
Kalau semua sudah berlalu maka kenangan seharusnya menjadi jalan pengingat pulang. Tapi bagaimana jika semua sudah menjadi campur tangan penyihir kegelapan? Seolah putri Arska dan raja Permadi benar-benar akan terpisah..
Saat air kejahatan telah tertelan disana kemungkinan besar hati itu tertutup dan terabaikan. Gemercik cinta biru yang baru saja di rasakan putri mengalami gangguan hebat yang membuat dia melupakan raja kedua Yaksa. Apapun yang pernah terjadi sekejap terlupakan. Selama berhari-hari dia tertidur tidak menunjukkan tanda-tanda apapun walau para tabib istana sudah berusaha menyembuhkan.
Ramuan sihir yang sedang di siapkan oleh dayang saga berhasil terteguk secara mulus masuk ke rongga dan sela-sela aliran darah putri. Seketika wajah putri pucat, terkulai lemas dan menutup mata. Dayang saga sangat panik, tanpa sengaja dia menjatuhkan gelas dan bergetar membetulkan posisi tubuh putri di atas kasur. Dia sangat ketakutan berlari meninggalkan kamar permadani dan mencari pangeran Tranggala.
"Pangeran, pangeran tolong selamatkan nyawaku! putri jatuh pingsan saat minum ramuan dari mu!" ucap dayang Saga berlutut.
Prash.. pragh!
__ADS_1
tamparan keras mendarat wajah dayang Saga sampai mengeluarkan darah di sudut bibir nya.
"Jaga ucapan mu! aku tidak pernah sekalipun memberikan apapun padamu!" bentak pangeran Tranggala berjalan meninggalkannya.
"Pangeran!"
Di sampingnya masih ada gangga yang merekam dan mendengar percakapan mereka. Gangga si hewan pintar itu langsung terbang mengepakkan sayap keluar dari wilayah istana jati jajar. Namun dia begitu kesulitan untuk menerobos benteng berduri tajam pencakar langit yang di buat oleh raja. Bagian sebelah kanan siku sayap Gangga tersobek setelah menerjang paksa pagar berduri. Suara keras Gangga mengerang kesakitan di udara terdengar oleh Anggota kerajaan.
Gangga yang sedang mencari raja kedua Yaksa menyorot jejak raja Tersebut di pinggiran perbukitan terjal. Dia sedang di serang oleh gerombolan suku Taraya yang menuntut hal atas bala bantuan yang pernah mereka berikan. Pengepungan seribu pasukan taraya menyerbu dan menyerang bersama serangan ghaib.
__ADS_1
"Hu, ha, hu..." suara suku Taraya melempar anak panah beracun, serulit dan benda tajam lainnya.
Gangga mendarat di samping raja Permadi dan membantu dengan darah yang masih mengalir pada sayapnya.
"Gangga, apa yang terjadi pada mu?"
Hewan raksasa yang seolah sedang menyampaikan isyarat kepada Raja dengan menggigit ujung jubahnya. Raja yang masih belum mengerti penyampaian Gangga langsung menghindari serangan para pasukan taraya dengan terbang menjauh sejauh-jauhnya. Gangga mengikuti arah raja, dia terbang dengan kepakan lebih cepat mendahului. Saat sampai pada jarak lima kilometer dari istana jati jajar, pangeran menutup luka Gangga dengan dedaunan.
"Gangga, apapun sinyal yang sedang kau sampaikan padaku, aku akan berubah menjadi wujud makhluk lain untuk mengikuti mu agar bisa masuk istana" kata pangeran mengusap paru Gangga.
__ADS_1
Dia merubah diri menjadi wujud angsa dan terbang menembus ujung benteng. Salah satu prajurit jin yang berjaga di perbatasan memperhatikan angsa itu dan menarik anak panah. Lemparan anak panah meleset, di balik sayap raksasa raja menggunakan kepakan menghempas seperti menyapu sehelai daun yang melayang. Raja menuju luar kamar putri, dari luar jendela dia melihat banyak anggota kerajaan berserta ratu dan raja yang sedang berdiri menutupi pandangan.
Apa yang terjadi di dalam sana? gumam raja terbang dengan jarak lebih dekat.