Cinta Biru: Runtuh Hati Jin Bersayap

Cinta Biru: Runtuh Hati Jin Bersayap
Hembusan asa


__ADS_3

Kini ku benar-benar terjerat di dalam balutan pusara cinta yang kau beri


Tapi aku masih saja merasakan penat menjalani hari


Tajam tatapan mu membius kerasnya hatiku


Hujan tetap sama dan pelangi yang memamerkan sejuta Aurora menghiasi waktu


Hanya ada sepasang sayap yang ku rindu


Kau masih sama, di seberang lautan yang katanya mencintaiku


..._Putri Arska_...


...----------------...


...Pesona jin bersayap di dalam pucuk muda bunga edelweis...


...----------------...


Putri Arska jika aku pergi dari dunia jin maka aku tetap menyelipkan namamu


Ku akan menyelesaikan segala yang telah aku utarakan di hadapan mu

__ADS_1


Sedang kau masih saja acuh tak acuh


Meriam perang bertabur tumpah


Jika kita di hadapan kan di situasi yang sama maka aku selalu berharap kau dan aku bersatu


Rinai hujan yang kau rasa tidak sebanding dengan hangat pelukan yang aku hembuskan melalui mantra pasti perlahan kau rasa


Seutuhnya diriku adalah milik mu


Teruntuk yang setengah mati ku rindu..


..._Pangeran Permadi-...


Dayang jin terkuat itu tanpa sengaja mengeluarkan sepasang mata memerah memutar kedua bola matanya.


Pranggg..


Kaca jendela pecah seketika di sambut serpihan daun kering memasuki kamar putri. Dayang Nanjam terhentak kembali normal dan menyadari akan perbuatannya.


"A, a, ampun.. maafkan lah aku wahai putri" ucap Nanjam berlutut bergerak ingin menggapai kaki putri namun di tepis dan berjalan mundur.


"Apa yang kau lakukan? sekalipun kesalahan mu tidak termaafkan, kau jangan berlutut dan bersujud di kaki ku. Kau adalah Sahabat ku!" seru putri bergerak mengambil jubah merahnya.

__ADS_1


"Kau bersihkan saja kamar ini, aku ingin menemui Gangga."


"Tunggu putri, apa yang aku katakan jika kau meninggalkan istana?" Nanjam menarik tangan putri Arska dan memelas penuh iba.


Putri menghela nafas dan menyambut tangan Nanjam dengan lembut. Dia ingin sekali mengutarakan mimpinya dan sekarang ingin menemui pangeran Permadi namun pasti Nanjam akan berpikir bahwa putri sedang di hipnotis atau ada perasaan lain kepada Pangeran.


"Aku berjanji akan segera kembali, siapkan saja pemandian air panas dengan taburan tumpahan bunga kehidupan untuk ku."


Mendengar perkataan putri, langsung saja Nanjam semakin erat memegang tangannya. Kali ini dia tidak ingin putri meninggalkan istana, kembali mendapat resiko dan bahaya yang mengintai.


"Lepaskan aku" kata putri.


Tangan kanannya memegang kalung begitu erat. Segala gambaran mimpi yang selalu dia lihat tidak akan pernah salah. Putri meniup peluit sinyal panggilan kepada Gangga. Hewan raksasa kuat, gagah, tampan dan mempesona itu mengibas sepasang sayap yang terlalu kuat sehingga membawa taburan serpihan kaca di segala arah sudut ruangan putri.


"Bagaimana bisa aku membersihkan sampai yang semakin berantakan ini? Gangga apakah kau ingin aku kasih makan pecahan kaca?" tanya Nanjam penuh melihat Gangga yang tampak Acuh.


"Sudahlah aku akan kembali" ucap Putri melompat di atas badan Gangga dan dalam sekejap meninggalkan Nanjam dari kamar putri.


"Putri...!"


...----------------...


Huson mengarahkan pedang ke arah pangeran. Semua pengawal jin yang berjaga sudah dia lenyap kan. Dari balik pintu dia mengendap ke kamar pangeran Permadi, dengan mengarahkan pedang tepat di leher pangeran dia berusaha menebasnya. Gerakan pangeran dengan cepat menghindar, hanya sedikit goresan pada leher yang membuat sobekan mengakibatkan darah bercucuran.

__ADS_1


"Mati lah kau Pangeran!"


__ADS_2