Cinta Biru: Runtuh Hati Jin Bersayap

Cinta Biru: Runtuh Hati Jin Bersayap
Angin di musim dingin


__ADS_3

Setelah dayang istana pergi, putri Arska meminta Nanjam menulis sesuatu di atas kain perca berwarna nila. Sesuai perkataan dan janji, dia akan membalas gulungan surat kerajaan Yaksa, sebuah balasan surat rahasia tanpa nama. Putri selalu mengingat segala janji maupun kata yang dia ucap, walau lengan tangannya telah cedera di buat oleh musuh.


Kepada: Kerjaan Yaksa


Perihal gulungan kandidat putri.


Maka arti tumbuhan yang indah menaiki batas cakrawala, ibarat sebuah bunga yang mempunyai akar, batang dan putik yang harum. Walau semua bunga indah tapi alangkah lebih indah jika bunga tersebut menebar kebaikan dan manfaat kepada sekitar. Sebuah tumbuhan indah yang tegak berdiri tumbuh mengarah ke atas bersama mahkota kebajikan.


...Tanpa nama....


...----------------...


Dengan susah payah Nanjam menulis kata yang di ucapkan putri, jari-jari tangannya sangat kaku karena dia sangat lama tidak menggerakkan pena.


“Sudahkan putri? Rasanya jari tangan ku ingin patah” bisik Nanjam menundukkan kepala.


“Satu lagi..” kata putri sambil menahan tawa.


Nanjam dengan cepat meraih kembali kain perca di meja favorit putri.

__ADS_1


“Tidak untuk kain perca, selembar kertas berwarna hitam saja. Cepatlah Nanjam, ibunda Ratu sudah menunggu kita”


Putri kembali mendikte isi surat tumpahan kerisauan dengan segenap bimbang. Pangeran bersayap itu benar-benar mengacaukan pikirannya.


Kepada: Pangeran Permadi


Perihal : Umpatan segenggam es batu


Bila hujan es bisa membuka dua bola mata ini untuk mengingatkan kembali bahwa kau tetaplah musuh kerajaan jati jajar. Tapi kali ini kau jangan salah paham dengan balasan surat ku yang pertama. Aku hanya ingin mengucapkan rasa terima kasih kepada mu yang telah menyelamatkanku.


...-****Sekian****-...


...----------------...


“Sudah hanya itu, kedua surat ini kau berikan pada Gangga saja untuk terbang ke istana Yaksa."


Di ruang makan sudah tersedia beraneka macam masakan khas kerajaan, tapi terlihat ada orang asing yang duduk di samping Ratu. Putri Arska menghadap memberi salam lalu menuju kursi.


“Ananda, kenalkan dia pangeran Tranggala dari kerajaan telaga hitam”

__ADS_1


Mendengar perkataan Ratu, putri langsung memberi hormat di sambut balasan senyum pangeran Tranggala.


“Alangkah bahagianya aku bisa bertemu tuan putri yang cantik” ucap pangeran memberi hormat kembali.


Putri Arska hanya menaikkan sudut bibirnya dan meraih piring. Tidak ada jawaban sama sekali, siapa yang tahan dengan kedinginan sifat dan hati putri tersebut?


“Jangan bergerak, biar Nanjam yang menyuapi mu”


“Baik ayahanda..”


Setelah acara makan bersama selesai, putri dan pangeran berjalan-jalan di halaman istana. Putri berjaga jarak berdiri Kepada pangeran Tranggala yang selalu menuju arah samping. Putri sesekali memegang lengan kanan. Pangeran Tranggala menggiring dia beristirahat di bawah pohon magnolia putih. Angin sepoi-sepoi menerbangkan rambut indah putri yang membuat pangeran Tranggala semakin menuju jarak dekat.


“Putri, aku tidak mengira kau mau duduk disini, apakah kau tidak takut gaun indah mu menjadi kotor?”


“Tidak masalah, aku sebentar lagi pergi karena ada urusan”


“Kalau begitu, besok aku akan berkunjung membawa obat paling mujarab untuk luka mu” kata pangeran Tranggala tanpa henti memandang putri.


Wajah putri Arska yang datar penuh masam dan dingin. Pangeran Tranggala meraih ujung pohon memetik sekuntum bunga untuknya. Dia menyodorkan bunga indah kepada putri, tangan berotot dan tubuh tegak menghadap putri.

__ADS_1


“Terimalah wahai putri..”


__ADS_2