
Tidak tenang pikiran, gelisah hatinya bertebaran ingatan yang sulit di ingat lagi. Dia pernah melihat wajah itu, sama persis dengan Astro. Mengingat perkataan Astro saat akan berpisah darinya.
"Sayang, akan ada sosok yang hadir. Setengah jiwanya adalah aku."
Maharani masih bingung memikirkan semuanya. Kelas telah usai, pikiran terus menerus bercabang hingga perjalanannya menuju ke rumah.
"Paman itu, memang mirip sekali dengan kekasih ku Astro. Tapi dia terlihat lebih tua dan memiliki sayap yang besar" gumam Maharani.
Flashback
Maharani sekarat berada di ruang ICU. Dia melirik terakhir kali ada Astro yang ikut berbaring di atas ranjang yang lain di dekatnya. Astro memakai baju operasi yang seperti dia kenakan. Hari itu dia tidak berpikir bahwa saat terakhir bertemu dengannya.
"Gunting, kapas.."
"Dok, detak jantung pasien berhenti.."
Suara yang hanya bisa Maharani dengar tapi tidak bisa membuka mata. Operasi transplantasi organ tubuh hati dan ginjal berjalan dengan lancar. Namun, ternyata organ baru yang dia miliki adalah milik Astro. Lelaki yang mengorbankan nyawanya sampai menutup mata.
__ADS_1
"Astro..!" jerit Maharani.
Di alam bawah sadar dia berderai air mata, batalnya basah sesekali terdengar suara sesenggukan menahan rasa sakit di hati. Dia menoleh ke arah jam dinding. Waktu menunjukkan pukul lima sore. Pertemuan dengan paman bersayap yang selalu mengganggu tidak bisa dia hindari.
Bersalaman dengan ibu, berpamitan lalu meraih tas selempang. Maharani berlari menuju tepi sungai namun tidak ada lelaki yang sudah membuat janji dengannya.
" Ini salahku, menjadi penghianat Astro! lihatlah aku di permainan oleh yang lain." Maharani berjalan meninggalkan tepi sungai. Dia menunduk tidak sadar menabrak orang yang ada di depannya.
"Paman!"
"Mulai sekarang panggil aku Raja"
"Hanya engkau yang bisa melihat sayap ku, bagaimana aku akan mengijinkan mu pergi?" raja Permadi menggendong Maharani sampai di menuju halte bus.
"Paman, tolong turunkan aku! semua orang melihat kita!" ucap Maharani menggigit lengannya.
"Putri, engkau tidak pernah berubah. Bahkan di dunia ini engkau tetap menggigit ku!" gumam raja lalu menurunkan Maharani duduk di halte.
__ADS_1
"Paman, aku tidak mau pergi terlalu jauh. Ibu ku hanya memberikan waktu sebelum matahari terbenam."
Setelah bus datang, mereka melalui pemberhentian ke salah satu pusat perbelanjaan. Di depan sana ada seorang wanita tua membungkuk memberi hormat kepada mereka. "Lihatlah aksesoris langka ini, kalian tidak akan menyesal membelinya."
Raja mengamati semua benda yang berjejer di atas meja dagangan wanita itu. Salah satu kalung giok putih simbol penguasa Yaksa yang pernah dia berikan ke putri Arska. Dia meraih benda tersebut lalu melingkarkan ke leher Maharani.
"Paman.. aku_" ucap Maharani terbata.
Wanita yang tidak asing, mirip sekali dengan cenayang Han di dunia jin. Dia tersenyum menatap kedua tanpa henti memberikan penghormatan.
Raja menggenggam tangan Maharani masuk ke dalam. Menuju toko buku, raja mengambil lima buku lalu memasukkan ke dalam keranjang sambil melihatnya.
"Paman, untuk apa buku-buku ini?"
"Kemarin buku mu basah, aku tidak ingin engkau kesulitan" jawab Raja menuju kasir.
Dompet sang raja begitu tebal, membuat Maharani berpikir apa pekerjaan lelaki yang ada di sampingnya. Hari-hari yang menganggur membuat dia curiga menatap raja.
__ADS_1
"Paman, sebenarnya apa pekerjaan mu? terlebih lagi aku harus pulang atau ibu akan memarahi ku!"