
...Kita pasti kan berpisah.....
Cukuplah sang pencipta menjadi saksi aku mencintaimu
Tiba hari dimana aku harus pergi dari mu
Waktu ku hampir habis, segalanya memang tiada abadi
namun cintaku tetap untuk mu selalu engkau yang memiliki
Ku terbuai dalam lamunan panjang
mengingat lagi pikiran ketika engkau mengucapkan kata sayang
Titik perjuangan ku melawan rasa sakit ini telah menyerah
hari ini kau harus bahagia Walau tanpa aku
hari esok pula kau harus tetap tersenyum merekah
karena senang mu, tawa mu adalah kebahagiaan ku
__ADS_1
Perlahan kau akan melupakan segalanya
hanya aku yang selalu ingat bahkan sampai jasad ini terkubur di dalam tanah yang dingin
Akan ku pastikan engkau harus membenciku
karena dengan itu kau bisa melangkah menghadapi hari tanpa ku
Aku yang selalu menempatkan hati mu khusus di jantung ku yang semakin melemah
Bumi Pertiwi akan selalu berjalan dan berputar sesuai porosnya sekalipun aku pergi bukan?
Di langit biru di atas sana, aku akan lega melihat mu bersuka cita dengan yang lain
...----------------...
Setelah adegan saling mengejar, tanpa terasa putri Arska sudah tidak sadarkan diri dan terjatuh di jurang. Tiba-tiba detak jantung semakin melemah dan pandangan menjadi gelap gulita.
"Putri!" teriak raja dari ketinggian berbalik arah berusaha menggapai putri Arska.
Risau, panik dan menyalahkan diri sendiri. Hal itu lah yang sedang di rasakan oleh raja. Setelah sekian lama dia mencari dan menyusuri hutan, namun tanda-tanda kehadiran putri tidak muncul juga. Sang Surya sudah terbenam di ufuk barak, lapisan bumi ketiga di negeri jin meredup berganti malam yang dingin.
__ADS_1
"Putri!" teriakan raja sepanjang malam menggema suara membangun kan hewan-hewan dan makhluk lain yang menyorot mata-mata jin.
Demikian pula suku mata merah, kepala suku Taraya seakan ikut andil membantu apa yang raja cari. Di kesempatan ini dia mengambil peluang besar untuk mendapatkan keuntungan. Terlebih lagi menimbang mahkota kerjaan Yaksa yang bertengger di atas di kepalanya. Raja mengutus seribu pasukan untuk menyusuri hutan sampai bagian terdalam. Tidak perduli rintangan rawa atau gua penunggu ular piton raksasa.
Sementara pangeran Tranggala berbalik arah dan menyampaikan kabar duka kepada kerajaan jati jajar. Amarah raja semakin memanas mendengar putri sematawayang sedang dalam bahaya besar.
"Anak ku!" ratu terkulai lemas mendapatkan berita yang mengejutkan.
Di dalam hutan yang mencengkam, kedua kerajaan itu saling beradu kekuatan dan menebas satu sama lain. Tidak tanggung-tanggung, rasa jati jajar langsung menghabisi sebagian pasukan raja Permadi yang tampak enggan memberikan perlawanan. Raja yang baru di angkat menjadi penguasa itu di membuat semua bala tentara jin begitu tercengang. Dia menunduk dan memberi hormat kepada raja jati jajar.
"Wahai raja, aku menghadap dengan penuh perdamaian" ucapnya terhentak tegas meletakkan senjata.
"Setelah apa yang sudah kau perbuat dengan putri Arska!" Raja meraih pedang dan menebas punggung raja bersayap itu.
Syattt...
"Raja! Raja!" teriak para panglima dan pasukan menunduk berjalan ke arahnya.
...Biarlah luka dan darahku hari ini menjadi saksi bahwa kerajaan kita tidak lagi bertarung dan saling menyakiti...
Darah yang mengalir tumpah membasahi tanah area hutan mistis. Seketika tanah menjadi gembur dan bergetar. Pepohonan bergerak berbentuk wujud raksasa.
__ADS_1
"Arghhh..."