Cinta Biru: Runtuh Hati Jin Bersayap

Cinta Biru: Runtuh Hati Jin Bersayap
Sihir hitam


__ADS_3

Dia telah berputus asa jika raja telah kembali mengetahui apa yang terjadi dengan sang putri, cenayang akan mengalami kematian sudah di pastikan yang bersalah adalah dirinya.


“Hidup atau tidak, bahagia atau menderita semua aku hanya merasakan pada sebatas mana rasa kasian mu terhadap sesama makhluk hidup. Aku lebih baik mengakhiri hidup” gumam sang dayang.


Malam hari tanpa bintang


“arggh…”jerit dayang pendamping pengganti.

__ADS_1


Jeritan itu bagai suara angin yang tidak di dengar oleh para jin yang sedang berdiri di depan kamar putri Helena. Seolah ruangan kedap udara teriakan dayang pengganti itu setelah menjatuhkan ceret the berbalik memukul-mukul pintu berusaha untuk kabur.


“Tolong!” jeritnya ketakutan melihat gigi taring putri Helena.


Di tangan kanan dan kiri ada gumpalan asap hitam mengepul, simbol tengkorak yang ada di pergelangan tangannya bergerak keluar lalu masuk ke dalam tubuh sang putri. Kesempurnaan sihir dari suku Taraya yang di dapat setelah dia berhasil melahap dayang ke tujuh tepat di ujung tahun dunia jin. Tubuh sang cenayang di tarik, kepalanya di gerakkan miring ke arah kiri. Putri Helena menyedot urat nadi sampai darah habis dan tubuh sang dayang berubah menjadi pucat kekuningan. Setelah puas melancarkan aksi untuk ilmunya, sang putri membakar tubuh sang cenayang menjadi abu lalu dia menerbangkan abu itu ke udara. Bau jasad, udara yang sesak semakin hawa panas yang terasa. Langit jin lebih kacau tidak terkendali akibat pelaku mistis.


Utusan putri Harun yang memantau gerakan putri Helena mengabarkan penyerangan secara sembunyi-sembunyi ke istana Jati Jajar, sosok jin pengintai puri Helena yang sudah terlatih itu juga memberitahu korban dayang pendamping selanjutnya yang di habisi oleh sang putri. Ratu Harun memegang kepalanya, dia memikirkan nasib sang putri Arska jika terkena sihir oleh putri Helena.

__ADS_1


Sosok jin yang di tugaskan untuk mengintai putri Helena itu adalah pengawal pendamping Ratu Harun. Dia membungkuk, membenturkan kepalan di hadapan sang Ratu.


“Wahai Ratu, tugas ku adalah khusuk melindungi engkau. Jika aku meninggalkan istana untuk menolong sang putri, bagaimana dengan keselamatan engkau?” ucap sang pengawal.


“Pergi dan ikuti semua perintahku! Kau tidak tau bagaimana cara Ratu Jati Jajar pernah menyelamatkan ku puluhan tahun lalu” kata Ratu Harun.


Setelah sang pengawal pergi, dia juga bersiap-siap melakukan penyamaran kembali menjadi sosok dayang dan menuju ke istana Jati Jajar. Ratu Harun mengikat simbol batu giok tanda kerajaan jati jajar dan memakai tusuk konde naga pemberian sang Ratu Jati Jajar. Setelah mengetahui bahwa putri Helena ingin membunuh putri Arska melalui sihir hitam, dia memutuskan untuk menyelamatkan putri Arska yang malang. Perjalanannya sendirian menaiki kuda jin, sang Ratu pergi secepat mungkin sampai pada ujung perbatasan dia melihat kobaran api yang begitu menyala.

__ADS_1


“Apa yang terjadi disana?” gumam Ratu Harun.


Semua penghuni istana bergotong-royong royong berusaha memadamkan api. Para dayang menangis melihat sang putri Arska yang masih berada di kamar kebesaran. Dari atas langit terlihat sosok jin bersayap terbang menerobos kamar putri Arska.


__ADS_2