Cinta Biru: Runtuh Hati Jin Bersayap

Cinta Biru: Runtuh Hati Jin Bersayap
Sindikat racun


__ADS_3

Pagi-pagi sekali Ratu Rafa menuju kamar putri Helena, dia tetap menyayangi putri Helena meskipun sikapnya semakin berubah sangat dingin. Ratu ingin mengabarkan kabar gembira kepada sang putri. Suka atau tidak suka hanya sang Ratu Rafa yang perduli pada dirinya. Dia meminta para dayang yang berjaga keluar untuk segera membukakan pintu sang putri.


“Maafkan kami wahai Ratu, tuan putri Helena tidak ingin di temui oleh siapapun” ucap sosok dayang berlutut.


“Katakan padanya, aku akan menunggunya di danau sampai matahari terbenam” ucap Ratu Rafa.


“Baik yang mulia Ratu..”


Di tepi danau dekat istana Gurun, Ratu tersenyum melihat kupu-kupu yang mengitari bunga-bunga indah. Ratu Rafa menatap langit terlihat berbeda dari biasanya. Seakan hari ini adalah hari terakhirnya di bumi jin. Dari kejauhan, sesosok dayang dayang membawakan the hangat dengan beberapa makanan di atas piring. Sosok dayang utusan Ratu Sesa untuk membunuh Ratu Rafa telah meletakkan the yang berisi racun tepat di hadapannya. Perlahan dia pergi lalu kembali menuju ratu Sesa mengabarkan bahwa dia telah menyelesaikan tugasnya.


“Bagus sekali, dengan begini hanya ratu Helena saja penghalang bagi pangeran Danel untuk naik takhta” gumam Ratu Sesa.


Ratu Rafa mengangkat cangkir teh yang sangat harum, dia meneguk teh itu sampai habis. Beberapa menit berlalu, Ratu Rafa memegang perutnya lalu memuntahkan darah segar kental.


“Arghh.. yang mulia Ratu!” jerit para dayang panik.

__ADS_1


Prajurit yang disana langsung berlari menuju ruang kebesaran Raja untuk memberitahu apa yang sedang terjadi.


“Apa? Cepat panggil tabib istana!” ucap sang Raja berlari mencari Ratu Rafa.


DI dalam kamar kebesaran, tubuh Ratu Rafa terasa sangat dingin dan kaku. Nafasnya sudah terputus-putus, sang tabib mengabarkan bahwa anak yang di dalam kandungannya telah meninggal sementara sang Ratu sudah dalam masa kritis sulit untuk selamat. Raja menangis memeluk sang Ratu, dia tidak ingin kehilangan Ratu yang sangat mencintainya seperti Ratu pertama yang telah tiada. Raja meminta agar tabib segera menolong sang Ratu. Namun sang tabib menunduk berlutut di hadapannya.


“Yang mulia, maafkan hamba. Hamba sudah berusaha sekuat tenaga serta upaya yang saja miliki. Ratu telah menelan racun yang mematikan” ucap sang tabib.


“Cepat cari penawar racun itu atau aku akan memenggal mu!”


“Pengawal! Cepat cari pelaku pembunuhan Ratu!” perintah sang Raja.


Deras hujan di hari itu menandakan dua sosok jin telah berpulang selamanya.


...----------------...

__ADS_1


Di kamar putri Helena


Dia telah menyelesaikan persemedian, dia menatap ke arah timur istana dengan mengerutkan dahinya.


“Hujan semakin deras namun mengapa asap mengepul di bagian kremasi istana? Siapa yang telah meninggal?” gumam sang putri.


Dari jendela ruangan, pandangannya menuju bagian gerbang di sudut kerajaan, Para pengawal dan dayang memakai pakaian putih menandakan anggota kerajaan sedang berduka. Dia membuka pintu berjalan menuju keluar. Para dayang yang berada di depan pintu terkejut berlutut melihatnya.


“Hormat kami wahai putri Mahkota” serentak para dayang, kaki mereka bergetar ketakutan melihat sosok putri itu.


Dayang pendamping terakhir sang putri tidak tau dimana keberadaannya, bersama para dayang yang lain masih menjadi tanda tanya besar seisi istana.


“Katakan padaku, siapa anggota kerajaan yang telah meninggal?” tanya putri Helena.


“Ratu Rafa wahai putri yang agung” ucap dayang pertama.

__ADS_1


“Sebelumnya Ratu Rafa ingin bertemu dengan tuan putri menunggu di danau, Ratu juga akan menunggu putri sampai matahari terbenam” kata dayang kedua berlutut.


__ADS_2