
Ibu suri yang kejam begitu keji menyiksa putri Arska. Setelah mencambuknya, dia tidak di berikan makanan ataupun minuman selama tujuh hari lamanya. Samar pandangan sang putri menatap sekitar. Hanya air yang paling dia inginkan. Bergetar tubuhnya sulit menegakkan kaki, berdiri meminta pertolongan.Sebab semua musibah ini, aku terlalu rapuh. Tiada lagi tawa ceria sepenggal batas senyum hanya saat sang Raja bersayap mengepak mencuri gelas kaca.
Setelah rembulan tertutup awan, gelap membius menguasai tubuh sang putri mengeluarkan bagian energi ghaib kegelapan akan tumpukan salju di dalam jeruji besi. Para penjaga yang menyadri keanehan di dalam penjara setelah melihat es salju menyebar hawa dingin membuat mereka meninggalkan tempat berjaga di luar.
“Tinggalkan saja dia!” ucap salah satu penjaga melihat putri Arska yang sekarat.
Di luar pulau dataran tinggi , ratu Jati Jajar tidak bisa memejamkan matanya. Hati gelisah seperti ada yang mengganggu hatinya. Mereka harus banyak menyelesaikan berbagai urusan mengenai istana. Sang ratu terduduk lalu menatap kea rah luar jendela.
“Putriku, semoga engkau baik-baik saja” gumam sang ratu menyatukan kedua tangannya.
Raja terbangun melihat sang ratu, dia memeluk tubuh san istri lalu mengusap pelan tangannya.
“Apa yang sedang engkau khawatirkan wahai ratu ku?”
“Hamba lagi memikirkan ananda putri Arska. Bagaiman kabar mengenai istana jati jajar?” tanya sang Ratu.
__ADS_1
“Semua berjalan dengan lanjar, pengawal dan algojo siap siaga menjaganya” ucap sang raja.
“Syukurlah kalau begitu. Wahai Raja, bagaiman pendapat engkau mengenai Raja Yaksa? Dia telah menolong putri kita di dalam medan peperangan” wajah ratu masih memancarkan kekhawatiran.
Raja menggiring sang ratu duduk di tepi ranjang. Dia selalu mengusap dan memperlakukan sang Ratu seakan seperti sepasang kekasih yang baru pertama kali memadu kasih. Kesetiaan Raja Jati Jajar tidak lekang oleh waktu. Sang ratu menghela nafas menyandarkan kepala di dada sang Raja.
“Wahai Ratu ku tercinta, memang benar Raja Yaksa telah menolong putri kita. Tapi kita harus selalu waspada akan semua perbuatannya. Tidak kah engkau melihat kerajaan itu selalu melakukan penyerangan secara tiba-tiba dan mengancurkan berkali-kali benteng istana kita?”
Sang raja dan ratu tidak mengetahui semua tindakan serang selama kepemimpinan raja Yaksa yang baru itu adalah rencana ibu suri dengan segala kejahatannya. Sudah terlalu lama, selama berabad-abab cerita dua kerajaan tidak pernah damai. Terlalu banyak darah para pejuang yang tumpah demi mempertahakankan kerajaan.
...----------------...
Kasim pendamping Raja berlari mengetuk pintu ruangan kebesaran Raja Permadi. Tidak biasanya malam itu sang Raja masih menyelesaikan segala administrasi kerajaan.
“Raja, gawat!” ucap sang kasim terengah-engah.
__ADS_1
Raja meletakkan tinta lalu melihat dengannya.
“Apa yang ingin engkau katakan?”
“Hamba mendengar kabar utusan kita mengenai penculikan tuan putri Arska” kata sang kasim membungkuk.
“Apa? Kenapa kalian baru memberi kabar segenting ini?” Raja Permadi mengambil jubah dan pedangnya.
“”Maafkan hamba, semula para utusan itu mengira sang putri hanya pergi untuk sementara" ucap sang kasim.
Raja menyalahkan dirinya sendiri, sudah tujuh hari dia terlalu sibuk menjalankan tugas sehingga mengabaikan sang putri. Raja Permadi langsung terbang dari jendela ruangan kebesaran.
"Raja, bagaimana dengan pertemuan hari ini kepada para pejabat istana?" tanya sang Kasim.
Gerakan cepat kepakan sayap raksasa raja meninggalkan ruangan menerbangkan benda-benda di sekitar.
__ADS_1