Cinta Biru: Runtuh Hati Jin Bersayap

Cinta Biru: Runtuh Hati Jin Bersayap
Kesetiaan


__ADS_3

Kisah rumit membentang di garis cakrawala akan dunia penuh penguasa Yaksa


Dia tidak mempedulikan setengah jiwa putri Arska mengabaikan segala rasa


Dunia manusia yang fana


Maharani hanya menuang segelas air putih lalu meneguknya. Setelah itu mereka kembali lagi menuju ruang tamu. Raja beranjak dari kursi menuju kamar mengambil sesuatu kemudian kembali duduk di dekat Maharani.


Di tangannya ada sebuah kalung dengan bandul bening. Raja membuka penutup bandul lalu menusuk ujung jarinya dengan pisau. Dia meneteskan darahnya ke dalam bandul hingga memenuhi isinya.


Raja menutup bandul rapat lalu melingkarkan kalung ke leher Maharani.


"Hanya ini yang bisa menjaga mu di alam manusia" ucap raja.


Maharani memperhatikan kalung itu. Ketika dia ingin melepaskan, raja menahan tangannya.b


"Ucapan ku kali ini saja tolong di turuti"


Maharani berwajah murung, dia meraih ponsel mencoba menghubungi kedua orang tuanya namun lagi-lagi nomor mereka tidak aktif.

__ADS_1


"Apa yang harus aku lakukan sekarang?" gumamnya.


"Raja, ada beberapa dokumen yang harus di tanda tangani" ucap Kasim Jou.


Di dunia manusia, segala dokumen kepemilikan harta dan benda harus terperinci. Tidak seperti di dunia jin. Di alam manusia, Kasim Jou seorang yang mengurus segala sesuatunya. Sementara Maharani di ruang tamu tidak tahan menahan beratnya rasa kantuk. Semalaman dia tidak tidur setelah insiden yang mengerikan sampai pagi hari. Maharani terlelap di bahu kursi. Raja melihatnya tertidur membetulkan posisi kepalanya dengan bantal kursi.


Selama berjam-jam raja memperhatikan raut wajah Maharani yang tertidur. Perlahan mata sendu itu membuka mata. Di segera merapikan posisi duduk kemudian berlari ke dapur untuk meneguk air.


"Gawat!" gumamnya berjalan menuju ke arah pintu.


"Mau pergi kemana?" tanya raja mengikuti.


"Baiklah aku akan mengantar" ucap raja membuka pintu mobil untuk Maharani.


Setelah sampai di depan rumah, raja ikut masuk ke dalam halaman. Dia melihat tempat tidur di luar dan terdapat darah yang telah mengering di atasnya.


"Apa yang akan engkau lakukan dengan ranjang itu?" ucap raja.


"Aku tidak ingin menggunakannya lagi, aku akan menunggu kedua orang tua ku untuk membuangnya"

__ADS_1


"Bagaimana jika aku bakar saja? apakah engkau merasa keberatan?"


"Raja, tidakkah engkau melihat di atas sana banyak kabel listrik bergelantungan? kobaran api yang di timbulkan pasti akan sangat besar"


ucap Maharani.


Raja mengangguk setuju lalu mengusap dahi Maharani. "Aku akan membawanya di malam hari dan membakar di kaki bukit"


"Terimakasih.."


Maharani tidak mempersilahkan raja masuk. Dia langsung menutup pintu dan membiarkan raja di luar. "Aku paham sekarang, hal ini engkau lakukan karena di dalam sana tidak ada siapapun. Aku akan siap siaga menjaga mu disini"


"Raja, sikap mu itu. Tidak jauh beda dengan Astro ketika masih hidup. Dia tidak pernah membiarkan ku sedikit pun terluka" gumam Maharani.


Maharani membentang selimut tebal sebanyak tiga lapis di atas lantai. Sinar senja masuk menembus jendela memperlihatkan bayang sang raja bersayap. Maharani tidak menutup tirai dan membiarkan raja dari atas pohon mengamatinya.


"Tidur lah yang nyenyak, aku akan menjaga mu. Aku berharap ingatan mu segera pulih" gumam raja.


...----------------...

__ADS_1


Jangan lupa dukungan favorit ❤️ rate bintang 🌟🌟🌟🌟🌟 vote, like sebanyak-banyaknya 👍, komentar, setangkai bunga mawar 🌹 dan secangkir kopi hangat ☕ Terimakasih salam santun~


__ADS_2