Cinta Biru: Runtuh Hati Jin Bersayap

Cinta Biru: Runtuh Hati Jin Bersayap
Membentur tajam


__ADS_3

Sedih akan kegagalan di masa lalu, takut cemas apa yang akan terjadi di masa yang akan datang. Cukup berserah pada sang maha kuasa dan cukup mengadu padaNya. Jeruji besi tidak bisa mengurung ukiran orang. Tapi lapang nya dunia bisa terasa sempit, tidak sempit di mata melainkan sempit di hati manusia. Lapang hati, dada dan jiwa. Tiada henti mengucap Ya Robb (Engkau penciptaan, engkau pengatur hidup, yang membolak-balikkan hati manusia).


Langit tampak berbeda ketika kepercayaan runtuh. Bahkan kaca yang sudah pecah walau di satukan kembali tidak akan sama lagi. Mengagumi sinar matahari untuk berharap sebagai patokan penguat jiwa nyatanya hanya akan membakar putik daun rawan di atas tanah yang tandus. Penghianatan dan kekecewaan setipis kulit ari-ari menelusup berusaha menghentikan aliran darah yang hangat. Terkoyak sudah serapuh menghanyutkan bebatuan di lembah ranah ghaib.


Perjalanan hijrah.


......................


Sepertinya peperangan dua kerajaan masih sengit dan memanas. Sama halnya peperangan kobaran api tuan putri Arska Kepada pangeran Permadi. Tombak yang dia layangkan akan menjadi ingatan putri Arska yang begitu membencinya. Serangan hari ini di hentikan ketika mengetahui putra mahkota membunuh salah satu prajurit kerajaan.

__ADS_1


Di Aula kerajaan Yaksa sedang melakukan perdebatan panjang akan serangan yang berikan pangeran Kepada prajurit istana. Banyak Pro dan kontra yang timbul mengenai perbuatan pangeran. Beberapa para menteri mengambil keputusan bahwa hal itu adalah kekeliruan dalam berperang. Karena kejadian tersebut telah mendapatkan titik terang maka pangeran di nyatakan tidak bersalah.


Pembahasan rapat selanjutnya adalah Pelantikan upacara putra mahkota kerajaan dan calon pendamping putri. Kehadiran ibu suri di tengah rapat menambah kesan rumit. Dia duduk di singgasana, tempat yang seharusnya raja menduduki. Ibu suri menekan kata harus untuk secepatnya pemilihan putri kerajaan. Hal ini membuat pangeran menggerut dahi mencari celah untuk mengubah pikirannya.


"Sudahlah, aku tidak mempermasalahkan pembunuhan tidak tepat sasaran itu. Tentukan saja kegiatan acara pemilihan para putri pembesar."


"Nenek, aku masih sibuk memikirkan cara kemenangan sedang engkau seakan ingin melunturkan segala rencana ku. Bagaimana jika kita membahas di lain waktu saja" ucap pangeran merendahkan nada suara.


"Biarkan aku yang mengatur semuanya sampai Raja kembali dari pemburuan di hutan, Ahahahh" tawa ibu suri sambil menepuk-nepuk wajahnya.

__ADS_1


...----------------...


Arska mengepal tangan mengingat kesalahan pangeran Permadi yang ingin membunuh dirinya dengan tombak besar. Pada malam yang larut dia memakai pakaian ninja melompat keluar istana. Dia membunuh para prajurit perbatasan yang sedang mendirikan barak-barak tenda darurat untuk melakukan peperangan kembali esok pagi.


Arska menebas kepala dan tubuh mereka dengan cepat yang membuat keributan besar terjadi. Pangeran Permadi memperhatikan dari angkasa, dia berdiri di samping Gangga yang mengekor Arska di udara. Pangeran yang berwujud mirip Gangga mengeluarkan suara sinyal kedatangan agar terdengar Arska. Seketika Arska memanggil Gangga untuk meninggalkan daerah musuh.


"Putri.." panggilan suara pangeran yang tidak begitu asing menghentikan kepakan gagah sayap Gangga mendarat di pinggir sungai jin.


Arska melompat mendekati pangeran dengan mengarahkan pedang menuju lehernya.

__ADS_1


"Mari kita bertarung.."


__ADS_2