
Mengancam waktu
Membakar semak belukar
Menguras lautan emosi
Duka, lara di ikat dalam lamunan memikirkan mu
Melepaskan, menginginkan perpisahan
seperti keputusan yang terbaik dalam menyelesaikan sebuah ikatan
...🌿🌿...
...🌿🌿🌿...
“Aku akan tetap pada pendirian ku, mencarikan mu putri mahkota sebagai pendamping Yaksa” ucap ibu suri pergi meninggalkan Raja Permadi.
Bukankah seharusnya peran sosok nenek sebagai tempat pemberi curahan kasih dan sayang. Nyatanya hanya mementingkan ego dan kehendaknya sendiri. Tiada kasih sayang yang ada amarah dan murka. Sang kasim menunduk memperhatikan raut raja, dia tau betul akan pemikiran sang raja kepada ibu suri. Tubuhnya sedang sehat ataupun sakit tetap saja sang nenek enggan memperdulikan.
Ibu suri pergi ke Aula meminta sosok pejabat menuliskan surat untuk kerajaan-kerajaan di negeri sebrang akan pertemuan calon pemilihan putri mahkota. Semula pejabat istana ragu menerima perintahnya lalu menunduk menanyakan lagi keputusan kepada ibu suri yang Nampak begitu marah.
__ADS_1
“Maafkan hamba wahai yang mulia, hamba belum mendapat perintah ini dari Raja Yaksa” ucap pejabat menunduk ketakutan.
“Jalankan saja tugas mu jika tidak ingin aku masukkan ke dalam penjara!” teriak ibu suri.
“Perintah di laksanakan yang mulia ibu suri” jawab pejabat istana.
Kasim Jou yang mendengar pembicaraan dan surat undangan para calon putri mahkota Yaksa membuat dirinya bergegas mencari sang Raja. Di ruangan kebesarannya, sang raja tidak ada disana begitupun di ruangan lain. Kasim berjalan keluar istana menanyakan kepada para prajurit tapi tidak ada yang mengetahui keberadaannya.
...🌿🌿💙🌿🌿🌿...
...Silih berganti hama perusak pohon yang sedang tumbuh...
...Peninggalan-peninggalan bekas racun belum sembuh...
...Menutup kembali hati menghitam kembali menyerang...
...Jeda waktu yang angkuh...
...🌿🌿💙🌿🌿🌿🌿...
Putaran malam ketujuh di dunia jin, masih di dalam menara tinggi.
__ADS_1
Putri Helena mencari korban baru agar mendapatkan darah segar sebagai sesajian kepala tengkorak hitam. Dia meminta para pengikutnya membawakan sosok jin perempuan yang masih belia masuk ke dalam menara. Seratus pengikut setia putri Helena, semua pengikut yang rela mendampinginya sampai mati karena efek mantra dari bulan darah. Aliran darah mereka telah di kendalikan oleh sang Ratu bersama hawa dahaga ingin menikmati darah segar.
Sosok jin yang tinggal di wilayah perbatasan antara kerajaan Yaksa dan Jati jajar menjadi santapan mereka.
“Arghh…” teriakan sosok jin berlari menghindari kejaran salah satu pengawal sang putri.
Sudah dua jin meregang nyawa di hisap darahnya oleh pengawal. Melihat sosok jin yang masih muda itu akan di jadikan umpan untuk sang putri. Sosok jin itu berlari sampai ke lembah sungai jin, di malam hari yang larut dengan tangis dan kaki yang terluka.
“Tolong..!” teriak perempuan tersebut.
Dia menghentikan langkah di tepi sungai, sosok itu akan masuk ke dalam air agar tidak di tangkap oleh tiga utusan putri.
“Arghh…” sosok jin yang melompat ke dalam air itu di tangkap oleh sosok jin bersayap.
Raja Permadi yang sedang menunggu putri Arska sesuai janjinya. Tapi malam ini dia belum melihat putri arska.
“Siapa kau?” tanya wanita itu.
“Hei Raja Yaksa, jangan ikut campur urusan kami. Berikan jin itu!” ucap salah satu utusan putri Helena.
“Pergilah atau aku akan menghabisi kalian!” ucap raja mengepakkan sayap mengibas kuat menggulung angin menghempaskan tubuh mereka sampai terjatuh.
__ADS_1
..._To be continued_...