Cinta Biru: Runtuh Hati Jin Bersayap

Cinta Biru: Runtuh Hati Jin Bersayap
Efek setengah ramuan ghaib


__ADS_3

Sang dayang pembersih kamar permadani itu menangis dan meminta ampun. Kepala dayang akan melepaskannya jika dia tidak mengulangi perbuatan itu lagi dan tidak menutup mulut untuk tidak mengatakan apapun yang dia ketahui di dalam kamar kebesaran. Tapi janji itu hanyalah janji belaka, sang dayang melaporkan hal itu kepada kepala kasim sampai terdengar ke telinga sang Raja.


“Cepat cari tau tentang benda itu” perintah sang Raja mengusap janggutnya.


Kepala dayang utama mencari keberadaan sang putri di sekitar istana. Dia teringat tadi pagi, putri sedang melakukan latihan panah di atas tubuh Gangga. Kemudian dia menuju halaman istana, sang dayang telah menunggu selama berjam-jam tapi sang putri belum juga kembali.


...----------------...


“Apa yang sudah ada di dalam isi kepala sang Raja? Kenapa dia menolak wanita secantik putri Helena?” ucap ibu suri.


Di alun-alun istana, Ibu suri sedang menikmati secangkir teh teratai dengan membayangkan kembali wajah putri Helena yang penuh dengan amarah. Lalu dia teringat Huson yang meninggalkan istana dan tidak berpamitan kepada dirinya. Cahaya bercak sinar jingga muncul dari ufuk barat menghiasi langit jin dengan berbagai bentuk awan yang mencengangkan mata. Langit jin tempat lebih terlihat indah setelah banjir besar. Para dayang mengiringi langkahnya menuju ke kamar peristirahatan, dia berharap malam ini akan bermimpi indah dan tidur dengan nyenyak. Namun keinginannya tidak sesuai dengan kenyataan.


Setelah ganti piyama, dia menyuruh dayang untuk menabur wewangian dan lilin aroma terapi di ruangannya. Dia memejamkan mata dan menarik selimut. Beberapa detik berlalu dia mendengar suara teriakan tepat di dekat telinganya.

__ADS_1


“Matilah kau!” suara lengkingan jeritan membuat dia terkejut dan ketakutan.


“Arghh…” jerit ibu suri.


Tok, tok (bunyi ketukan suara pintu)


“Apakah ibu suri baik-baik saja?” tanya kepala dayang berlari masuk ke ruangannya.


Dia berusaha menyembunyikan rasa takut, nafas memburu dan mata menatap sekitar. Dirinya merasa tidak aman, ingin sekali berlari tapi tidur dengan di kelilingi oleh dayang dan pengawal membuat dia tambah tidak bisa tidur atau mencoba untuk tidur nyenyak.


“Lagian, apa jadinya jika para penjaga itu melihat gaya tidurku?” gumamnya mengusap keringat.


Angin kencang, tirai meninggi terbang melambai mematikan cahaya lilin dengan suara-suara aungan serigala dari kejauhan. Ibu suri merasakan bagian lehernya begitu merinding, di merasa ada sentuhan tangan dingin memegangnya. Gerakan cepatnya menghadap belakang.

__ADS_1


“Siapa disana?” ucapnya sambil mencari jubah.


Dia membuka pintu dan memerintahkan para pengikutnya untuk pergi ke suatu tempat. Sekarang sasarannya adalah pura muara hijau yang dia dengar sangat sakti dengan ilmu putih yang mereka punya. Ibu suri melakukan perjalanan kesana untuk meminta pertolongan. Kejahatannya di masa silam membawa dia menemui karma yang harus dia peroleh. Terkadang menjadi sosok tidak perduli itu lebih baik. Tapi ingatan yang telah di hapus dari kekuatan gerhana bulan dan cangkang lembah sungai jin membuat para penghuni pura melupakan asal kematian cenayang Karang.


Pengawal pribadi raja mengabarkan sang ibu meninggalkan istana dan pergi keluar istana membuat tanda tanya bagi raja.


“Cepat ikuti mereka” ucap sang Raja Permadi.


“Apalagi yang akan nenek rencanakan?” gumamnya.


Setelah mengudara bersama Gangga, sang putri di datangi oleh kepala dayang di halaman istana.


..._To be continued_...

__ADS_1


__ADS_2