganti, bangunan kerajaan dan segala tatanan istana mulai stabil kembali. Akan tetapi, sihir, mantra dan serangan di udara masih menuju ke arah putri Arska mengincar nyawanya. Dendam putri Helena menjadikan dirinya seperti monster penghisap darah. Setiap hari dia mengasah ilmu hitam dari simbol tengkorak suku Taraya. Kamar kebesaran semakin bernuansa angker, siapapun yang menjadi pendamping dayang sang putri Helena menghilang. Bisik-bisik para dayang mengenai keanehan ketika menduduki posisi sebagai dayang pendamping putri Helena. Kabar itu sudah sampai terdengar di telinga para selir raja gurun. Ratu Sesa mencoba memberitahu kabar kebenaran hal tersebut, secara diam-diam dia mengutus dayang jin untuk memantau segala gerak-gerik putri.


“Pertama-tama engkau harus menjadi sosok kerabat terdekat dayang pendamping putri Helena” ucap Ratu Sesa.


“Perintah di laksanakan yang mulia Ratu” jawab sang dayang.


Setiap tengah malam tepat di hari ganjil pada hitungan bumi jin. Dari arah kamar putri Helena mengepul asap putih menggumpal sampai keluar pintu ruangan kebesarannya. Dayang utusan Ratu Sesa memperhatikan bahwa dayang pendamping putri Helena sedang tertidur di depan pintu kamar sang putri. Asap membungkus tubuh dayang menariknya ke dalam, dia seolah tidak sadarkan diri. Dayang utusan Ratu sangat terkejut melihatnya, dia berjalan ke arah pintu lalu mencari-cari celah melihat keadaan yang terjadi di dalam. Dia menutup mulut dengan mata melotot menyaksikan hal yang mengerikan. Putri terlihat menjadi sosok yang berbeda, wajahnya seperti monster. Dia sedang menancapkan gigi taring ke leher sang dayang sampai tubuh sang dayang lemas memucat meregang nyawa. Dayang utusan sang Ratu tidak tahan melihat hal itu, dia berbalik arah meninggalkan tempat tersebut. Namun kehadirannya di ketahui oleh sang putri, dia menggunakan kekuatan sihirnya menarik tubuh sang dayang masuk ke dalam kamarnya.


“Arghhh…”

__ADS_1


Suara suaranya mengecil, sang dayang sangat ketakutan merontah-rontah minta tolong.


Putri Helena mencekik leher sang dayang, dia menyeringai mengamati leher sang dayang yang berwarna segar. Dia membuka rahang terlihat gigi taring panjang panjang siap memangsa.


“Arghhh..”


Istana ramai dengan para prajurit dan pengawal yang bertugas menjaga tapi tidak ada satupun yang mengetahui segala tindak tanduk sang putri. Sementera Ratu Sesa yang sudah curiga karena sang dayang utusan belum juga kembali langsung mengutus sesosok kasim untuk mencari tau kemana sang dayang berada. Beberapa jam berlalu, dia menggelengkan kepala menunduk membungkuk menyatukan kedua tangannya.


Ratu Sesa yang sudah tidak sabar memerintahkan para pengawalnya mendobrak kamar sang putri.


“Lancang sekali kalian!” teriak putri Helena.

__ADS_1


Dia menahan sihir dan simbol tengkorak berdiri menatap tajam sang Ratu.


“Aku memerintahkan untuk menggeledah kamar sang putri!” ucap Ratu Sesa.


Para pengawal menunjukkan beberapa tulang tengkorak, dupa, kemenyan, kain hitam dan mangkok yang berisi bekas darah.


“Putri, bisakah engkau menjelaskan semua ini?” tanya sang Ratu.


“Jangan ikut campur kehidupanku!”


Putri Helena menggenggam tangan menahan gerakan sihir kepala tengkorak hitam untuk membunuh Ratu Sesa. Dia melotot menatap tajam sang Ratu, lalu menampar semua pengawal dan dayang yang ada di dalam kamar kebesarannya.

__ADS_1


__ADS_2