Cinta Biru: Runtuh Hati Jin Bersayap

Cinta Biru: Runtuh Hati Jin Bersayap
Pertemuan Ratu & cenayang Karang


__ADS_3

Kenangan tidak akan bisa di abaikan.


Jangan keterlaluan merayu dan mengatakan segala keindahan itu jika semua bisa menghilang seperti siang berganti malam. Bekas sayatan luka ini belum hilang, membangunkan ingatan ketika hujan datang. Angin hanya sebagai pengganti kesejukan sementara sedangkan asap akibat akibat bakaran terlalu mengudara mengepung segenap wilayah keraguan di hati. Mengistirahatkan hati hanya untuk memberi ruang kekuatan diri menghadapi ilusi tidak bertepi. Lambungkan saja serpihan kepakan sayap itu, kita lihat bagaimana caranya mengudarakan cinta.


...🌿💙🌿💙🌿...


Putri di antar oleh para dayang menuju kamar kebesaran, para tabib yang sibuk memeriksa bersama pengawal kerajaan yang sibuk mondar-mandir menjaga di depan pintu. Ratu Jati Jajar mendekati putri Arska lalu mengusap rambut yang di dekat alisnya. Sang Ratu mengerutkan dahi lalu tersenyum menatap anak semata wayangnya itu. Dia teringat akan perjuangannya demi menanti sang buah hati. Ratu tidak pernah menceritakan hal ghaib yang pernah terjadi semasa mengandung putri ataupun melahirkannya. Tapi ada satu hal yang terus mengganjal di hati dan pikirannya.


Flash back


Di perjalanan menuju sebuah pasar tradisional di negeri jin. Ratu Jati Jajar yang sedang berada di dalam kereta kuda di kagetkan dengan gerakan kereta yang berhenti secara tiba-tiba. Barang-barang sang Ratu berhamburan, dia yang tadinya sedang asik membenahi berbagai aksesoris di sebuah keranjang.

__ADS_1


“Apa yang sedang terjadi?” tanya sang Ratu mengabaikan aksesoris yang tumpah.


Sosok jin wanita yang terluka terlihat sangat sekarat. Dia menghentikan laju kereta sang Ratu lalu berusaha membuka mata.


“Tolong, tolong lah aku.”


Melihat rintihan dan rasa iba yang timbul dari sang Ratu Jati jajar, dia meminta para pengawal memasukkan sosok jin wanita tersebut ke dalam kereta kudanya. Tubuhnya penuh luka, ratu memperhatikan wajah sosok jin tersebut begitu familiar dan tidak terlihat mencurigakan. Beberapa jarak ketika menuju pinggiran kota jin. Pengawal istana dari kerajaan Yaksa meminta para jin yang melintasi tempat itu di periksa. Tidak ada satupun yang bisa terlepas dari ibu suri sekalipun hanya berselang beberapa putaran jam saja.


Saat rombongan kereta ibu suri melewati para pengawal. Kereta mereka di hentikan oleh para penjaga untuk di periksa. Di dalam kereta, sosok wanita itu tampak gusar dan ketakutan. Ratu menutupi dirinya dengan gaun dan jubah besarnya dai balik kursi dan barang-barang lain.


“Tidak tau diri sekali, apakah engkau tau yang di dalam sana adalah ibu dari wilayah Yaksa!” tegas pengawal pendamping dari atas kudanya.

__ADS_1


Ketika dia melihat sang ibunda Ratu dari jendela. Pengawal itu langsung menunduk dan membungkukkan tubuh.


“Maafkan kami yang Mulia Ratu, ini adalah perintah dari ibu suri Yaksa untuk mengejar buronan” kata sang pengawal.


Rombongan kereta mereka kembali melaju meninggalkan tempat tersebut. Tapi dari arah belakang kereta ada darah yang mengalir deras berjatuhan. Darah segar yang terus mengalir menarik perhatian salah satu pengawal.


“Berhenti!” teriak sang pengawal kembali menoleh ke dalam kereta.


Dia melihat Ratu yang tampak kesakitan memegang perut besarnya. Wajahnya pucat menggenggam salah satu pondasi jendela kuda dengan wajah gelisah.


“Ratu.. bertahanlah” kata panglima lalu menolak tubuh sang pengawal Yaksa sampai jatuh ke atas tanah.

__ADS_1


“Minggir!”


Kereta kuda sang ratu sudah sampai di ujung kerajaan Jati Jajar.


__ADS_2