
Cahaya di balik awan gelap. Sinar melintang bergaris terombang-ambing di selipan panorama langit yang terbelah. Sembab mata sosok putri Arska. Dia masih menjalani masa kurungan di dalam menata pencakar langit.
Setelah melihat nyawa raja Permadi yang hampir tiada. Dia jatuh terkulai lemas di tas lantai. "Kapan waktu berpihak pada ku?" Gumamnya.
Air matanya tidak lagi menetes. Dia bahkan mencari pegangan untuk bisa melihat sang raja dari kejauhan. Putri memukul dinding, jemari yang terluka masih enggan dia hiraukan. Tubuhnya semakin tidak bertenaga, sudah satu Minggu dia tidak makan dan minum. Bola mata sayu, pupil mengecil kelopak lingkar menguning. Meski tubuhnya terkurung namun hatinya melalang buana memikirkan nasib sang raja Yaksa yang masih bertahan meski di hujani senjata pasukan jati jajar.
Suara dentuman, ledakan sampai asap mengepul. Ketika putri tidak sadarkan diri, muncullah sinar berwarna hijau. Menyentuh tangannya. Rasa hangat terasa membuat dia samar membuka mata.
...----------------...
Cenayang Han menjelma menjadi sosok dayang istana utama jin. Dia menemui ratu Jati jajar menerobos masuk ke ruangan kebesaran.
"Dayang utama, bukankah engkau baru saja meninggalkan ruangan ini?" Tanya sang ratu.
Sosok cenayang Han menunduk memberikan salam. Dia berjalan mendekati sang raja dengan posisi sedikit mendekat.
"Menjawab yang mulia ratu, hamba ingin menyampaikan kabar dari menara pencakar langit. Putri Arska pingsan dan kini sedang sekarat" ucap nya.
Kaki sang ratu tidak seimbang, dia memegang kepalanya. Pandangan kunang-kunang, dia memegangi pundak cenayang Han yang masih berwujud dayang utama istana.
__ADS_1
"Yang mulia, bertahanlah" ucap sayang Han.
"Aku tidak apa-apa. Cepat panggilkan aku penasehat istana" kata sang ratu.
Cenayang Han berwujud dayang itu pun berlari menemui penasehat istana. Berselang beberapa menit kemudian, putri Arska di bebaskan dan di bawa ke kamar permadani.
Dekrit pembebasan putri Arska di layangkan. Para punggawa dan pejabat tidak berani menentang kehendak dari ratu. Pemberian tahta putri mahkota di beri gelar kembali. Ratu Jati jajar memberikan tahta kuasa sepenuhnya kepada sang putri.
"Ini tidak benar! Negeri selatan istana jati jajar akan porak poranda!" Seru pejabat istana.
Para pejabat dan punggawa saling memandang. Dari pintu emas, penjaga sisik istana utama membawa pedang yang berlumuran darah. Sekujur tubuhnya penuh dengan serpihan bulu. Semua jin terkejut melotot mengeluarkan suara risuh nan ramai.
Penjaga utama membungkuk menurunkan pedang seraya berkata; "Menghadap yang mulia ratu, hamba tidak berhasil menangkap raja Yaksa. Akan tetapi beliau masih di sekitar wilayah istana. Hingga kini
, Raja jati jajar bersama pasukan lain mengepung dan masih mencarinya."
"Lalu, mengapa engkau di penuhi dengan bulu yang berterbangan bersama darah sangat anyir?" Ucap sang ratu.
__ADS_1
"Ketika kami sedang melempar bola api raksasa ke raja Yaksa, tiba-tiba kerumunan berbagai jenis hewan bersayap membentuk lingkaran melindungi sang raja. Ini adalah bekas darah dan sayap mereka" jawab penjaga istana.
"Yang mulia ratu, tampaknya suasana istana sedang tidak aman. Kita akhiri saja pertemuan di aula hari ini" ucap penasehat istana.
"Ya, aku akan melihat keadaan putri Arska kembali" jawab sang ratu.
Pertemuan di aula di bubarkan. Sebelumnya sang ratu berpesan agar mengusir paksa raja jin bersayap dari istana. Tidak ada pertumpahan darah ataupun pemenjaraan sang jin di ruang bawah tanah.
Di luar istana.
Gerakan raja di hentikan oleh penjaga sisik istana. Dia membungkuk memberi hormat, wajahnya sedikit menggambarkan rasa takut. Pendapat ratu dan raja jati jajar saling bertentangan. Akan tetapi dia harus menyampaikan amanat dari sang ratu.
"Raja, yang mulia ratu meminta agar raja jin Bersayap segera di usir ke luar istana tanpa ada pertumpahan darah dan pengurungan" ucap penjaga sisik istana utama.
"Hamba, panglima penjaga meminta agar raja jin itu di kurung atau di bunuh. Dia sudah banyak menimbulkan kerusakan di tanah ini. Mohon agar raja mempertimbangkan nya."
Ketika raja sudah pergi berlalu, panglima perang menahan pedang panglima penjaga.
"Apa yang kau lakukan?" Tanya sang panglima penjaga.
__ADS_1
"kenapa? Apakah kini engkau berkhianat menjadi pasukan Yaksa?" Tanya panglima penjaga.
"Tindakan mu ini, akan memicu banyak pertumbuhan darah sepanjang Masehi! Lihatlah, meskipun dia mempunyai banyak Pelindung, tapi selama masa pemerintahannya. Dia tidak pernah menyerang Jati Jajar. Terlebih lagi, dia sudah menyelamatkan nyawa sang putri" ucap panglima perang.