
"Salam hormat kepada dayang, daku melihat ada aura hijau yang sedang menyelimuti tubuh engkau. Apakah benar, engkau hanya sosok jin dari salah satu cenayang?” tanya putri Arska.
“Arska, apa maksud mu?” kemudian Ratu Jati Jajar menoleh ke arah sang dayang.
“Gawat, kenapa putri bisa mengetahui aura ini?” gumam Ratu Harun gelisah.
Flashback
Di era jaman pemerintahan Raja ke empat sebelum Raja Harun bertahta, Ibu dari Ratu Harun bekerja sebagai salah satu tabib istana di kerajaan Gurun Pasir. Ketika itu musim kekeringan melanda, para rakyat di wilayah Gurun mengalami suatu penyakit yang bersumber dari udara kering membuat batuk berdarah dan kematian yang mendadak.
__ADS_1
Ibu Ratu Harun sangat kelelahan membatu mengobati penyakit itu bersama para tabib lainnya. Dua tabib istana dan satu tabib biasa di luar istana, mereka tanpa istirahat siang dan malam bekerja berusaha menyembukan rakyat.
Tapi suatu hari karena terlalu lelah bekerja, satu tabib di luar istana menghembuskan nafas terakhir. Yang tersisa hanya dua tabib istana di wilayah kebesaran gurun pasir. Ibu dari Ratu Harun yang bernama tabib San dan tabib Inka mencari obat penawar dari hama penyakit yang terus menyerang rakyat jin.
Titah Raja Gurun ke empat:
Kasim Raja membacakan dengan suara lantang lalu menutup kembali isi gulungan. Tabib San melirik ke arah tabib Inka, dia yang semula bersikap baik kepada tabib Inka tapi setelah mendengar titah Raja pikiran sang tabib berubah serah ingin menduduki posisi menjadi tabib utama. Menjelang sinar di ufuk senja, tabib Inka telah menyiapkan sebuah ramuan yang sudah dia racik untuk mengobati rakyat di hari esok. Tapi diam-diam tabib San mengintai segala gerak gerik tabib Inka, dia berusaha menggagalkan rencana sang tabib ketika mengetahui ramuan telah selesai.
Praghhh..
__ADS_1
Tabib San memukul kepala tabib Inka lalu mencuri ramuan milik tabib Inka. Dia menyeret tubuh sang tabib ke dalam rumahnya kembali lalu membuat ramuan palsu. Wadah yang sama namun dia menukar dengan isi yang berbeda. Setelah itu dia tertawa meninggalkan rumahnya membawa ramuan tabib Inka.
Hari sudah malam, tabib Inka terbangun memegang kepalanya yang teramat sakit. Dia menekan bagian yang masih berdenyut. Tabib Inka mengingat hari ini ada pertemuan di halaman istana kerajaan Gurun. Dia segera berkemas membungkus peralatan kesehatan dan membawa obat ramuannya di atas meja buru-buru menuju istana. Sang tabib Inka memasuki halaman istana, dia menyerahkan ramuan ke Kasim kemudian di letakkan di samping ramuan tabib San.
Dua sosok jin yang sedang sekarat di tidurkan di atas alas. Masing-masing dari mereka di beri obat tabib San dan Inka. Tabib Inka yang tidak mengetahui ramuannya di ganti dan di campur racun oleh tabib San membuat sosok jin yang meminum ramuannya tanpa hitungan detik langsung mengeluarkan muntah darah dan mati seketika. Semua yang yang berada di halaman istana melotot tidak percaya dengan apa yang mereka lihat.
"Tabib Inka, ramuan apa yang telah engkau racik itu?" tanya Raja keempat.
Sang tabib Inka membungkuk lalu bersujud di depan sang raja.
__ADS_1