
“Kenapa engkau cepat sekali kembali?” ucap pangeran Darson meletakkan pedang.
Putri Kayana melipat tangan lalu cemberut, dia melengos pergi meninggalkan pangeran. Kerajaan yang luas dan penuh dengan taman bunga peoni itu di manfaatkan sebagai produsi pil opium secara sembunyi-sembunyi. Darson melirik sang adik memikirkan sebuah pemikiran untuk membuat raja Yaksa bertekuk lutut. Darson menuju ruang produksi penyimpanan pil, dia mengambil satu kotak pil opium lalu di bawa ke ruang pertemuan istana.
Raja Kalingga yang sibuk mengurus para selir dan berkelana mencari kesenangan sendiri, membuat Darson lebih leluasa memerintah istana dan segala urusan negara. Dia memanggil beberapa pejabat untuk membicarakan pertemuan ke istana Yaksa. Ada beberapa pejabat istana pilihan, pengawal dan prajurit tempur yang hadir. Mereka melakukan rapat penting untuk melumpuhkan para pejabat Yaksa melalui pil opium, melalui undangan kerjasama dua negera, Darson mengambil kesempatan untuk mendapatkan dua keuntungan.
“Jika usaha ku berhasil maka aku bisa menguasai Yaksa dan adik ku memiliki dengan raja Permadi” gumam Darson.
Di hari itu pula undangan di sebar melalui surat resmi yang berstempel kerajaan Kalingga. Penasehat raja yang langsung menerimanya mengabarkan ke raja Permadi melalui perantara kasim. Raja masih sibuk mengurus tahanan yang lepas akibat ulah ibu suri. Surat tersebut belum terbaca olehnya, kasim belum berani menyampaikan karena raut wajah raja jin itu terlihat sangat marah.
“Bagaimana? Pakah raja Yaksa sudah membaca surat penting itu?” tanya penasehat raja.
__ADS_1
“Belum, aku tidak berani mendekatinya. Raja tidak pernah menunjukkan amarah sebesar ini sebelumnya” ucap kasim pendamping raja.
“Aku serba salah di desak oleh pejabat penting Kalingga. Mereka seolah meneror ku untuk memastikan raja menerima kerjasama dengan mereka” kata penasehat mengusap janggut putihnya.
...----------------...
Wilayah Yaksa di tutup, seluruh kaki tangan ibu suri di masukkan ke dalam penjara . Mereka di beri hukuman cambukan tanpa henti, raja menghukum tegas pada siapapun yang dia ketahui membantu ibu suri dan pelepasan sang pejabat.
Kini dia sendirian, bahkan dayang pendampingnya ikut di beri hukuman. Ruangan kebesaran tanpa cahaya penerangan atau satu batang pun aroma lilin terapi. Ruangan kebesaran yang megah dan indah itu di tutup kain hitam tanpa celah setitik pun cahaya yang bisa masuk di dalamnya. Ibu suri semakin meraung bercampur tangisan, riasannya luntur dan gaunnya kusut. Tiba-tiba tangisannya berhenti menjadi jeritan panjang melihat sosok penampakan setengah badan tanpa kaki, tangan dan kepala melayang menempel di tubuhnya.
“Arggh! Tolong!” jerit ibu suri melepaskan badan berlendir berlumur darah itu.
__ADS_1
“Nenek tua! Ini adalah tubuh yang pernah kau bunuh secara kejam! Apakah kau mengingatnya?” gumam suara di langit ruangan.
“Cenayang Karang! Aku tau itu kau! Pergi!” teriak ibu suri.
“Hihihi! Apakah kau menyukainya? Hihihi”
“Pergi!”
“Kau tidak akan pernah bisa berubah, kehadiran mu di dunia jin hanya untuk bersifat membunuh dan mencelakai. Jika saja kau mau bertobat setelah membunuh ku, maka kau tidak akan seperti ini” gema suara mengerikan menghilang.
Seretan sayap raksasa raja Permadi membuka pintu, dia melihat sang nenek di sudut ruangan memeluk lutut. Raja menariknya memperhatikan keadaan sang nenek yang berantakan, tidak pernah terlintas di pikiran sang raja bahwa sang nenek akan melukainya sedikit pun. Saat mendekatinya, tangan kanan ibu suri menyembunyikan pisau kemudian mengayun menusuk ke pundak kiri sang raja.
__ADS_1
“Nenek, apa yang kau lakukan?” ucap raja membiarkan pisau dan tangan wanita itu lebih membenamkan pisau.