
Di ruangan keadilan, pejabat daerah yang masih mengenakan baju kebesarannya itu mendapat cambukan sebanyak dua puluh kali oleh algojo kepercayaan sang raja. Bokongnya hampir lumpuh dan tubuhnya seolah perlahan mengalami kematian yang mengenaskan. Di samping sang pejabat daerah telah berdiri kasim raja yang mengawasi proses hukuman sampai selesai. Setelah siap, algojo dan kasim raja pergi meninggalkannya.
Ruangan yang di beri penerangan obor di setiap dinding, di bagian depan di temple kertas yang setiap sel terdapat tulisan sansekerta berisi hari masa tahan dan kejahatan setiap tersangka. Pejabat daerah di tempatkan di tengah-tengah ruangan, sulit baginya untuk bergerak. Di hanya menelungkupkan tubuhnya di atas kayu raksasa tempat dia di beri hukuman.
Menteri pertahanan dan punggawa kekaisaran Yaksa memasuki ruangan keadilan. Mereka menyuap para penjaga dengan beberapa keping perak. Keduanya memakai jubah hitam, mereka menemui pejabat daerah untuk menawarkan persekutuan.
“Apakah aku sedang bermimpi? Dua sosok pembesar Yaksa meringankan langkah menemui pejabat Jati jajar di dalam ruang keadilan” ucap sang pejabat tersenyum menyeringai.
“Kami menawarkan kerjasama untuk memisahkan dua negeri ini agar kembali bermusuhan!” ucap punggawa kekaisaran.
__ADS_1
“Sebaiknya kita membicarakan ini di suatu tempat karena waktu kami disini tidak banyak” ucap menteri pertahanan.
“Hahaha! Di situasi yang sial ini aku tetap saja mendapat keberuntungan! Lalu apa yang akan kalian tawarkan jika aku menyetujui hal ini?” kata pejabat daerah sambil tertawa keras.
“Kami akan memberikan aset seperdua wilayah negara Yaksa dan menjamin keselamatan mu dan keluarga mu jik terjadi kekalahan dalam berperang” ucap sang punggawa.
“Baiklah, aku akan menemui kalian di jalur hutan perbatasan lembah sungai jin pada waktu tengah malam” kata pejabat daerah mengangguk.
Di istana Yaksa sedang di isi kebahagiaan dalam acara perjamuan secara besar-besaran. Putri di panggil oleh dayang pendamping raja untuk memasuki aula kembali. Sementara pengawal dan mendampingnya berbalik arah menunduk berpamitan untuk melaksanakan tugas mereka. Di dalam suara musik yang meriah, raja Permadi tanpa henti memandangi sosok ratu di hatinya yang membuat dia mabuk kepayang. Sekalipun arah putih sudah di hadapan tanpa tersentuh, manik mata raja penggoda itu membuat sang putri terasa rishi dan membalas tatapannya dengan melotot.
__ADS_1
“Putri, seperti itu cara mu memperlakukan raja mu? Kau barus aja kembali setelah meninggalkan aku sendiri” bisik raja Permadi.
“Raja, hentikan sikap aneh mu itu atau atau aku akan menarik pedang dan mengarahkan ke leher mu” Putri meninggalkan Aula.
Raja menyusul tanpa memperdulikan para menteri dan punggawa memperhatikannya. Dia melihat putri sedang berdiri di dekat kolam teratai yang bunganya sedang bermekaran, di dalamnya terlihat ikan mas yang mendekatinya. Putri melepaskan sepatu dan memasukkan kakinya ke dalam air, dia ingin menenangkan pikirannya akan rencana pembunuhan ibu suri hari ini.
“Jika aku tidak membunuh wanita tua itu, maka raja Permadi perlahan akan mati di tangannya. Tapi, jika hari ini raja melihat jasad ibu suri. Dia pasti akan bersedih tanpa membalas semua tindakan kejam ku sekalipun dia mengetahuinya” gumam sang putri.
Raja masih memperhatikannya dari balik pilar, terlihat suasana murung seperti langit yang menggulung awan hitam di atasnya. Putri menyalakan sinyal meriam di udara, panglima dan pengawal berlari mendekatinya dengan pakaian ninja dan pedang panjang di punggung mereka.
__ADS_1
“Apa yang sedang di rencanakan putri?” gumam raja Permadi.