Cinta Biru: Runtuh Hati Jin Bersayap

Cinta Biru: Runtuh Hati Jin Bersayap
Kalung batu giok naga simbol Yaksa


__ADS_3

Melepaskan kepergian Raja Permadi, mengakhiri genggaman senuhan genggaman telapak tangan jin bersayap Itu dengan melepaskan dan memalingkan wajahnya. Sebelum pergi, Raja melingkarkan kalung baju giok symbol Raja Yaksa di leher putri Arska. Mata putri melotot sangat terkejut menerima pemberian sang Raja. Kalung itu bertali hitam, batu giok ukiran naga di baliknya symbol kerajaan Yaksa. Raja menepikan sentuhan hangat di dahi putri Arska.


“Putri, cepat lah sembuh. Setiap putaran waktu ke tujuh di langit jin, aku selalu engkau di lembah sungai berwujud angsa putih” ucap Raja Permadi.


“Raja, engkau harus pergi sekarang. Rombongan Raja Jati Jajar akan segera tiba” ucap pengawal Raja Permadi.


Raja meninggalkan kamar kebesaran putri Arska. Dia melepaskan genggaman tangan, buru-buru terbang mengepakkan sayap melewati tembok raksasa. Dari kejauhan, Raja Jati Jajar melihat rupa jin bersayap yang tidak asing baginya terbang dari istana. Raja mempercepat kudanya, ketika sampai di depan gerbang istana lalu memasuki halaman terlihat keadaan kerajaan yang sedikit berbeda. Banyak bangunan istana yang di perbaiki. Di antara pasukan dan pengawal jati jajar ada utusan Ratu Harun memakai baju prajurit Jati jajar. Raja turun dari kudanya menuju tandu ratu Jati jajar membantunya keluar. Mereka berdua memasuki istana, panglima perang menghadap bertekuk lutut bersujud lalu membanting dahinya hingga terluka.


“Apa yang sedang engkau lakukan wahai panglima?” tanya Ratu membantunya kembali berdiri.

__ADS_1


Tubuh panglima tetap enggan berdiri. Ratu dan Raja membawanya menuju Aula istana, mereka baru saja tiba namun tampak masalah di wajah sang panglima. Begitu pula pengawal pribadi putri yang melakukan hal yang sama. Panglima perang menjelaskan duduk perkara, satu-persatu tanpa ada yang terlewatkan di sampaikan membuat Raja mengepal tangannya.


“Masalah sebesar ini, kenapa tidak di beritahu oleh ku?” tanya Raja.


Raja mengarahkan pedang ke leher sang panglima. Dia begitu marah terlebih lagi sampai mendengar Raja Permadi memasuki kamar kebesaran putri Arska. Sosok jin yang teramat dia percaya ternyata mengkhianati dirinya.


“Engkau adalah suami ku, raja pemaaf yang mengingat lagi segala perjuangan sosok-sosok yang setia di medan perang. Sekarang yang terpenting adalah melihat putri mahkota” ucap sang ratu.


Di kamar putri Arska

__ADS_1


Putri duduk di depan meja rias dengan balutan bunasa indah dan riasan sederana. Putri berusaha menyembunyikan rasa sakit agar sang raja tidak terlalu di benci oleh raja. Melihat kedatangan raja dan ratu, sang putri berjalan menghampiri keduanya sambil memeluk dengan erat.


“Penyemangat hidup ku, oh putri ku yang malang” ucap raja.


“Bagaimana keadaan ananda? Cepat beritahu ibunda bagian mana yang terasa sakit?” tanya ratu memperhatikan raut wajah sang putri.


“Banyak musuh yang ingin mengambil inti atau titik lemah kerajaan jati jajar dengan membunuh putri mahkota, aku sudah kembali dan akan melindungi keluarga kecil ku ini” gumam raja menghela nafasnya.


Menempatkan algojo dan pasukan terlatih dan menyiapkan peralatan perang lebih banyak. Di ruangan kebesaran, raja dan ratu membicakan sosok raja yang mereka dengar telah melindungi putri mahkota. Ratu tersenyum menatap aura marah dan kebencian raja jati jajar.

__ADS_1


__ADS_2