Cinta Biru: Runtuh Hati Jin Bersayap

Cinta Biru: Runtuh Hati Jin Bersayap
Kematian pangeran Tranggala


__ADS_3

Kondisi Gangga tampak sudah membaik. Hewan pemarah itu bahkan sudah mengangkat paruh lalu mendekatkan sayapnya untuk membungkus putri Arska. Saat dayang pita hijau kembali, dia sangat terkejut melihat tubuh putri di bungkus oleh hewan raksasa itu. Tanpa sengaja dia menjatuhkan sebuah wadah yang berisi makanan untuk Gangga.


“Pita hijau, apa yang terjadi dengan mu?” tanya sang putri.


“Lepaskan putri!” ucap pita hijau menarik sayap Gangga.


Bahkan sehelai bulu hewan raksasa itu tidak bisa terlepas olehnya. Dayang pita hijau menangis tersedu-sedu berharap sang putri akan baik-baik saja.


“Tolong kasihani nyawa tuan putri ku. Makan aku sebagai gantinya” ucap dayang pita hijau menutup mata mendekati badan Gangga.


Hewan pintar yang mengerti bahasa manusia itu tampak ingin bermain-main dengan sang dayang. Dia melepaskan tubuh sang putri lalu membungkus badan dayang pita hijau.


“Arghh!” jeritan kuat sang dayang ketakutan.


“Gangga hentikan, sudah cukup engkau menggodanya” kata putri Arska sambil tersenyum.

__ADS_1


...----------------...


Di tengah pengejaran gerombolan pangeran Tranggala, mereka menghadang pasukan pasukan kuda jin. Raja Permadi mengepakkan sayap menyeret tubuh pangeran Tranggala. Di kehidupan ini, dia tidak akan membiarkan sosok jin yang pernah melukai putri Arska di lembah sungai jin itu akan mengulangi perbuatannya lagi. Pangeran Tranggala melempar kekuatan hitam mengenai luka sang raja. Tanpa terkendali dan menunggu lama, sang raja memenggal kepalanya dengan sekali tebasan pedang raksasa miliknya.


Syat. bruk. (Suara kepala putung itu terjatuh di atas tanah)


“Pangeran!” teriak sisa para pasukan telaga hitam menyaksikan kematiannya.


Raja enggan membunuh mereka, dia membebaskan mereka untuk kembali menuju istana telaga hitam. Hari ini, dia telah bersiap jika sekalipun raja telaga hitam akan menyerbu kerajaan Yaksa.


Pendamping raja menepuk pundaknya, dia mengangguk lalu mengerahkan pasukan Yaksa untuk mengikuti arah kepakan sayap raja Yaksa. Strategi perang, tembok pertahanan, pasokan bahan cadangan beserta peralatan perang di persiapkan begitu cepat. Hari ini kerajaan Yaksa di sibukkan persiapan perang untuk melawan puluh ribuan tentara jin. Meski mereka mengetahui jumlah pasukan Yaksa tidak sebanding dengan tentara jin Telaga hitam, hal itu tidak mengurasi rasa semangat atau gentar untuk melawan mereka. Hari itu senja telah tiba. Kawanan pasukan hewan bersayap yang terbang di balik sinar jingga menuju halaman kerajaan Yaksa. Sedikit demi sedikit burung-burung itu mendarat di atas tanah. Seolah tidak memperdulikan para pasukan Yaksa yang berlalu lalang atau mendekati mereka.


“Perintahkan kepada para pasukan agar tidak menyentuh para kawanan hewan bersayap agar mereka tetap berada disana” perintah sang raja.


“Baik yang mulia” jawab penjaga pendampingnya.

__ADS_1


...----------------...


Kaki yang gemetar, langkah yang pendek dengan tubuh membungkuk penuh luka. Ada bungkusan kain yang meneteskan darah di tangannya. Ketika dia menuju aula, semua petinggi kerajaan terkejut ketakutan melihat tetesan darah dari dalam bungkusan kain tersebut.


“Apa yang kau bawa itu wahai prajurit?” tanya salah satu petinggi istana.


“Dimana pangeran Tranggala, esok hari dia akan menerima titah sebagai putra mahkota untuk menggantikan posisi ku” tanya raja telaga hitam.


Pasukan itu tidak menjawab, dia meletakkan bungkusan dengan perlahan lalu bersujud di hadapan sang raja.


“Lancang sekali kau tidak menjawab pertanyaan yang mulia!” ucap petinggi istana.


“Yang mulia, di dalam bungkusan kain ini ada kepala pangeran Tranggala” ucap sang prajurit ketakutan.


“Apa? Siapa pelakunya?” tanya raja Telaga hitam.

__ADS_1


“Raja Yaksa, yang mulia” jawabnya ketakutan.


__ADS_2