
Surat Keluhan untuk mu yang jauh di sana.
Alam kita telah jauh berbeda, kita telah terpisah tidak berkemungkinan dapat menyatu kembali.
Kau pernah mengajarkan arti kata kesetiaan yang semula dari awal aku yang meminta.
Semua bagai terkikis air di lautan yang belum bisa kau seberangi
Di cerita biru ini, masih saja aku temui segala rasa pahit dan badai
Setiap asap pasti ada api yang telah berkobar, aku tidak akan lupa hari dimana kau menyia-nyiakan serpihan kelopak bunga alyssum biru yang sengaja aku layangkan untuk mu
__ADS_1
Sampai kini aku tidak akan pernah berhenti mengucap kata ingin pisah
Aku rasa keegoisan cinta di cerita ini membuat banyak coretan dan tinta permanen hitam yang tidak bisa di hapus dalam gelisah.
...💙💙💙💙💙...
Setelah sampai dan bertemu kembali di dalam waktu yang di rundung duka. Astro tiada henti mengusap genangan air di pelupuk mata. Keduanya telah bertemu setelah melewati beberapa purnama, tiada kata yang bisa terucap bahkan setelah tragedi yang hampir merenggut nyawa Maharani. Dia baru kembali menghirup udara.
Berteduh di bawah pohon yang rindang, Astro masih mendekap tubuh Maharani dan memperhatikan sekeliling alih-alih jika keadaan Maharani kembali menurun atau adanya serangan gangguan apapun yang tidak dia inginkan. Niat hati ingin membawa kembali kekasihnya itu di rumah sakit karena rasa khawatir pada Maharani yang masih yang masih tampak lemah dan pucat.
Pikiran puri Arska yang tubuhnya berada di dalam tubuh Maharani begitu bercabang memikirkan nasib kerajaan dan kedua orang tuanya. Ada satu hal yang tetap dia simpan akan kehadiran Raja Permadi di masa kini terlalu melekat nyata dengan perasaan yang tetap sama.
__ADS_1
...Semua kumpulan perasaan ini tidak pernah berubah. Walau waktu mempermainkan silih berganti....
...Debaran detak jantung berkejar-kejaran ketika di lihat oleh mu. ...
Malam telah larut, kekhawatiran Raja Permadi semakin menjadi mendengar kabar putri Arska terjatuh ke dalam dasar jurang. Dia bersama Gangga masih mencari tanpa henti, Raja juga mengerahkan pasukan kepercayaannya untuk membantu mencari sang putri. Akan tetapi, tetap saja ada seseorang mata-mata yang mengetahui segala gerak-gerik pasukan khusus Raja dan secepatnya melaporkan kepada ibu Suri.
Peperangan ini di pimpin oleh ibu suri yang selalu dahaga akan kekuasaan. Setelah Raja pertama kerajaan Yaksa turun tahta dan berpindah alun-alun menjauh dari istana. Ibu Suri memberi aturan baru kepada Raja maupun Ratu untuk tidak ikut berperang melawan kerajaan Jati Jajar. Di ujung perbukitan, Huson dan Futon memantu kepakan sayap Raja Permadi yang gusar tanpa henti bergerak kesana kemari. Salah satu pamannya yang sudah berhasil menyerang sang putri itu berpikir bahwa putri sudah tewas.
“Apakah dia adalah cerminan seorang raja yang Agung? Dia terlihat konyol seolah Cuma ada satu bunga saja di dunia ini. Ahahahh…” cercah Futon.
“Siapa perduli siapa wanita itu. Dia sudah jadi bahan santapan para siluman serigala penunggu hutan.” Kata Huson melipat tangan.
__ADS_1
Asap bakaran mengepul, aroma anyir dan angin bercampur pasir. Kerajaan Jati Jajar benar-benar sedang di serang secara mendadak dengan banyaknya pasukan mengepung dari segala arah. Para pasukan dan aparat panglima perang masih berjuang mempertahankan istana. Raja yang sendirian bertempur di garis depan, hampir terkena tebasan tombak akibat serangan tiada henti. Sementara itu, panglima prang dan kasim pendamping Raja kembali menuju ke arah sang Raja. Mereka ikut mengayunkan pedang di sela pertempuran dan berusaha mendekati nya.
“Ampun kan kami wahai Raja, kami sudah berusaha melindungi sang Ratu, namun di tengah perjalan kami di serang dengan ratusan anak panah dan para prajurit Yaksa, sampai sang Ratu terjatuh ke jurang hutan perbukitan” ucap kasim dengan berlutut memelas meminta pengampunan.