Cinta Biru: Runtuh Hati Jin Bersayap

Cinta Biru: Runtuh Hati Jin Bersayap
Segala yang di perjuangkan


__ADS_3

Zaman di masa negeri bumi


Sesekali Astro menepuk punggung, seolah ada luka yang sangat menyakitkan tepat punggungnya. Pernah di suatu malam yang hening, dia berteriak sendiri di kamarnya hanya karena tidak tahan


Rumah itu pernah terisi dengan keceriaan dengan penuh hangat. Semua berubah seiring berjalannya waktu, kepergian keluarga dan kesibukan masing-masing membuatnya juga memutuskan untuk melamar pekerjaan di luar kota. Tepat hari ini di musim gugur, Astro tampak sedang sibuk mengemasi pakaian dan peralatan pribadi miliknya di dalam dua buah koper. Di depan pintu sudah tampak ayahnya sudah tersenyum lalu menepuk punggungnya.


“Astro, ayah berpesan agar engkau memiliki sikap yang lebih dewasa lagi, berjiwa kuat, selalu mengingat yang Maha Kuasa dan suatu hari jik ada wanita yang engkau sayangi maka engkau harus menjaga dan menyayanginya sekalipun sampai tetes keringat penghabisan” ucap ayahnya Astro.


Perpisahan terakhir itu di iringi dengan rangkulan hangat sampai melambaikan tangan. Pria lajang yang terlalu matang itu di amati oleh ayahnya sampai tidak lagi Nampak jejak langkah dan bayangannya. Berjuang hidup di kota besar, beberapa tahun berlalu dia masih memegang teguh segala nasihat orang tuanya. Terutama ibunya yang selalu meminta dia untuk bersikap lembut, menjadi pemimpin yang mencintai dan menyayangi. Contoh nyata sosok sang ayah yang selalu setia hingga menua bersama.

__ADS_1


Pertemuan dengan Maharani, hidup di kota besar sambil memperjuangkan cintanya. Maharani sosok wanita yang telah dia perjuangkan dalam berbagai reinkarnasi.


...----------------...


Setelah terjatuh, sang putri segera di evaluasi oleh pengawal pendamping dan panglima penjaganya. Akibat cuaca yang semakin ekstrem dan kondisi sang putri melemah. Gangga terpaksa mereka tinggalkan di pinggir hutan, sang pendamping putri menutupinya dengan dedaunan dan rerumputan yang rimbun. Akan tetapi sebagian sayap raksasa Gangga masih tetap terlihat. Panglima memutuskan untuk tinggal menunggu sampai bala bantuan datang sementara pengawal pendamping putri membawanya ke istana Jati Jajar.


“Putri!” teriak raja Permadi.


Hari ini tetesan darah raja jin bersayap telah menapaki bumi, sang raja Yaksa yang sudah sekarat itu masih saja mengabaikan keadaannya.

__ADS_1


“Putri” gumam panggilan batinnya.


Kepala suku Taraya melihat para hewan bersayap dari kejauhan, dia mengurungkan niat untuk mendekati Gangga lalu menggunakan sihir menghilang kembali ke dalam hutan terlarang. Panglima begitu ketakutan, semula dia berpikir bahwa dirinya akan di serbu oleh kerumunan burung-burung yang menuju ke arahnya. Dia menutupi wajahnya dengan jubahnya sendiri di dekat Gangga, namun setelah menunggu reaksi dari hewan tersebut terasa ada kepakan sayap sangat kuat mendarat di depannya.


“Raja Permadi? Apakah dia akan menyerang ku dengan situasi seperti ini?” gumam sang panglima.


“Dimana putri Arska?” tanya sang raja.


Panglima memperhatikan sekujur tubuh sang raja yang penuh luka. Dia menunduk memberi hormat lalu menjatuhkan pedangnya.

__ADS_1


“Raja Yaksa yang selalu menyatakan perdamaian kepadaku. Sang putri sudah di bawa ke istana Jati jajar oleh pengawal pendamping” jawabnya.


“Kalau begitu menyingkirlah, pasukan ku akan membawa Gangga menyusul ke istana” kata sang raja.


__ADS_2