Cinta Biru: Runtuh Hati Jin Bersayap

Cinta Biru: Runtuh Hati Jin Bersayap
Bertahta di hati


__ADS_3

Menangkap putri Arska, mengudara dan kembali bertemu dalam peraduan. Sepi akan menghilang walau sejenak, rindu tidak akan pernah padam di hati sang raja jin bersayap.


Raja Permadi membawa sang putri ke istana Yaksa, Di depan aula kerajaan dia berjalan menggenggam tangan sang putri. Para punggawa dan pejabat membuka mulut sangat lebar, tatapan tajam di sambut dengan mata yang melotot hampir keluar dari kelopaknya. Mereka saling berbisik bahwa raja jin bersayap itu sudah kehilangan akal. Terutama pejabat pertahanan yang mengepalkan dan siap menyampaikan pendapatnya.


Putri di persilahkan sang raja duduk di sampingnya, semua jin terdiam membisu menyaksikan kedatangan negeri musuh yang melegenda sepanjang masa kini berdampingan dan sangat dekat dengan raja Yaksa.


“Langit akan murka!” ucap pejabat daerah berlutut di hadapan raja Permadi.


“Pengawal! Seret dia keluar dan cambuk sebanyak 20 kali karena sudah mempermalukan penguasa Yaksa” perintah raja.


“Raja! Berilah kebesaran hati mu! Raja!” teriak sang pejabat daerah di seret oleh dua algojo.

__ADS_1


Putri merasa sangat canggung dan terkejut akan perlakuan raja Yaksa. Mereka belum berstatus sebagai raja dan ratu penguasa Yaksa ataupun jika hanya sebatas tamu dari negeri tetangga tidak sepantasnya di perlakukan begitu istimewa.


“Raja, engkau sudah mengecilkan harga diri mu sebagai raja di depan seluruh rakyat mu hanya demi satu wanita” bisik putri Arska.


“Wahai ratu ku, jika aku harus memilih satu jin atau seribu jin untuk menjadi sosok yang ku percaya maka aku akan tetap memilih satu jin sekalipun mengorbankan yan lainnya. Hanya kau satu yang ku miliki di dunia ini” ucap sang raja.


“Raja, kata-kata mu itu. Tidak seperti sosok raja yang mempertahankan nyawa demi negaranya” ucap putri menaikkan alisnya.


Perdebatan panjang, bisikan cinta yang di hembuskan sang raja dan kerlingan mata raja jin penggoda itu sukses melumpuhkan sekeping hati putri yang memilik elemen salju dan mata ghaib di negeri jin. Raja Permadi mengacuhkan semua umpatan para pejabat. Dia berdiri dan mengepakkan sayap raksasanya.


“Aku raja Yaksa, raja jin bersayap pemimpin negeri yang menginginkan kerajaan yang makmur dan sejahtera. Hari ini aku mengibarkan bendera perdamaian kepada putri mahkota Jati jajar. Di depan rakyat ku, aku melepaskan segala ikatan permusuhan sepanjang abad lamanya” tegas raja Permadi mengeraskan suara.

__ADS_1


...----------------...


Para utusan putri yang semula akan menuju kerajaan Jati jajar untuk mengabrakan kejadian yang terjadi. Beralih setelah mengetahui putri sedang berada di kerajaan Yaksa. Penyerangan hakim jin Yaksa membuat rencana putri memerintahkan mereka untuk memenggal leher ibu suri secara sembunyi-sembunyi. Hal itu terdengar oleh panglima perang, sosok panglima yang sangat berteman baik dengan raja Yaksa itu langsung berlutut di hadapannya sampai sang putri mendengarkan keinginannya.


Mereka masih di istana yaksa dan menikmati pertunjukan musik dan hidangan perjamuan setelah mengadakan pertemuan di aula. Di sela keramaian, niat putri tidak goyah untu menghabisi sosok nenek bagi raja Yaksa yang ingin mencelakai cucunya sendiri.


“Pengawal pendamping, jangan pergi sebelum putri memberikan keputusan” ucap panglima perang.


“kenapa engkau begitu keras kepala, putri melakukan hal ini karena ibu suri berniat ingin membunuh raja Yaksa” kata sang pengawal.


“Tolong dengarkan permintaan ku.”

__ADS_1


Pengawal pendamping putri tidak pernah berlutut di hadapannya seumur hidup. Pengawal itu terpaksa menurunkan senjata dan berdiri di sampingnya untuk menunggu sang putri


__ADS_2