Cinta Biru: Runtuh Hati Jin Bersayap

Cinta Biru: Runtuh Hati Jin Bersayap
Bilakah masanya


__ADS_3

...Arus nasib dan takdir ...


Dia juga membawa hasil kekayaan alam dan beberapa peti perak untuk di persembahkan sebagai tanda ikatan persahabatan antar dua kerajaan yang selalu berdamai.


“Daku berterimakasih atas segala kebaikan pangeran, tapi alangkah baiknya salah satu tawaran saja yang akan aku pilih. Apakah pangeran keberatan?” ucap sang Raja.


Beberapa jarak dari tempat sang Raja duduk, sosok penasehat istana mendekatinya dan membisikkan sesuatu.


“Maaf jika yang mulia menganggap tingkah ku ini memicu curiga tamu dari kerajaan lain, tapi menerima pasukan dari wilayah lain untuk mendiami posisi benteng kita hanya akan membuat mereka mengetahui strategi perang.”


Pangeran Tranggala melirik penasehat tersebut, dia sudah merencanakan akan membunuh siapa saja yang akan menghalanginya. Begitupun pangeran memberi kode kepada sosok pengawal pendampingnya untuk mengikuti sang penasehat istana dan membunuhnya.


Tidak sampai hitungan jam, suara jeritan dari alun-alun kerajaan terdengar keras. Jeritan para dayang dengan memecahkan gelas-gelas di atas nampan yang mereka pegang sebelumnya. Seisi aula berhamburan memutar badan ke arah belakang ingin mengetahui kejadian apa yang sudah terjadi. Akan tetapi tertahankan dengan pandangan Raja dan posisi duduknya yang belum beranjak dan berpindah.

__ADS_1


“Tenang semuanya!” jerit panglima perang memasuki Aula istana.


Dia memegang kepala putung penasehat istana dan meletakkan di tengah Aula. Seisi ruangan sangat terkejut, para dayang histeris begitupun ibunda Ratu.


“Mengerikan sekali, raja sebaiknya engkau tidak segera menemukan pelaku keji itu!” ucap ibunda ratu memegang kepalanya.


“Ratuku tenanglah, engkau belum sepenuhnya pulih. Kembalilah ke kamar peristirahatan” Raja memerintahkan dayang pendamping untuk mengantarkan sang ratu.


Raja melirik pangeran Tranggala, dia ingat betul percakapan terakhirnya kepada penasehat kerajaan mengenai pangeran itu. Tapi dia tidak mempunyai bukti dan masih ragu jika semua perbuatan tersebut adalah perbuatan pangeran Tranggala. Gerak gerik yang tidak tampak mencurigakan, pangeran terlihat ikut terkejut melihat kepala sang penasehat.


Beberapa waktu lalu


Utusan dari pangeran Tranggala menarik paksa tubuh sang penasehat dari balik pilar menyeret menuju alun-alun dekat kolam teratai. Penyamarannya dengan mengenakan pakaian hitam dan topeng. Dia menebas paksa leher sang penasehat dengan pedang panjangnya. Suara tebasan itu terdengar oleh para dayang yang berlalu lalang. Dia melarikan diri, gerakan yang cepat sampai tidak ada yang mengetahui jejaknya terakhir kali. Sementara itu kepala sang penasehat yang sudah terlepas dari tubuh mengeluarkan darah begitu deras mengalir jatuh ke kolam teratai menjadi kolam darah.

__ADS_1


...----------------...


“Walau bagaimanapun yang mulia Raja menolak, tetap saja pasukan ku akan sesekali ke benteng istana untuk berjaga” kata pangeran Tranggala.


“Kalau itu kehendak mu maka aku tidak bisa menolak lagi” ucap sang Raja.


Pangeran Tranggala bersama pengawalnya menaiki kuda hitam menuju hutan. Dia juga mengutus sosok jin untuk mencari tau mengenai kabar Raja Permadi. Di dalam benaknya masih bertanya mengapa sosok Raja bersayap itu tidak memberitahu penyerangannya saat membawa ibunda Jati jajar.


Sesampainya di hutan dia tercengang melihat pepohonan yang kemarin sempat terbakar kembali menghijau dan asri. Sarang burung, suara desi ular dan hewan lainnya terdengar seperti biasanya.


“Kenapa pertumbuhan hutan ini begitu cepat?” gumam pangeran Tranggala.


..._To be continued_...

__ADS_1


__ADS_2