Cinta Biru: Runtuh Hati Jin Bersayap

Cinta Biru: Runtuh Hati Jin Bersayap
Guncangan kerajaan Jati Jajar


__ADS_3

Keputusan Ratu Sesa menunggu hari esok, dia mendengarkan perkataan Ratu Harun. Para jin yang berada di halaman istana bubar dan kembali lagi tepat saat matahari terbit. Di ruangan kebesaran dayang pendamping Ratu Sesa membisikkan sesuatu bahwa menurut kabar dayang pendamping putri Helena sudah menghilang sejak kemarin malam dan tidak meninggalkan istana.


“Lalu kemana perginya dayang itu?” tanya sang Ratu.


“Hanya itu saja yang saya ketahui wahai Ratu.”


Malam yang sepi, kabar keributan di halaman istana menggetarkan hati sang Raja yang tidak bisa terlelap di malam itu. Dia memikirkan penyerangan ke kerajaan Jati Jajar seperti menyalakan sulut api. Belum pernah terpikirkan olehnya untuk menyerang kerajaan yang bersahabat itu terhitung Raja Jati Jajar tidak pernah mengusik kerajaan Gurun.


“Memberi hormat kepada Raja, hamba datang untuk menanyakan strategi peperangan di hari esok” ucap pangeran Danel yang sudah bersiap dengan baju perang.


Raja menyerahkan sebuah pedang yang terbuat dari besi putih untuk pangeran Danel.


“Aku tidak ada niat membunuh Raja Jati Jajar, hanya saja aku mendengar kerajaan itu di lindungi oleh Raja jin bersayap. Engkau aku tugaskan untuk membunuh titik pusat benteng pertahanan kerajaan itu di garis depan” ucap sang Raja.

__ADS_1


“Perintah Raja akan aku laksanakan dengan senang hati.”


Pangeran Danel menerima pemberian pedang besi putih. Pedang yang bisa menembus kulit atau tubuh jin terkeras sekalipun.


Di kerajaan Jati Jajar kembali terjadi peperangan


Bunyi sofhar berkumandang, gendang dan sinyal kabar peperangan dari musuh tidak membuat gencar Raja Jati Jajar. Tentara perang mereka hanya tersisa sedikit akibat perang kemarin, Raja mengadakan rapat dengan para panglima perang dalam menghadapi pasukan Gurun yang jumlahnya mencapai ribuan.


“Sekalipun jika kita mengalami kekalahan di hari esok, maka kita mati dalam keadaan berkorban untuk tanah Jati Jajar” ucap sang Raja memberikan semangat.


“Panas sekali, aku ingin mandi” ucap sang putri mengipasi tubuhnya


Di samping kiri dan kanan para dayang mengikuti gerakan sambil mengipasi dengan kipas besar tapi dia tidak merasakan angin segar mengenai tubuhnya.

__ADS_1


“Panas sekali…” putri Arska bersiap menuju kolam pemandian.


Biasanya dia menggunakan air hangat untuk berendam, tapi kali ini dia memerintahkan para dayang untuk mencampurkan air es di dalam kolamnya.


“Putri lihatlah tubuh putri sudah terlihat pucat dan bergetar, apakah putri tidak merasa kedinginan?” tanya salah satu dayang mendekatinya.


Sihir yang di kirim putri Helena sangat kuat setelah dia mengisap darah segar jin. Tapi tiba-tiba sihir itu menghilang, cahaya putih dari kening putri Arska menyala menstabilkan suhu tubuh putri kembali membuat dia merasakan dingin yang tidak tertahankan.


“Dingin sekali, tolong bantu aku keluar dari sini” ucap putri Arska.


“Kenapa sihir ku menghilang? Siapa yang sudah membantu putri terkutuk itu?” gumam putri Helena.


Sepanjang malam putri Helena mengucap mantra mengasah ilmu hitam kepala tengkorak yang dia dapat dari kepala suku Taraya.

__ADS_1


..._The next episode_...


__ADS_2