Cinta Biru: Runtuh Hati Jin Bersayap

Cinta Biru: Runtuh Hati Jin Bersayap
Taraya


__ADS_3

Sementara ratusan prajurit lain berhasil melukai ular itu dengan senjata tajam yang mereka bawa. Saat akan di bunuh, ular tersebut menghilang bersama salah satu pohon besar yang tumbang.


Banyaknya prajurit Gurun yang di bawa putri Helena memenuhi wilayah hutan yang gelap dengan cahaya obor-obor penerangan. Terutama panglima perang menyalakan obor besar di atas pohon yang membuat hewan-hewan di dalam hutan keluar kesana-kemari mencari tempat perlindungan. Terutama kawanan gagak hitam berkerumun mengelilingi tempat yang tidak terlalu terkena nyala obor pasukan jin. Suasana di dalam hutan menjadi sangat ramai. Jebakan yang di pasang oleh suku taraya hanya mengenai beberapa pasukan saja sedangkan pagar pembatas berduri selalu tumbuh berkali-kali meskipun mereka tebang dan bakar.


“Putri, akar ini tidak bisa putus sekalipun kami mencoba berulang kali” ucap salah satu pengawal.


Putri melihat keanehan pada akar itu dengan mata kepala sendiri, akar yang terus bersambung sekalipun sudah putus. Tanpa putus asa sang putri meminta pasukannya terus membakar akar-akar tersebut. Asap yang mengepul menjalar memasuki wilayah suku Taraya membuat menarik perhatian kepala suku untuk mencari tau sesuatu hal apa yang terjadi di luar sana.


“Putri Helena berani sekali kau masuk ke wilayah ku? Cepat keluar sebelum matahari terbenam atau semua pasukan mu akan musnah” gema suara kepala suku Taraya.


Pandangan putri berkeliling mencari keberadaan asal suara. Dia memerintahkan pasukan agar jangan berhenti membakar dan memotong akar berduri.


“Putri, hentikan perbuatan mu mengganggu ketenangan di wilayah ku atau engkau akan menyesal!” ucap kepala suku Taraya sekali lagi memperingatkan.

__ADS_1


“Hei, mari kita buat kesepakatan. Bukan kah ini tentang putri mahkota Jati jajar, bukankah kau mengincarnya?”


Mendengar ucapan putri Helena, akar berduri terputus memberi jalan pintu masuk menuju tembok pembatas. Sang putri beserta dayang dan panglima memasuki wilayah suku Taraya, ketika dia memberi sinyak agar para pasukan mengikutinya. Tiba-tiba akar duri kembali tertutup memisahkan mereka dengan rombongan sang putri.


“Apa yang akan kau lakukan dengan para prajurit ku?” tanya sang putri.


“Mereka akan aku jadikan tawanan sampai kita membuat sebuah kesepakatan dan memastikan engkau tidak berkhianat” ucap kepala suku Taraya.


Putri Helena berjalan mendekati sang kepala suku, dia tidak mengijinkan salah satu dayang pun untuk menemaninya. Kepala suku Taraya meminta agar sang putri mengulurkan tangannya, di tangan sang kepala suku ada sebuah pisau lancip yang terlihat sangat tajam.


“Setetes darah dari musuh untuk membangkitkan sihir Taraya.”


Pergelangan tangan sang putri di sayat, darahnya di samping pada sebuah wadah seperti batok kepala. Di sekeliling para pasukan mengitari sang putri dengan bersorak sambil melotot.

__ADS_1


“Taraya..” pekik mereka.


Terlihat dari sebuah gumpalan asap hitam ada sosok mengerikan yang muncul. Sang kepala suku Taraya tanpa henti mengucap mantra lalu menyemburkan air ke arah tangan sang putri.


“Dengan ini ikatan untuk membunuh putri Arska lebih cepat terlaksana!” kata sang kepala suku tertawa terbahak-bahak.


Putri Helena melihat bekas sayatan di tangannya sebuah tanda simbol tengkorak. Terasa sedikit panas dan simbol tengkorak bergerak membuat dia ketakutan.


“Jangan takut, sekarang dia sudah menjadi bagian dari diri mu dan membantu mu membunuh putri Arska”


Kepala suku Tara kembali mengucap mantra, dia mengirimkan sihir kegelapan ke istana Jati Jajar.


“Taraya!”

__ADS_1


...----------------...


Terimakasih sudah mampir dan dengan sabar mendukung, jangan lupa tetap tinggalkan jejak dukungan like👍🏻, favorit♥️, vote, komen, rate bintang lima🌟🌟🌟🌟🌟 bunga🌹 dan secangkir kopi hangat ya☕. Salam persahabatan selalu


__ADS_2