
“Paman walau bagaimanapun engkau harus menunjukkan sikap hormat kepada Raja Yaksa bukan? Aku tidak ingin menghukum mu karena hal ini” kata Raja Permadi meninggalkan mereka berdua.
Maksud dari keinginan kedua pamannya adalah melakukan penyerangan lebih awal agar kerajaan Jati Jajar hancur. Tapi bagi sang Raja, lelaki terhormat tidak akan menjadi pecundang yang hanya berani menyerang dari arah belakang. Futon dan Huson menyembunyikan rasa bencinya kepada sang Raja dan mencari celah agar sang Raja mengikuti keinginan mereka. Raja Permadi melingak-linguk lalu bergegas menuju aula, dia di ikuti oleh panglima perang dan pengawal pendamping.
“Cepat awasi Futon dan Huson, jangan sampai mereka menyerang kerajaan Jati Jajar sebelum tabu gendang peperangan di nyalakan.”
“Baik yang mulia”
Malam yang penuh keresahan di hati sang Raja, kali ini dia tidak begitu menggebu untuk mengangkat pedang ke wilayah Jati Jajar. Kemarin malam dia mendapat mimpi buruk sampai terbangun mengeluarkan air mata yang sangat deras. Sebagian mimpi yang dia lupakan, dia hanya mengingat sosok jin wanita yang sedang menatapnya begitu lama bersama sebuah pedang di tangannya yang penuh dengan darah.
__ADS_1
“Mimpi melihat darah, apakah artinya itu?” gumam Raja berjalan ke arah jendela.
Di luar sana langit malam alam jin tampak aneh dan mengerikan. Tampak kilatan dan sambaran petir tanpa adanya hujan. Tepat tengah malam yang sunyi ibu suri mengalami mimpi buruk yang menenggelamkan jiwanya di ambang kematian. Pembunuhannya di masa lalu masih tetap berjalan sesuai karma yang di dapat. Kesalahan fatal membunuh jiwa cenayang suci yang tidak berdosa. Pembunuhan dan memfitnah sang cenayang yang paling terkuat. Ada misteri yang belum terkuak akan kehadiran arwah sang cenayang dengan leluasa di malam hari sampai saat ini belum menghabisi sang ibu suri. Dia hanya menghantuinya tanpa membunuh. Jiwa yang masih terbawa semasa hidup, pengajaran dari muara pura muara hijau mengenai pembebasan tanpa membunuh makhluk yang bernyawa sekalipun membuat dosa terbesar. Tapi, kini hatinya yang dingin menjadi berlawanan dan sesekali hadir di dalam mimpi ibu suri untuk menyakiti dan memperingatkannya.
“Arghh… arghh tolong!” teriak ibu suri.
Dia berlari menyusuri lorong panjang sambil mengangkat gaun besarnya. Sebenarnya dia sangat benci mengeluarkan keringat karena itu akan melunturkan hiasan pada wajahnya. Tapi kali ini dia sedang dalam situasi terjepit. Mengangkat ujung gaun dan mempertahankan mahkota di kepala agar tidak terjatuh.
“Tidak! Tidak jangan ganggu aku! Pergi!”
__ADS_1
Nafas ibu suri memburu, di sangat ketakutan. Jika saja dia tidak mempertahankan mahkotanya mungkin dia bisa berlari lebih cepat lagi. Di ujung lorong sudah ada sosok berbaju putih dengan tubuh terpisah menunggunya, wajah yang tidak dia kenali berkali-kali hadir di mimpinya.
“Arghhh…”
Teriakannya kini sampai keluar kamar.
Para dayang terkejut langsung membuka pintu dan membangunkannya.
“Sudah pergilah aku tidak apa-apa” ucap wanita tersebut.
__ADS_1
Dia berkaca di cermin, mengusap keringat dan mengingat lagi wajah hantu wanita di dalam mimpinya. Besok adalah peperangan kerajaan Yaksa namun dia tidak memperdulikan hal itu atau mengantarkan sang Raja keluar pintu istana. Ibu suri membawa beberapa pengawal dan dayang menuju sesosok jin yang memiliki ilmu ghaib di dekat hutan.