Cinta Biru: Runtuh Hati Jin Bersayap

Cinta Biru: Runtuh Hati Jin Bersayap
Meriam pembatas waktu


__ADS_3

Jadi sekarang buat aku berpaling saja darimu. Semua ini membuat kalbu Ku terasa semakin sesak dan sangat perih. Lalu apa yang kini harus aku lakukan? Ku beranjak dari dahan pohon bunga Alysum biru, memanen semua kelopak bunga dan mengembalikan semuanya kepada mu. Biru, ku masih meragu.


Awan membentang terpancar cahaya terik menyilaukan mata. Debu berterbangan dan pasir tersapu oleh angin kencang.


Dinding pemisah, jurang terjal, hujan badai atau sejenisnya. Semua cobaan beruntun tetap tidak bisa menghalau arah magnet yang saling bertarikan. Semusim sudah terlewati namun cahaya penumbra masih berhias mengelilingi Langit jin. Ada yang menggangu tidur panjang para pemilik mata Ghaib jin.


Kemarin putri jati jajar kembali melihat para arah gentayangan yang bangkit dari alam kubur menuju dunia jin. Mereka seperti mengincar sesuatu atau memiliki urusan di dunia yang belum selesai sehingga menjadi pengganggu. Salah satunya sosok arwah jin yang terbang menuju istana Yaksa. Putri ingin mengutarakan penglihatannya kepada cenayang Han namun tertunda setelah sepasang sayap raksasa itu menuju padanya.


...----------------...


Raja tersungkur ke tanah, sayap yang lebar itu sudah membuka bungkusan melepas tubuh putri Arska. Sangat lama sekali dia menekan kepala sampai wajahnya begitu pucat. Serangan sihir Ghaib dari suku Taraya terlalu kuat sampai seakan menghantam kepala dan melemahkan tubuhnya. Putri Arska yang sangat terkejut dan begitu panik. Dia mengusap dahi Raja dan melihat hal ganjil dari sorot mata Ghaib yang dia miliki. Seperti ada sinar api yang menyala di atas kepala Raja Permadi.

__ADS_1


Perlahan Arska memegang kobaran api kecil yang terus menerus menyala, dia berusaha memadamkan sampai bau gosong tercium oleh Raja. Sang raja yang tersadar melihat tangan putri bergetar langsung menarik dan menghembus tangannya tanpa henti.


"Putri, apa yang sudah engkau lakukan?" tanya Raja panik.


Setengah tangan putri yang sudah terbakar memerah menimbulkan luka yang sangat parah.


"Arghh, ssttth" suara meringis putri menahan rasa sakit dan bergerak kembali menuju atas kepala Raja.


"Kau__" ucapnya sepatah terhenti masih menahan rasa sakit akibat luka bakar.


"Maafkan aku putri, aku tidak bermaksud membentak mu. Hanya saja aku tidak ingin engkau terluka" Raja yang juga menahan rasa sakit berjalan pelan mendekati nya.

__ADS_1


Raja mendekap tubuh sang putri dan meletakkan kepala di atas pundaknya.


"Cepat buka kalung bintang dan sembuhkan lah luka mu wahai putriku. Aku tidak bisa mengobati luka mu atau membawa mu terbang menuju kolam keabadian" bisik Raja lalu menatap sayu.


"Tidak, aku ingin air penyembuh ini untuk memadamkan sihir api yang menyala itu" tanpa terasa pertahanan bendungan air mata putri menetes tidak tahan melihat rasa sakit yang melebihi di derita oleh Raja.


"Putri, tolong dengar lah permintaan ku.."


Sementara di istana jati jajar.


Mata cenayang Han menyala merasakan hawa panas akibat benturan dua sinar yang seharusnya terpisahkan oleh waktu. Dunia jin yang berusaha menyatukan mereka hari ini sedang di kelilingi oleh hawa udara yang begitu panas.

__ADS_1


"Putri, aku berharap kau harus memikirkan segala perkataan ku sebelum di antara kalian ada yang semakin terluka" gumam cenayang Han berdiri di depan jendela kamar putri mahkota yang masih menjelma menjadi wujud putri Arska.


__ADS_2