Cinta Biru: Runtuh Hati Jin Bersayap

Cinta Biru: Runtuh Hati Jin Bersayap
Perbedaan mata angin jin


__ADS_3

Binasalah sosok jin yang berani mencuri waktu, dengan sia-sia menjadi mimpi buruk di dua penguasa ghaib yang sedang membangun ikatan biru. Tidak pandang fajar dan senja, rotasi akan kembali ke titik pusat yang di tuju. Jangan bermain dengan mata ghaib karena kau akan menanggung sendiri akibatnya.


Kepercayaan hanya di katakan seujung kuku jika kelopak bunga yang masih tertutup menjadi kering saat air tidak lagi mengalir dan cahaya matahari enggan menampakkan diri. Rerumputan bukan hanya sebagai penghalang tumbuhan yang sedang ingin tumbuh. Namun bisa saja menjadi teman penghias dan membawa berbagai serat harapan menebar kebajikan. Ini bukan tentang bersama dan selalu menemani, karena yang tampak tidak nyata adanya dengan yang tampak. Berharap rumput itu tidak menjadi gulma dan hama bunga yang berusaha mekar bersama asa.


Ada yang menekan kata pilihan mempercayai sahabat atau teman hidup, tapi ini sebuah keyakinan dan segala percikan api atau penikam pisau yang ingin menebas paksa bunga Edelweiss di puncak larva yang panas. Sisa asap masih mengepul dan menjadi rumput berduri, hujan yang turun masih belum bisa menyiram habis begitu saja. Pisau mana yang harus kembali di pilih untuk berbalik menebas semua tusukan kemarin? tidak dengan kata berlalu dan memaafkan. Karena perihal kemenangan yang sesungguhnya adalah memaafkan musuh yang sudah melakukan kecurangan, menunjukkan ular berbisa mematikan.


Tetesan embun yang menjatuhi dahan dedaunan merah raksasa di negeri jin semakin memenuhi lekukan sekitar. Saat tekanan masa sudah terlalu berat maka air akan tumpah membasahi tanah yang tandus. Musim kekeringan melanda dua kerajaan di saat kedua pewaris kerajaan sedang mengalami guncangan di dua alam. Udara terasa lebih panas dan semakin sedikit kabar panen raya untuk memenuhi kesejahteraan rakyat jin. Raja yang sudah tidak pada tempatnya itu kembali ke kerajaan Yaksa untuk mengirim pasukan dan bala tentara agar secepatnya mencari Raja Permadi. Mantan Raja Yaksa atau ayahanda Raja kedua Yaksa memberikan upeti dan setengah aset kerajaan bagi siapa saja yang menemukan Raja Permadi.


“Tidak perlu repot-repot, Raja Peradi sudah aku temukan. Kau kembali saja ke wilayah mu dan beristirahatlah menikmati masa pensiun” ucap ibu Suri berdiri di samping Raja Permadi.

__ADS_1


“Anak ku, kemana saja kau?” Ratu layana yang hampir berlalu meninggalkan bilik istana itu berlari memeluknya.


Tubuh Raja yang di dalamnya berpenghuni dua sukma. Salah satu sukma yang masih tertidur panjang dan satunya bernama Astro tersebut hampir mengeluarkan bersin mencium aroma bunga aneh yang begitu menyengat rongga hidung. Harum wewangian di negeri jin sangat berbeda di dunia nyata.


“HHaaahh..” patahan suaranya terhenti dengan cepat menutup mulut.


“Ada apa?” Ibunda Ratu memperhatikan dengan seksama.


“Semua ini karena kau yang tidak bisa menjaga anak, dia seperti sedang kehilangan ingatan”

__ADS_1


Mendengar perkataan ibu Suri, mata sang Ratu memperhatikan gelagat aneh Raja dan mengernyitkan dahi.


“Anak ku, katakan siapa yang kini berdiri di hadapan mu?” tanya ibunda Ratu melemah.


“Sudah biarkan Raja beristirahat!” bentak ibu Suri menarik tangan Raja Permadi meninggalkan mereka.


“Ibu tunggu, kenapa engkau bersikap begitu kepada Ratu ku?” kata Raja turun dari singgahsana.


Sorot tajam mata ibunda Ratu semakin menekan amarah kepada Ratu Layana.

__ADS_1


“Lihatlah pemimpin kerajaan Yaksa, kini berbeda dan mengalami amnesia, lalu apakah kau kini menyalahkan dan mau melawan ku?”


__ADS_2