Cinta Biru: Runtuh Hati Jin Bersayap

Cinta Biru: Runtuh Hati Jin Bersayap
Gelombang terjal


__ADS_3

Masa getar gelombang magnet belum terikat namun ada hal yang mengganjal di jantung tuan putri mahkota. Dia memandang kosong bunga indah di hadapan yang di berikan oleh pangeran Tranggala dengan melambung angan-angan kondisi pangeran bersayap yang sudah mengusik relung dunia peperangan sang lembah sungai jin.


Sekuntum bunga sudah tegak berdiri selama satu jam di atas tangan pangeran Tranggala. Putri Arska belum menerima, dia malah memanjat menaiki pohon dengan gaun panjangnya. Rahang mulut pangeran Tranggala terbuka lebar melihat Arska dengan cepat meraih dahan-dahan pohon.


“Putri, apa yang sedang kau lakukan? Awas jatuh, jangan bergerak aku akan naik” ucap pangeran berteriak dari bawah.


Putri Arska terus memanjat menuju ujung pohon, dia sedang menyelamatkan seekor anak kucing hitam. Dengan perlahan Arska meraih anak kucing yang terus berjalan menuju ujung dahan pohon. Sang putri lupa bahwa lengan kanan masih cedera, akibat terlalu banyak bergerak jahitan tertarik oleh daging yang menyatu pada kulit. Arska mengangkat tangan ke atas membuat darah mengalir dari sela jahitan.


“Ssssstt” suara meringis pelan dia kehilangan kendali tergelincir sulit meraih batang di sekitar.


“Wahai putri Aku akan selalu menjaga mu!” seru pangeran Tranggala menangkap putri mempererat menggendong menuju istana.


“Hei tolong turunkan aku!” putri bergerak agar pangeran Tranggala menurunkan secepatnya.


“Lengan mu terluka”


“Tidak sampai anak kucing itu kau selamatkan” ucap Putri melempar tatapan datar.

__ADS_1


Mereka kembali berjalan menuju pohon dan mencari anak kucing yang Arska maksud. Dia sudah berada di pangkal pohon akan tetapi tidak ada apapun disana.


“Putri, aku tidak menemukan hewan yang engkau kehendaki”


“Apa? Tadi aku melihat kucing hitam yang tersesat”


Arska tidak menyadari bahwa kucing itu adalah jelmaan dari siluman ular piton yang sedang melakukan balas dendam akibat sisiknya di curi untuk mengobati Raja. Dia menelusup memasuki istana, melata di antara pilar-pilar yang tinggi dan menebar bisa ular di sepanjang lantai. Para jin yang tanpa sengaja berjalan menginjak bisa panas mematikan tersebut langsung tewas seketika. Jasad-jasad para tentara berbaring di sekitar istana, Panglima perang yang melihat kejadian itu langsung berlari memberikan informasi kepada Raja.


“Kenapa bisa terjadi seperti itu? Panglima cepat panggil seluruh para punggawa dan pejabat istana!” perintah Raja panik lalu meminta kasim untuk mengumpulkan semua jin di aula kerajaan.


“Pangeran terimakasih kau telah membantuku, aku rasa cukup sampai disini saja kau mengantarkan ku” ucap putri memasuki pintu gerbang.


Saat pintu akan tertutup, terdengar suara gong bersahut-sahutan sinyal darurat. Para prajurit berlari berbondong-bondong memasuki istana melewati putri sambil memberi hormat.


“Putri, jangan suruh aku pulang. Aku ingin mengetahui apa yang sedang terjadi dan sebaiknya luka mu harus di obati” kata pangeran Tranggala mengikuti langkah putri Arska.


Di alun-alun istana, tabib masih sibuk merawat luka putri sedang pangeran Tranggala ikut memasuki Aula istana. Dari kejauhan Nanjam langsung memeluk putri Arska dan menangis di hadapan.

__ADS_1


“Wahai putri, kepala ku akan di penggal oleh Raja jika mendapati mu terluka kembali”


“Aku tidak apa-apa Nanjam, kau adalah dayang terbaik yang aku miliki. Ayah akan memaafkan mu dan apa kau sudah menyampaikan surat-surat ku?"


Mendengar ucapan putri, Nanjam mengerutkan dahi. Dia seakan lupa perbedaan dua surat untuk kandidat kerajaan Yaksa dan pangeran Permadi. Nanjam tidak menjawab tapi menunduk bersimpuh menyatukan dua tangannya di depan dada.


“Putri maafkan aku, kau harus menghukum ku sekarang. Aku tidak memberitahu dua surat yang berbeda kepada Gangga”


Kedua surat sampai di menara istana pangeran permadi. Namun kedua gulungan di terima oleh penjaga pangeran dengan sorot mata jin menyala menatap Gangga. Dia memberikan gulungan kepada Raja, di ruangan kebesaran kerajaan penguasa negeri jin kedua sedang membaca surat yang di kirim oleh Arska.


“Pengawal, cepat panggil pangeran ke ruangan ku!”


“Baik Raja”


Pangeran tiba di sambut lemparan dua gulungan dari Raja yang tampak marah. Nafas raja tidak stabil gelagapan. Dia memukul meja kebesaran dan berdiri menarik pedang dari pinggang pengawal. Sebuah pedang tajam berukuran raksasa mendarat di leher pangeran permadi.


“Sekarang kau jelaskan kenapa kau melindungi musuh bebuyutan kerajaan Yaksa? Apa yang sedang kau sembunyikan?”

__ADS_1


__ADS_2