
Pangeran sedang berusaha merangkai bait kerinduan yang keterlaluan menahan di segala hantaman detak jarum yang terlalu lama di negeri jin. Dia mengabaikan perjodohan dengan dengan putri Helena, demikian pula dengan putri Arska yang dari awal tidak menghiraukan kehadiran pangeran Tranggala dan mengetahui rencana jahat kerajaan telaga hitam tersebut. Namun sepertinya raja jati jajar masih memaafkan kesalahannya dan tetap melangsungkan ikatan.
...Tuan putri aku selalu ada untukmu. Disaat kau masih selalu untuk mu. Di saat kau masih selalu meragukan dan mengusir hadirku. Di tengah rintangan pada cerita ini. Aku sedikit lega kau telah membalas rasa yang ku beri....
...Disini aku menanti tiada henti. Setelah berhasil mendekap mu, kini hati ku benar-benar semakin runtuh dan terbuai di dekatmu. Aku tidak akan melepaskan mu selamanya....
...-Pangeran Permadi-...
Pangeran yang sedang di mabuk cinta itu sedang mengejar hati putri jati jajar. Melihat sang putri menangis, tiba-tiba terasa seperti ada yang sedang menyayat hati pangeran Permadi. Dia memeluk putri Arska dari belakang dan menutupi seluruh tubuhnya dengan sayapnya yang besar. Langit perlahan menurunkan rintik hujan seolah mengiringi kepergian Nanjam. Hangat dekapan sayap itu terasa menenggelamkan benak risau putri yang sedang lara.
"Lepaskanlah aku wahai putra mahkota kerajaan Yaksa!" pinta putri menyibak sayap pangeran dan kembali memeluk jasad Nanjam sangat erat.
"Biarkan dia beristirahat dengan tenang, aku akan menguburkan nya di kaki lembah sungai jin" ucap pangeran menarik pelan pergelangan tangannya.
__ADS_1
Siapa lagi yang bisa membujuk hati putri yang bersifat dingin itu selain pangeran Permadi? Dia membalas tatapan pangeran dan membuang kembali pandangan.
"Aku tidak menyukai mu! pergilah!" bentak putri Arska mendorong tubuhnya.
"Putri..."
Gangga ikut menghentakkan kaki lalu mengepak sayap raksasa untuk menggeser tubuh pangeran Permadi. Pangeran yang tetap enggan meninggalkan putri dan bergerak mengangkat tubuh Nanjam.
Mendengar perkataan pangeran, putri tersadar akan teriakan, asap di udara dan gesekan pedang jin saling menyerang. Dia naik di tubuh Gangga dan mengikuti pangeran menuju kaki perbukitan. Penguburan itu di siram oleh air hujan tanpa henti, putri yang merengkuh memeluk tanah kuburan Nanjam dan masih menangis tanpa henti.
"Putri, kau harus ikhlas. Ayo kita kembali ke Medan pertempuran" ajak pangeran.
Dia naik ke tubuh Gangga tanpa meninggalkan salam padanya, hatinya mengeras ketika kematian Nanjam akibat serangan dari pasukan Yaksa.
__ADS_1
Antara benci dan memaafkan, aku masih belum bisa menerima semuanya! gumam putri Arska.
Air menyapu tubuh prajurit yang terluka, para panglima saling beradu kekuatan bersama kilat Sambaran petir menggelegar.
"Bunuh Raja..!"
Sebelum tombak Huson berhasil menembus jantung raja jati jajar, dari atas langit telah menerjang kaki raksasa Gangga menekan menginjak Huson ke tanah sampai tubuh jin itu hancur mengeluarkan suara patahan tulang dan darah kental. Cakar raksasa Gangga kembali menginjak kepala Huson hingga pecah. Hewan pemarah itu menelan tubuh Huson sampai tidak tersisa.
"Paman!" teriak pangeran Permadi yang memperhatikan dari kejauhan.
Kaki pangeran bergerak maju dan tertahan lagi oleh kehadiran putri di tengah pertempuran. Cinta yang keterlaluan itu sudah menguasai semua yang dia miliki, putri Arska seolah memegang kendali hatinya. Disisi lain dia mengingat lagi tragedi lalu, paman yang ingin melenyapkan nya.
Kini hanya ada kau yang akan menjadi ratu di hidup ku, gumam pangeran Permadi mengamati putri Arska.
__ADS_1