
Usah mengikrarkan janji di atas lembah sungai jin bila kau juga belum pasti. Air yang mengalir membawa kenangan di masa pertama kali kau mencuri hatiku. Hal ini terasa semakin sangat sesak, jadi ku mohon kembalikan lah.
Sinar pelangi di negeri jin sedang membujuk hati yang sedang merindu. Namun awan hitam menghadang membuat keraguan pilu. Kebencian yang mulai timbul ke khawatiran, tumpahan madu dari jin bersayap seakan sudah mengenai hati putri jati jajar. Dalam diam, putri Arska masih menunggu kabar angin pangeran Permadi. Dia masih percaya bahwa pangeran belum meninggal. Putri mengutus Nanjam untuk menjadi mata-mata dan mencari tau tentang pangeran Permadi.
...----------------...
Di sebuah ruangan antik yang berisi hiasan ornamen autentik. Salah satunya tergantung pot bunga Wijaya Kusuma raksasa putih yang menebar harum semerbak. Seputih wajah putri jati jajar yang sedang tersenyum manja menatap ibunda. Dia mendapat kecupan di dahi dengan binar mata penuh kasih sayang.
Semula raja Telaga hitam dan pangeran Tranggala masih mengira bahwa ruangan indah tersebut adalah tempat peristirahatan putri. Mereka menghentikan langkah dan hanya berdiri di depan pintu.
__ADS_1
Pangeran Tranggala terangah acap kali melihat gemerlap pantulan dari cahaya lampu yang di penuhi dengan kelelawar putih berterbangan. Kelelawar siluman penunggu istana tampak sibuk sendiri menebar kepakan sayap. Salah satunya menghampiri hidung pangeran Tranggala, dia langsung menepis dan hampir memukul batang hidungnya sendiri. Dampak keanehan pada seekor kelelawar menyorot perhatian Raja Telaga hitam menarik tangan pangeran menjauh dan memberikan kode untuk mengendalikan diri. Suatu firasat tersembunyi atau pesan yang ingin di sampaikan pada kelelawar tersebut. Para dayang dan Kasim di sekitar hanya menunduk tanpa berani berkomentar.
Pengawal menyampaikan pesan kepada Raja dan pangeran untuk memasuki ruangan. Semerbak harum bunga Wijaya Kusuma raksasa masih menusuk hidung. Mereka saling memberi hormat. Pangeran mengambil posisi duduk di dekat putri. Dia berdiri lalu menyodorkan jabatan tangan dengan air muka tersenyum lebar. Namun di balas putri dengan jabatan dan wajah tanpa ekspresi.
Ingin ku tidak membalas tangan mu tapi terpaksa ku lakukan karena ada Raja dan Ratu, gumam putri sambil mengangkat sebelah alisnya.
"Terimakasih" ucap pangeran Tranggala dengan senyum berkibar.
"Hamba sudah baikan sekarang. Terimakasih atas perhatiannya wahai Raja yang baik"
__ADS_1
Raja dan pangeran membawa buah tangan yang mencengangkan mata. Pangeran Tranggala menepuk sekali tangan sambil melirik putri. Tampak para dayang memasuki ruangan bergiliran masuk menyusun kotak besar di tengah-tengah ruangan. Puluhan berbentuk persegi dan berbagai warna yang berbeda. Sebuah hadiah terakhir yang di pegang oleh dayang Nanjam adalah sebuah wadah kotak bulat berisi daging mentah yang masih berdarah. Ratu berdiri melotot melihat benda tersebut tapi masih sungkan menahan lontaran pertanyaan.
"Terimalah semua hadiah dari kami yang sederhana ini" ucap Raja Telaga hitam melayangkan tangan ke arah tiap hadiah.
Raja jati jajar mengangguk dan menyatukan kedua tangan.
"Terimakasih banyak, dengan senang hati"
...----------------...
__ADS_1
Petikan wasiat: Ini tentang seekor kelelawar putih yang mendarat di hidung pangeran Tranggala. Sepertinya dia sedang memberikan sebuah pesan yang belum di ketahui siapapun. Hanya pangeran yang menyadari tingkah aneh kelelawar penunggu istana itu. Dia menggores ujung sayap dengan kuku palsu runcingnya untuk memberikan tanda sebelum menghindar.