Cinta Biru: Runtuh Hati Jin Bersayap

Cinta Biru: Runtuh Hati Jin Bersayap
Hantaman berlanjut untuk putri Arska


__ADS_3

Membius waktu, menemani hati dengan kesetiaan yang tidak bisa di ukur dengan apapun di dunia ini.


Ratu Jati Jajar mengutus pasukan jin bersembunyi di beberapa titik tempat sekitar kerajaan yang tidak terlihat dengan jelas. Penyampaian dari salah satu dayang yang belum dia ketahui adalah Ratu Harun selir ketiga kerajaan Gurun Pasir tampak nyata. Salah satu dayang di istana menyampaikan bahwa pada waktu lalu sang putri tiba-tiba mengalami serangan hawa dingin hampir membeku kan tubuhnya.


“Langit akan berpihak dan melindungi anak ku” ucap sang Ratu Jati Jajar meneteskan air matanya.


Ilmu hitam tertinggi tidak bisa ditandingi atau di lawan, hanya sinar rembulan pewaris putri mahkota dan takdir yang akan menolongnya melewati itu semua.


Malam yang tenang, angin tidak berhembus dan hewan-hewan di tengah malam tidak menunjukkan keberadaannya sekalipun dari kejauhan. Tapi dengan begitu tidak memungkinkan musuh menghilang dan tidak menyerang. Pasukan kiriman ibu suri dan putri Helena mengendap-endap menaiki atap istana mencari letak kamar putri mahkota. Sedangkan utusan pangeran Tranggala memasuki istana untuk mencuri kembali benda pusaka batu hijau jati Jajar.


(Krek, kreek)

__ADS_1


Suara berisik dari langit-langit kamar terdengar oleh sang putri.


Ketika sosok dayang mengantarkan teh hangat ke ruangan kebesarannya,sang dayang pandangan putri keliling melihat langit-langit.


“Apakah ada sesuatu yang putri butuhkan?” tanya sang dayang.


“Aku meminta engkau untuk menyalakan sinyal api ini ke udara ketika aku tidak keluar dari kamar kebesaran selama satu jam” ucap putri Arksa meletakkan benda sinyal api di atas tangan sang dayang.


Dua pasukan jin rahasia yang bersembunyi di sekitar istana selatan menangkap tiga jin yang sedang naik di atas atap kamar putri. Sang jin penjaga melepaskan anak panah lalu mereka berlima saling menyerang satu sama lain. Sementara putri Helena di dalam kamarnya sibuk membaca mantra menghembuskan serangan sihir ke arah api yang menyala. Hembusan kuat sampai ke kamar sang putri Arska.


“Putri!” teriak sang Ratu Jati jajar.

__ADS_1


Hari itu kerajaan tampak rapuh tanpa sosok pemimpin. Sang Raja Jati Jajar sedang berada di perbatasan wilayah untuk menjaga dan menyusun kembali strategi supaya jika ada peperangan kembali kerajaan mereka tidak akan kalah dari lawan karena pasukan sangat tipis. Tapi serangan musuh yang di layangkan di udara melalui sihir berhasil membakar kamar sang putri.


Ratu Jati jajar berteriak dari luar istana bagian selatan. Dia menggerakkan tubuh ingin terjun dan masuk ke dalam api.


“Ratu,hamba mohon jangan lakukan itu” dayang pendamping sang ratu menahannya sambil menangis.


Kemana perginya salah satu dayang yang di tugaskan untuk menyalakan sinyal api?


Sekarang dia sedang mengunci pintu kamarnya rapat-rapat dan mengeluarkan sebuah pisau tajam. Sang dayang menyesali perbuatan atas kecerobohannya yang menyebabkan sinyal api itu tidak menyala di udara.


“Semua salahku, kini sang putri terbakar akibat kebodohan ku!” sang dayang berdiri naik ke atas kursi kecil yang sudah dia persiapkan. Dia masih belum menyadari ada ilmu hitam jahat yang menuju putri Arska dan memadamkan sinyal api tersebut.

__ADS_1


Sang cenayang yang sudah naik ke atas kursi melingkarkan kain yang menggantung bersiap untuk gantung diri.


..._To be continued_...


__ADS_2