Cinta Biru: Runtuh Hati Jin Bersayap

Cinta Biru: Runtuh Hati Jin Bersayap
Langkah Raja kembali menuju pura muara hijau


__ADS_3

Panglima langsung menghabisi perompak tersebut dan membawa ibu suri kembali ke istana. Raja Permadi terkejut melihat keadaan sang nenek, dia mengerahkan pengawal untuk mengejar pelaku dan mencari jasad para pasukan Yaksa untuk di semayamkan di dekat dekat istana.


“Kita tidak boleh membiarkan jasad mereka tanpa di kubur secara layak. Walau bagaimana pun mereka adalah para prajurit yang sudah berjuang mempertahankan Yaksa” ucap Raja.


“Baik yang Mulia”


...🔥🔥🔥...


...----------------...


Setelah para tabib mengobati ibu suri, dia masih belum sadar dan terus mengigau. Di dalam mimpi yang penuh dengan rasa ketakutan di datangi kembali oleh wujud mengerikan yang terus mengejarnya. Sosok perempuan berbaju putih itu lebih menyeramkan, di alam bawah sadar dia melihat sosok itu menguliti dirinya sendiri lalu memberikannya kepada sang ibu suri. Darah berwarna hitam kental menetes, mulutnya terbuka lebar menyemburkan darah ke wajahnya.


“Argghh..” jerit ibu suri sangat ketakutan lalu membuka mata.


“Nenek tenanglah, ada aku yang akan menjaga mu.”


Raja membantu dia untuk bangkit untuk meneguk segelas air. Ibu suri menekan kepalanya yang sakit, terasa ada perban yang menggulung. Dia meminta sang Raja mengambilkan sebuah cermin, alangkah terkejutnya dia melihat wajah bagian kirinya yang penuh luka dan memar.

__ADS_1


“Apa yang sudah terjadi? Wajah ku! Argghhh…” teriaknya tidak terima oleh keadaan.


“Nenek, aku akan menyembuhkan wajah mu dengan tabib terbaik. Sekarang pikirkan kesehatan mu dan beristirahatlah” kata Raja merapikan selimutnya.


Raja masih terus berusaha menelan rasa pahit akibat kelakuan sang nenek kepadanya . Dia tidak ingin menunjukkan sikap marah ataupun kecewa. Ketika sang Raja meninggalkan kamar kebesaran ibu suri, wanita tua itu membuka matanya kembali dan mencari-cari kertas dari kepala pura.


“Mana kertas ku? Apakah tertinggal di kereta” ibu suri mencari-cari kertas namun tidak di temukan.


“Pengawal! Pengawal carikan kertas ku atau aku akan memenggal kalian berdua hari ini juga!” teriak ibu suri.


“Raja, apakah yang ibu suri maksud adalah kertas itu?” tanya kasim Jou.


Raja mengangguk, dia meminta kasim untuk memerintahkan kasim Jou menanyakan ke seluruh cenayang untuk apa kegunaan isi mantra dari kertas tersebut. Gerakan pengawal pendamping Raja yang cepat dalam mencari informasi, dia sudah kembali sebelum malam tiba mengatakan bahwa itu adalah kertas yang berisi simbol dari pura muara hijau.


“Raja, tidak ada yang bisa mengetahui isi dan kegunaan mantra selain pura muara hijau” ucapnya menunduk.


Malam telah datang, sang Raja mengudara mengepakkan sayap menuju pura dengan membawa tiga kertas kepunyaan ibu suri.

__ADS_1


“Sambutan kami untuk penguasa Yaksa!” seru penjaga pura dari balik dinding pura.


“Aku ingin bertemu kepala muara hijau.”


“Raja, mohon lepaskan senjata dan masuklah dengan hati yang damai” kata penjaga lalu membukakan pintu.


Pedang raksasa itu dia lepas begitu saja di depan pintu masuk. Dia memasuki ruangan tengah pura di sambut oleh beberapa cenayang yang tampak senang melihat kehadirannya.


“Wahai Raja penguasa Yaksa, apa yang membawa engkau kemari?” tanya kepala cenayang menunduk.


Dia memperlihatkan tiga kertas kepada sang kepala cenayang tanpa mengucapkan suatu pertanyaan atau menjawabnya.


“Benda itu bukanlah keburukan atau pembawa musibah, hanya untuk melindungi sang ibu suri dari mimpi buruknya. Beliau yang memintanya dua hari yang lalu kepada kami” kata kepala cenayang.


...----------------...


Terimakasih sudah mampir, jangan lupa serpihan jejak nya ya salam santun dan persahabatan selalu🙏🏻

__ADS_1


__ADS_2