Cinta Biru: Runtuh Hati Jin Bersayap

Cinta Biru: Runtuh Hati Jin Bersayap
Rautan gelisah


__ADS_3

Setelah sampai di depan pintu gerbang kerajaan, panglima perang menarik pedang dari pinggang. Dia bersiap menyerang raja, panglima melompat dari atas tembok menghadap tepat di depan raja jin bersayap itu. Akan tetapi dia tiba-tiba tertegun ketika mengamati tangan kosong raja tanpa membawa senjata perang atau tanda-tanda penyerangan lainnya. Dia tidak memakai jubah perang, pedang ataupun tampak para prajurit dan sekutunya.


“Apa yang sebenarnya di rencanakan oleh raja jin bersayap terkuat ini?” gumam panglima.


Sayap besar raja Permadi yang semula membentang tegak perlahan tertutup terseret langkah kecil sang raja mendekat. Pandangan sorot mata yang tajam menambah kesan menegangkan membuat dia bergerak mundur.


“Jangan mendekat lagi atau prajurit bersiap menyerang mu!” gertak sang panglima.


Raja menghentikan langkah, memberikan sebuah benda simbol kerajaan Yaksa. “Wahai panglima, aku datang membawa perdamaian!” seru raja.


“Sungguh mustahil penerus raja Yaksa terakhir melayangkan perdamaian di sela pertumpahan darah! Lihatlah sayapnya yang besar itu, jujur aku sedikit merinding ketika memikirkan dia mengibas ke arah ku!” gumam panglima mengerutkan dahi.


“Wahai penguasa Yaksa, aku akan membukakan pintu gerbang ini untuk mu jika engkau mengijinkan tangan mu di rantai dengan besi” ucap panglima perang.


Raja pun mengulurkan tangan tanda menyetujui keputusan sang panglima, tapi dari arah barat, pengawal pendamping raja Permadi membelah rantai besi yang sudah memborgol tangan sang raja dengan pedangnya.

__ADS_1


Syatt, syat. (Gesekan suara pedang)


“Raja, tolong hentikan semua ini. Jika engkau di rantai maka sama saja engkau akan menjadi tahanan kerajaan jati Jajar. Jika pada punggawa dan pejabat mengetahuinya maka engkau akan di lengserkan dan di asing kan" kata pengawal pendamping.


“Pengawal, apakah engkau tidak melihat tanda kebesaran ku berada di tangannya? Lantas bagaimana bisa aku di katakan sebagai tahanan?” ucap raja Permadi mengikuti jalan panglima memasuki istana.


Dengan terpaksa pengawal pendampingnya mengikuti langkah sang raja dengan mengamati sisa borgol yang masih berada di pergelangan tangan sang raja.


...----------------...


“Ayah jangan sakiti raja Permadi!” teriak putri Arska berlari tertatih mengangkat gaun kebesarannya.


Para dayang menyusul dengan pandangan menunduk.


“Ayah, ku mohon pada mu. Raja Permadi tidak bersalah!” ucap sang putri kembali.

__ADS_1


Raja menghentikan langkah melotot menatapnya. Nafasnya memburu, tangan menunjuk kea arah dayang utama untuk membawa putri pergi.


“Tidak! Ayah!” putri di bawa oleh para dayang masuk ke dalam istana.


Dia menolak dan melawan, pergi menuju kamar sang ratu. “Ibu, katakana pada ayah untuk berhenti menyerang raja Permadi, dia hadir kesini pasti mempunyai maksud yang baik.”


“Apa yang ananda maksud adalah raja bersayap itu?” tanya sang ratu.


Putri Arska mengangguk, dia berjalan menuju tepi jendela pandangan melihat ke halaman istana.


“Putri apakah engkau sadar bahwa rakyat dan prajurit Jati Jajar menderita akibat ulah mereka? Ribuan tahun sudah peperangan ini di layangkan. Kita tidak akan pernah bisa berdamai dengan kerajaan Yaksa” ucap ratu.


“Ibunda, raja Permadi sudah mempertaruhkan nyawanya untuk ku.”


Putri menggenggam erat tangannya memohon dengan pandangan memelas. Namun sang ratu tetap acuh mengabaikan perkataannya dan meminta sang putri kembali ke kamar kebesaran.

__ADS_1


__ADS_2