
Sang putri menatap sang raja, sangat terlihat asing bahkan begitu mencurigakan atas segala sikap yang dia tunjukkan. Terlebih lagi kerajaan Yaksa yang selama berabad-abad lamanya tidak pernah damai bersama kerajaan Jati Jajar. Meski sudah berganti era masa kepemimpinan raja, tetap dua kerajaan berusaha saling menghancurkan dan membunuh. Pertanyaan Raja terakhir kali tidak di jawab oleh sang putri. Gangga langsung membawanya pergi kembali menuju istana Jati jajar.
“Segala kata-kata yang engkau ucap begitu membingungkan, bagaimana engkau mengatakan hal itu sementara kita adalah sepasang musuh?” gumam sang putri mengudara sambil meletakkan kepalanya di atas punggung gangga.
Raja mengejar Gangga, kepakan sayap raksasa sang Raja mengimbangi kibasan Gangga yang berusaha menjauhinya. Raja terbang lebih cepat lalu merampas dan menarik putri dari badan hewan pemarah itu. Mata tajam Gangga melihat sang Raja sudah berhasil mengambil putri darinya, dia langsung membuka paruh bersiap mencari celah untuk menarik kaki Raja Permadi. Seperti pertandingan saling berebut mangsa, amarah putri menjadi-jadi menggigit tangan sang Raja sampai berdarah.
“Arghh.. ssttt” rintih raja kesakitan menahan gigi taring tajam sang putri.
Putri sambil menoleh melihat sang Raja masih enggan melepaskannya meski darahnya sudah mengalir deras. Menggigit lebih dalam dengan dua gigi taring atas dua gigi taring bawah putri miliki. Raja tetap mempertahankan sang putri lalu menghindari serangan Gangga.Di depan sana ada hutan rimbun dengan pepohonan besar. Itu adalah kesempatan sang raja untuk terlepas dari kejaran Gangga. Raja memasuki wilayah hutan lalu terbang melika-liku di antara pepohonan sampai sesuai rencananya membuat Gangga kehilangan sosok mereka berdua.
Setelah berhasil, Raja mendarat di bawah pohon besar dan menurunkan sang putri. Putri berlari meninggalkan Raja, dia tidak ingin di dekati atau terjebak dalam kepalsuan musuh. Berlari dengan mulut yang berlumuran darah, sosok jin mungil itu mirip seperti vampir atau zombie di malam hari. Putri mengeluarkan kekuatan cahaya putih dari telapak tangan sebagai penerangan. Tepat di hadapannya sang Raja sudah berdiri dan tersenyum menatapnya.
__ADS_1
“Wahai raja, kini engkau seperti hantu gentayangan yang selalu mengejar ku!” ucap sang putri.
Raja memeluk erat tubuhnya, melingkarkan sayap menutupi tubuh sang putri. Dia merasakan tubuh sang putri yang begitu dingin terkena udara malam terlebih lagi jubahnya terlepas ketika berkejar-kejaran dengan Gangga.
“Hangat sekali..” gumam putri.
Lima menit kemudian dia mendorong tubuh sang Raja. Seolah tenaganya itu sangat lemah membuat tubuh sang Raja tidak bergerak sedikitpun.
Raja tidak memperdulikan teriakan sang putri, dia tetap memeluk erat sambil menyusun rambut panjang sang putri yang berantakan.
Putri menggigit kembali lengan sang Raja sampai mengeluarkan darah.
__ADS_1
“Putri ku, sejak kapan engkau jadi sosok jin yang menyerang musuh dengan menggunakan gigi taring?” bisik Raja Permadi menghiraukan rasa sakit akibat gigitan sang putri.
“Lakukan saja tepat di urat nadi ku, sampai aku kehabisan darah sekalipun aku tidak akan melepaskan mu” tambah sang Raja menatap wajahnya.
Tatapan tajam jin penggoda itu membuat sang putri perlahan melepaskan gigitan.
“Lepaskan aku, aku tidak ingin seperti ini” kata putri Arska sambil memalingkan muka.
“Aku akan melepaskan jika engkau tidak pergi dariku” jawab sang raja.
Putri Arska mengangguk setuju, kemudian mereka duduk di bawah pohon tanpa mengucapkan sepatah katapun.
__ADS_1