Cinta Biru: Runtuh Hati Jin Bersayap

Cinta Biru: Runtuh Hati Jin Bersayap
Antara rumpai


__ADS_3

Di balik catatan cinta biru:


Aku telah tenggelam ke dasar hati mu, lalu apa yang aku khawatirkan dari basah. Seolah-olah lengkungan mega menegak awan membentang kokoh yang kau janjikan, lalu seketika sudut rintik manik netra menetes demi tetesan yang melelehkan beku hujan. Seikat janji tidak bisa di ukur dengan tumpahan madu belaka. Senyam sepi memikirkan praduga bujukan mu bersemayam di relung penantian.


Cerita baru masih di mulai tapi sudah terdengar di seluruh penjuru negeri. Sedang taburan bintang mengelilingi sang rembulan yang masih sendiri menemani malam. Kadang sinarnya tertutup oleh awan gelap dan kabut bak kumparan tatanan laras gulita.


...----------------...


...🛡️🛡️🛡️...


Raja begitu marah melihat tingkah laku pangeran permadi yang mengecewakannya. Sedikit lagi leher pangeran terkena pedang raksasa tajam jika ibu Suri tidak datang mencegah dengan memeluk pangeran.


“Ibu, biar aku membunuh si penghianat dan pembangkang ini” ucap Raja menahan nada suara yang hampir meninggi.


Dia masih menggenggam pedang dan melotot menunggu kata dan alasan yang keluar dari mulut pangeran. Bahkan pangeran tidak melakukan pembelaan diri, di depan ibu suri dan Raja dia bersujud mengucapkan hal yang membuat Raja menekan dada kanannya.

__ADS_1


“Raja dan ibu Suri, ijinkan aku memilih pilihanku sendiri. Aku telah jatuh hati dengan putri jati jajar” ucap pangeran berkali-kali memohon.


“Dasar anak tidak tau diri!” Raja melempar pedang ke arah samping kanan pangeran.


“Pangeran, luka mu belum sembuh, kemarilah biar nenek antar ke kamar putra mahkota” kata Ibu Suri tersenyum pahit menahan amarah yang sedang dia kendalikan.


Ibu suri memiliki misi yang lain di balik pembelaan kepada pangeran, dia ingin menyatukan perjodohan dengan salah satu anggota pejabat tinggi. Pangeran dan ibu suri menuju paviliun istana, air muka pangeran menekuk dengan pikiran membelalang memikirkan sikap Raja.


“Pangeran dengarlah sifat jiwa muda ketika sedang jatuh cinta, masih bisa di ombang-ambing oleh angin dan ganggu oleh derasnya hujan” ujar ibu Suri menuang cerek cangkir batu.


...----------------...


Di ruang kerajaan, raja memanggil panglima perang terkuat untuk melakukan misi rahasia. Raja memerintahkan huson secara sembunyi-sembunyi untuk menangkap pangeran. Seolah Raja melupakan bahwa pangeran adalah anak kandungnya sendiri. Kesalahan pangeran telah berhianat pada Raja adalah hal yang tidak termaafkan.


“Kau harus memenggal kepalanya atau membawa dia menjauh dari tanah kerajaan Yaksa.”

__ADS_1


“Baik baginda Raja”


Di luar pintu ada yang diam-diam mendengar percakapan Raja dan panglima, seorang dayang Cuko yang di utus oleh Ratu untuk memantau segala gerak-gerik Raja. Dayang berlari berlari mencari ibu Suri yang sedang duduk berdua bersama pangeran. Dia membisikkan sesuatu ke telinga ibu Suri sontak membuat ibu Suri menjatuhkan cerek batu yang berada di tangan.


PRANNGG. Suara pecahan cerek hampir mengenai kakinya.


“Nenek, apa yang sedang terjadi?” tanya pangeran Permadi menjauhkan ibu Suri dari serpihan pecahan.


“Aku akan kembali lagi” ucap ibu Suri meninggalkan pangeran menuju kamarnya.


Dia memerintahkan pasukan untuk melindungi pangeran ketika telah tiba serangan dari Raja. Sedangkan Futon dan Kala ikut serta ingin merampas tahta putra Mahkota saat mendengar desas desus yang beredar.


“Futon, sekarang kita harus menguasai tahta kerajaan karena sepertinya Permadi akan di lengserkan. Hahahha” ucap Kala sambil mengasa pedang.


“Malam ini aku akan bergerak terlebih dahulu bersama bala tentara kerajaan untuk menyerang jati jajar”

__ADS_1


...-To be continued-...


__ADS_2