Cinta Biru: Runtuh Hati Jin Bersayap

Cinta Biru: Runtuh Hati Jin Bersayap
Puing-puing cerita istana


__ADS_3

“Wahai Ratuku, mengapa engkau seperti menertawakan ku sepeti itu?” tanya Raja melihat sang Ratu.


Raja tanpa henti menatap setiap goresan wajah sang ratu, wajah yang menempel di wajah putri Arska. Mendengar segala aduan dan informasi mengenai Raja Permadi yang merendahkan dirinya di depan pasukan Jati Jajar berkali-kali demi untuk bisa melihat putri mahkota. Raja Jari Jati masih memikirkan hal penyelamatan sang putri, Raja yang rela mencari tumbuhan langka di tebing raksasa utara dengan mengorbankan dirinya.


...🔥🔥🔥🔥🔥...


Kerajaan Yaksa di gemparkan akan Raja Permadi menyelamatkan hidup putri Arska. Raja Permadi masuk ke dalam istana, seisi dayang , pengawal dan para pejabat hanya bisa berlutut memberi hormat kedatangan sang raja. Tidak ada yang berani membantah dan melakukan perlawanan sekalipun yang diselamatkannya adalah musuh terbesar kerajaan.


Dayang utama Raja Permadi tidak pernah melayaninya lebih dalam seperti tugas dayang melayani segala kebutuhan Raja sehari-hari. Raja Permadi memberikan batasan kepada dayang tanpa harus memakaikan baju atau membantu membersihkan tubuhnya ketika mandi. Kini tubuh sang raja sedang terluka, dia tetap enggan meminta bantuan para dayang. Di dalam kamar kebesarannya, dayang pendamping raja hanya bertugas menyiapkan air mandi, pakaian dan mengantarkan makanan juga minuman. Tidak ada pengipasan kipas raksasa atau keperluan lainnya.

__ADS_1


Dari balik pintu, ibu suri memasuki ruangan dan duduk menunggunya. Di hadapannya sudah di siapkan berbagai macam hidangan. Ibu suri berpikir mencampurkan sesuatu di hidangan raja Permadi. Pemikirannya yang seolah semakin tidak waras akibat terlalu nafsu menginginkan kekuasaan.


“Aku jadi mempunyai rencana baru setelah melihat hidangan ini” gumam ibu suri.


Kasim Jou menghampiri Raja yang sedang mengepakkan sayap raksasanya. Kepakan itu menerbangkan benda di sekitarnya. Kasim sedikit terbanting ke dinding di tangkap oleh Raja Permadi.


“Maafkan hamba wahai yang mulia” ucap kasim berlutut.


Kasim Jou membungkuk, dia tidak bisa menahan gerakan kaki untuk menemui sang Raja.

__ADS_1


“Ampunilah hamba wahai Raja yang agung, ibu suri memaksa hamba meminta engkau segera menemuinya di ruangan tengah kebesaran” ucap kasim Jou.


Kasim yang begitu dekat dengan sang raja itu mempunyai sedikit kebebasan untuk menemui Raja Permadi. Tampak pula para tabib yang sibuk menuju ruangan inti raja untuk mengobati luka-luka sang raja. Ibu suri langsung berjalan ikut memasuki ruangan memperhatikan sang tabib yang masih sibuk dengan segala peralatan kesehatannya.


“Nenek, maafkan aku menunggu terlalu lama” ucap sang Raja membungkuk.


“Aku ingin berbicara empat mata dengan mu”


Sang raja meminta seluruh jin yang berada di ruangan harus menunggu di luar. Tubuh, telapak tangan raja di perban. Sayapnya hanya di beri obat luar oleh tabib, sayap raksasa yang terlihat kusut.

__ADS_1


“Jadi, apa yang sudah engkau dapat setelah melindungi putri itu? Kau seperti raja yang tidak mempunyai harga diri di mata para rakyat mu. Apakah engkau buta, kerajaan mereka adalah musuh bebuyutan para leluhur. Dengan sikap mu ini membuat arwah leluhur terdahulu tidak akan tenang” ucap ibu suri melengos.


“Nenek, aku mendapatkan segumpal hati dari sosok jin yang ku cinta. Dia tidak seburuk yang nenek kira, sampai kapan engkau menentang aku dengannya? Aku akan menjadikannya Ratu di hidup ku” ucap Raja Permadi.


__ADS_2