Cinta Biru: Runtuh Hati Jin Bersayap

Cinta Biru: Runtuh Hati Jin Bersayap
Menyusun dentuman


__ADS_3

Sub Mengulas balik tatanan kerajaan


Istana Jati jajar yang memiliki tembok tinggi di jaga oleh bala tentara jin raksasa dan algojo bermata merah. Di dalamnya terdiri dari tujuh lantai, ada dua menara yang menjulang tinggi mencakar langit. Ada sebuah telaga biru yang terletak di dalamnya. Setiap kamar-kamar anggota keluarga kerajaan berada di lantai satu sampai lima. Setiap pilar terletak kepala-kepala hewan hasil buruan yang sengaja di gantung sebagai simbol buruan raja, itu merupakan ciri khas kebanggaan tersendiri bagi kerajaan. Tatanan istana yang apik dengan ukiran bernuansa megah. Guci raksasa yang berisi Bunga mawar merah terpajang di area dekat sudut jendela.


Kamar putri Arska terletak di lantai lima, ada yang berbeda setelah kepulangan. Di sudut ruangan ada guci besar yang tidak ikut serupa dengan bunga mawar merah. Dia mengganti dengan bunga Alysum biru. Setelah pertemuan nya terakhir kali dengan pangeran. Seperti ada perasaan aneh yang menginginkan selalu melihat bunga penggambaran senyum pangeran.


"Ah, apakah aku benar-benar sudah hilang kendali?" suara kecil putri yang sedang memandang bunga tersebut.


"Apakah aku harus mengganti lagi? wahai putri, tidak biasanya kau menyukai bunga ini" ucap Nanjam merapikan susunan.


"Tunggulah Sampai bunga itu benar-benar mengering" jawabannya tersenyum memandangi bunga pemberian pangeran Permadi.

__ADS_1


Pangkal rumah sebelah kanan dihuni oleh kamar utama ratu, disusul kamar berikutnya adalah kamar untuk raja dan ratu ketika sedang bertemu. Bilik terakhir biasanya disebut sebagai ujung rumah yang di tempati oleh dayang utama dan di susul kamar berikutnya oleh dayang lainnya. Terkait dengan lorong area dapur umum. Bahkan istana yang luas itu masih terasa sepi. Para pengawal dan panglima yang suka tidur dan berjaga di luar.


Suara tabuhan gendang latihan para prajurit terdengar begitu keras. Putri memandang dari kamar melihat keseriusan mereka untuk menyiapkan segala strategi saat kembali berperang. Ada yang putri Arska khawatir jika suatu saat di hadapan kan lagi oleh kerajaan Yaksa.


"Dan jika masa itu telah tiba maka aku dengan terpaksa mengarahkan pedang ke arah mu, terlebih lagi jika paman mu ingin membunuh ku seperti dia ingin membunuh mu" gumam putri melamun membayangkan hal yang mengerikan.


Kemudian dia menggenggam kalung pemberian pangeran Permadi, hati dan pikiran yang membuatnya kini menjadi berlawanan.


"Baiklah aku yang akan mengantarkan putri" jawab Nanjam memberikan sinyal kepergian.


Nanjam masih memperhatikan putri yang belum berhenti melamun memandang ke luar. Padahal Gangga sudah terbang di hadapannya. Di luar jendela paruh Gangga yang begitu kuat mendekati tangan putri.

__ADS_1


"Sabahatku yang tampan, kapan kau datang" bisik putri mengusap paru Gangga lalu tersenyum mengingat paru yang mendarat di bibir pangeran Permadi.


"Putri, ibunda Ratu dari tadi sudah menunggu di ruang kebesaran" ucap Nanjam mendekat.


"Kenapa kau baru memberitahu ku?"


"Maaf putri.." jawab Nanjam menggelar nafas panjang.


Setelah meninggalkan Gangga, mereka berjalan menuju singgahsana. Semua tampak hening dan memperhatikan kehadiran putri Arska. Disana juga ada pangeran Tranggala, dia memancarkan raut wajah amarah yang menekuk masam melihat putri Arska. Kedua tangan mengepal dan acuh Sampai langkah putri memberi hormat kepada raja dan ratu.


"Raja, ijin kan aku langsung membuka suara. Aku sangat curiga kepada si pangeran keparat itu" kata pangeran Tranggala dengan kesal.

__ADS_1


__ADS_2