
...Berdamai dengan musim hujan atau menjalani dengan penuh rasa keikhlasan....
...Seharusnya hal sederhana yang di lakukan adalah tetap membiarkan air hujan yang membasahi tubuh sebagai pereda rasa sakit. Pada mula engkau yang adalah pemberi rasa sakit dan pengobat rasa yang engkau timbulkan....
Gugur dalam peperangan adalah sosok pejuang sejati. Raja Permadi terpaksa menurunkan sang putri di atas perbukitan lembah sungai jin. Kekasih lamanya itu tidak pernah berubah dan tetap keras kepala. Sang putri mengarahkan pedang ke arah Raja. Sorot mata yang lebih tajam dari biasanya dan wajah yang membuat sang Raja tidak bisa berhenti menatapnya.
“Jangan halangi aku untuk bertarung dengan dua jin tadi!” ucap sang putri lalu melompat di antara tebing meninggalkan sang Raja.
Tebing yang curam dan lumut bebatuan dan akar pepohonan yang sudah tidak terlalu kuat menahan tarian demi tarikan. Sang putri tergelincir ke jurang, tubuhnya hampir terbanting bebatuan jika sang raja tidak dengan cepat terbang dengan kencang menangkap tubuhnya. Sekali lagi sang putri meronta dan menggeliat, dia sangat tidak nyaman merasakan sentuhan tangan jin bersayap itu di tubuhnya.
__ADS_1
“Tuan putri, terimalah perasaan ku..” ucap Raja permadi.
Tubuh sang raja di dorong oleh Gangga dari belakang hingga sang putri melepaskan tangannya lalu di tangkap oleh Gangga. Sang putri terbang bersama Gangga menuju medan perang kembali. Bunyi suara halilintar memecah gumpalan awan membentuk hujan yang begitu deras. Jarak pandang Raja untuk memperhatikan segala gerakan putri Arska dari kejauhan menjadi buram. Suara tebasan, saling menyerang dan membunuh. Bencana alam jin meluapkan air sungai yang membanjiri wilayah sekitar. Ketinggian air itu berukuran pohon-pohon yang menjulang tinggi.
“Mundur…” sinyal sofhar di tiup untuk meredakan pertempuran.
Sang putri meminta Gangga untuk mencari sang Ratu dan membawanya ke dataran tinggi. Sekarang dia sedang berada di salah satu dahan pohon raksasa. Melihat hal itu membuat Futon mendapatkan kesempatan untuk menyerangnya dari arah belakang. Kilatan api merah membara yang tidak padam oleh air hujan, Raja melihat kilatan itu dan segera menyelamatkan sang putri.
Dahan pepohonan terbakar terbelah menjadi dua sedangkan Futon sangat murka melihat sang Raja menyelamatkan musuh kerajaan. Raja dan sang putri di kejar oleh Futon, sampai di lembah sungai jin.
__ADS_1
“Raja, cepat serahkan musuh itu sekarang juga!” ucap Futon mengeraskan suara mengarahkan tombak ke arahnya.
“Dia adalah milik ku dan aku yang akan memutuskan untuk membunuhnya dengan tangan ku” kata Raja Permadi berdiri di depan putri Arska.
Di pikiran sang putri, ini adalah kesempatan yang baik untuk membunuh sang Raja. Putri memegang pedang yang berada di pinggangnya tapi dia memikirkan ulang di situasi seperti ini adalah cara pecundang dan penjahat yang tidak berani membunuh musuh dari arah depan. Raja juga sepanjang hari hanya terlihat sibuk menyelamatkan dirinya.
“Kalau begitu kau harus melawan diriku!” ucap Futon menyerang raja.
Dia adalah paman sang Raja yang selalu ikut bertarung melawan musuh, tapi ambisi dan ketamakan memakan jiwanya membuat dia semakin terlihat asing di mata sang Raja. Peperangan pun terjadi, kebencian Futon kepada sang Pangeran terlihat jelas di matanya.
__ADS_1
...----------------...
Jangan lupa tetap dukung author dengan menekan rate bintang 🌟🌟🌟🌟🌟 favorit ♥️ komentar, like, 👍🏻 vote dan serpihan bunga mawar ya🌹 Terimakasih, salam persahabatan selalu.