
Saat putri sudah melangkah di depan pintu, sang ratu langsung menarik dan memeluknya dengan sangat erat. Dia membisikkan sesuatu kepada sang putri dan memberi jarak agar sang raja tidak mendengarnya.
“Jangan ucapkan apapun tentang pertolongan mu kepada raja Yaksa, atau ayahmu tidak akan memaafkan mu. Begitu pula dengan ibunda yang mengabaikan dan berpura-pura tidak mengetahui masalah ini” ucap sang ratu.
“Ananda akan selalu mengingatnya ibunda” ucap sang putri.
Kemudian putri Arska berlutut dan memberi hormat kepada keduanya.
“Hormat ananda untuk ayah dan ibunda” ucapnya.
__ADS_1
“Putri, engkau berhasil menguasai telaga hitam dan membunuh raja telaga. Katakan pada ayah, atas dasar apa engkau menghabisi mereka?” ucap sang raja.
“Maafkan hamba wahai ayahanda. Sebelum kepulangan pangeran Tranggala, dia sempat mengancam akan melakukan sesuatu untuk Jati jajar” ucap sang putri.
Putri menekan kata Yaksa setelah sang ratu mengingatkannya. Hal itu membuat sang putri menjadi di situasi yang serba sulit. Melihat kondisi tubuh sang putri yang sangat lemah dan luka yang mengalir di sela perban itu membuat sang raja enggan memberi pertanyaan yang sulit kepadanya.
“Putri, ayah akan menunggu sampai engkau benar-benar pulih. Engkau harus memutiskan bagaimana nasib Telaga hitam setelah kematian raja mereka. Ayah tau engkau pasti membebaskan mereka dan membiarka kerajaan itu berdiri Tapi hal itu pastia kan memacu peperangan di hari pembalasan mereka atas kematian raja telaga hitam. Begitu pula jika engkau menduduki sebagai ratu di singgasana, setengah dari mereka pasti akan melakukan penghianatan” ucap sang raja.
“Engkau harus memikirkan sekali lagi, nasib rakyat dan kerajaan mu sendiri. Lusa di halaman istana akan di gelar dekrit sang putri Mahkota. Engkau karus memilih dengan sangat bijak. Tidak ada pembesasan yang engkau maksud setelah raja telaga hitam terbunuh” ucap sang raja.
__ADS_1
...----------------...
Di malam yang panjang, rembulan yang tidak tersenyum dengan cahayanya yang indah. Keheningan dunia jin itu di ganti dengan suara berisik dari para tentara telaga hitam yang berada di depan benteng pembatas kerajaan Jati jajar. Dari kamar kebesarannya, dia melihat beberapa tentara jin itu masih berlalu lalang. Pandangan sang putri beralih melihat seekor burung merpati yang sedang mengepakkan sayap dengan membawa sepucuk gulung surat di kakinya menuju pinggir jendela sang putri.
Putri mengambil surat yang berada di kaki merpati itu, dia mengusap paruhnya lalu menerbangkannya kembali. Putri membaca isi surat yang di berikan oleh sang raja, dia mengamati tulisan tangan raja jin bersayap dan setiap bait kata yang selalu menggodanya.
“Raja, bagaimana aku menghadapi semua ini? Aku juga sangat merindukan mu” gumamnya sambil menatap bintang-bintang.
Hari dekrit putri mahkota itu pun tiba, dia sang putri berjalan menaiki seribu anak tangga untuk mencapai mimbar raksasa yang berada di belakang istana. Gaun merah merah membentang indah sulaman burung merak dan riasan rambut bunga peoni, putri berdiri memberikan dekrit dengan suara lantang sambil menatap tatapan tajam.
__ADS_1
“Dekrit putri mahkota Jati jajar untuk tentara tentara telaga hitam sebagai berikut; Menjadi kan para pasukan telaga hitam berpindah secara resmi menjadi pasukan Jati jajar, memperluas wilayah Jati jajar menjadi sampai ke wilayah Telaga hitam serta memberi jaminan keamanan dan kesejahteraan bagi rakyat telaga hitam yang kini berubah menjadi rakyat Jati jajar.”
“Hidup putri mahkota Jati jajar!” sorak para jin, punggawa dan perdana menteri di ikuti tentara telaga hitam.