Cinta Biru: Runtuh Hati Jin Bersayap

Cinta Biru: Runtuh Hati Jin Bersayap
Semusim pergi


__ADS_3

Jadi, tanah jin tidak akan pernah berubah warna sekalipun air hujan terus menyiraminya. Tumbuhan akan tetap hidup bersama rantai makanan yang berlangsung.


Sosok jin yang hatinya sudah tertutup ilmu hitam itu, setengah jiwa melayang pergi akan rasa hati yang lembut Namun sebagian bayangan ingatan tentang Ratu Rafa kepada dirinya membuat sosok jin setengah monster penyihir itu ingin mencari tau kabar kebenaran kepergian sang Ratu. Dia berlari keluar istana, para dayang berbondong-bondong menyusul langkahnya untuk memayungi sang putri. Sampailah tiba di depan jasad sang Ratu yang akan di bakar.


“Tunggu..” ucap putri Helena.


Wajah sang Ratu berwarna biru, bibir menghitam dengan mata masih terbuka.


Melihat keadaan Ratu Rafa, sang putri kembali ke kamar kebesarannya dan bermeditasi mencari tau siapa sosok yang telah membunuh sang Ratu. Kepala tengkorak hitam bergerak di tangan kananya, dia menginginkan setetes darah untuk menulis dan memberitahu di atas kain hitam siapa yang telah membunuh Ratu Rafa. Putri menuangkan darah segar ke tangannya, simbol tengkorak itu berpindah memberikan jejak sebuah tulisan.


“Dayang utusan Ratu Sesa” Tulisan di atas kain hitam itu telah di baca oleh sang putri. Ia melotot geram lalu membakar kain hitam hanya satu hembusan sihir saja.


Putri Helena memerintahkan para pengawal untuk meletakkan tumpukan kayu bakar di depan kamar Ratu Sesa.

__ADS_1


“Dayang, suara berisik apa itu?” tanya Ratu Sesa dari dalam.


“Menjawab sang Ratu, Suara tersebut adalah suara tumpukan kayu-kayu yang di kirim putri Helena”


“Anak itu, kenapa mencari masalah dengan ku?” gumam Ratu meminta sang dayang memanggil sang putri.


Putri Helena mendobrak pintu kamar Ratu Sesa, dia melemparkan cincin batu giok kepada sang Ratu dengan wajah marah.


“Aku meminta engkau menelan cincin ini dan mengatakan permintaan maaf di depan makam Ratu Sesa!” kata putri Helena berdiri di depannya.


Putri Helena menarik paksa tubuh sang Ratu, mencekik lehernya mengangkat sampai ke atas langit-langit ruangan. Kali ini secara terang-terangan dia menunjukkan kekuatannya di depan semua jin yang berada disana. Para dayang dan pengawal tampak ketakutan dan berlutut.


“Aku akan memberi waktu satu hari agar engkau mengakui perbuatan mu di depan raja, jika tidak aku kan menjadikan mu bagian dari bahan kayu bakar ini” ucap putri Helena pergi meninggalkan kamarnya.

__ADS_1


"Kurang ajar kau Helena! berani sekali kau mengancam ku!" gumam sang Ratu.


Ratu berlari meminta pertolongan ke ruangan kebesaran raja Gurun. Sebelumnya dia menambah sayatan pada lehernya sehingga terlihat luka yang begitu parah.


"Raja, Raja tolong aku!" sang Ratu menghempaskan tubuhnya di hadapan sang Raja.


"Ratu Sesa, apa yang sudah terjadi pada mu? kenapa engkau terluka?"


Raja Gurun memanggil para dayang untuk membantu sang Ratu mengobati lukanya.


Ratu Rafa telah tiada, kini hati Raja gurun semakin gelisah melihat para selirnya seakan dalam keadaan terancam.


"Semua ini perbuatan anak mu, putri Helena. Dia tidak terima atas kematian Ratu Rafa sehingga menuduh ku membunuhnya! Hikss .." tangis Ratu Sesa meraung gerakan tangan kesakitan menahan luka di leher.

__ADS_1


"Pengawal! cepat panggil tuan putri Helena!" perintah Raja Gurun.


__ADS_2