Cinta Biru: Runtuh Hati Jin Bersayap

Cinta Biru: Runtuh Hati Jin Bersayap
Insiden


__ADS_3

Melalui hari sulit dengan bergandengan tangan, kedua kekasih jin itu tidak pernah terpisahkan walau apapun yang terjadi. Cinta terpatri tidak bisa di hapus dan di hancurkan.


Di tengah perjalanan mendekati perbatasan lembah sungai jin, sang pengawal memisahkan diri dari para gerombolan. Dia masih ingat perbincangan ketiga jin di ruang rahasia istana yang menghajarnya tadi siang. Rencana besar untuk memisahkan kedua negara, kedua dari ketiga jin itu sangat familiar. Kali ini sang pengawal berusaha menangkap basah mereka dengan bantuan raja Permadi.


Beberapa jam sebelum memulai perjalanan pulang, raja mengetahui insiden penyerangan ibu suri dari salah satu hewan bersayap yang berjaga di istana Yaksa. Hampir saja sang raja hilang kendali, tapi dia menekan perasaan amarah mengingat sosok jin yang di hadapan adalah pengawal pendamping sang putri yang sangat di percaya. Pengawal pendamping itu menjelaskan semuanya, raja pun menyusun strategi agar sang pengawal bisa membuktikan ucapannya.


Di malam yang gelap, pengawal menunggu pertemuan mereka di balik semak rerumputan. Kakinya yang berkali-kali di lewati oleh hewan liar tampak dia acuhkan. Kira-kira waktu sudah menunjukkan waktu tengah malam, sang pengawal memutuskan untuk pergi. Haluannya kembali ke titik semula ketika mendengar suara hentakan kaki kuda yang mendekat.


“Perdana menteri itu tidak ada disini, apakah kita harus kembali ke istana?” ucap punggawa kekaisaran.

__ADS_1


“Tidak, ini adalah kesempatan emas untuk mendapatkan keuntungan. Dia pasti akan datang” kata menteri pertahanan.


Sesaat berlalu sang pejabat daerah berjalan dengan dua algojo besar yang mendampinginya. “Mari kita mulai perjanjian ini” ucap sang pejabat daerah.


Sang pengawal mengambil jarak beberapa langkah, dia menyalakan sinyal meriam di udara. Cahaya kilatan itu membuat para algojo langsung berlari membanting dan memukul tubuh sang pengawal. Luka jahitannya terbuka semakin lebar, sang pengawal meringis kesakitan. Dia menggenggam pedang melawan meski darahnya deras bercucuran.


Sesekali dia mengeluarkan muntahan darah, luka dalamnya tidak bisa di tahan lagi. Pedang sang pengawal terjatuh bersama tubuhnya sudah tidak sadarkan diri. Saat salah satu algojo itu akan membunuhnya, dari atas langit dia di serbu oleh para hewan bersayap. Begitupula kedatangan raja Permadi dan para pengawal menangkap mereka.


...----------------...

__ADS_1


Sang putri beserta para prajurit dan pengikutnya sudah sampai di istana. Di tengah malam yang larut, mata putri kerajaan yang mendapatkan penglihatan lain itu merasakan hal buruk sedang terjadi. Dia meminta dayang pita hijau menyampaikan perintah kepada panglima perang untuk mencari pengawal pendamping. Surat yang di terbangkan oleh kerajaan Yaksa ke istana Jati jajar membuat istana menjadi risuh. Sang penasehat istana mengenakan pakaian tidur berlari dari lorong-lorong pandang istana menuju ruangan kebesaran sang raja.


“Raja, ada hal mendesak yang ingin hamba sampaikan” ucap sang penasehat berlutut di depan pintu.


“Penasehat apa yang kau lakukan? Malam sangat larut, apakah tidak ada waktu esok untuk memberi kabar penting ini?” tanya kepala kasim.


“Raja, gawat! Punggawa kaisar dan menteri pertahanan sedang di tahan di kerajaan Yaksa Raja! Ini adalah aib untuk sosok jin pembesar dan menjatuhkan martabat kerajaan” ucap sang penasehat istana.


“Apakah kabar yang aku dengar ini benar?” tanya sang raja membuka pintu.

__ADS_1


“Yang Mulia, ini adalah surat resmi dari kerajaan Yaksa.”


__ADS_2