
Mengukir kisah di hati mu
Raja, seluruh raga ku sangat lelah dan menderita
ijinkan aku beristirahat selamanya
usah meragu
lembayung senja akan aku ingat dimana engkau merebut hati ku
Raja, jika aku tidak terbangun hari ini, janji kita masih sama
menjadikan cinta ini biru hanya milik kita berdua
...💙💙💙...
__ADS_1
Sesungguhnya putri tidak ingin berputus asa, hanya saja seluruh tubuhnya sangat kesakitan. Para tabib mengerutkan dahi, seluruh kemampuan sudah dia kerahkan namun sang putri belum terbangun juga. Kepala tabib menemui panglima, di menunduk sedikit bergetar ketika mengetahui Raja Yaksa berada di istana jati Jajar.
“Tabib engkau tidka perlu takut melihat raja, katakanlah bagaimana keadaan putri” ucap panglima perang.
“Maafkan hamba, semua pengobatan sudah kami coba tapi putri tidak ada kemajuan” kata sang tabib.
Raja Permadi berdiri mendekati sang tabib, hal itu membuat tabib ketakutan berlutut.
“Aku tidak akan menyakiti mu, wahai tabib bantulah sembuhkan putri Arska. Aku akan memberikan mu banyak hadiah jika berhasil menyembuhkan sang putri” ucap Raja Permadi.
“Apa? Cepat katakana tanaman apa yang engkau maksud!” panglima perang menarik tubuh sang tabib.
“Tanaman yang berada di atas tebing raksasa tertinggi bagian utara wilayah jin” ucap sang tabib.
“Waktu kepulangan Raja Jati jajar tinggal tiga hari lagi sedangkan perjalanan kesana memakan waktu selama lima hari, apa yang harus aku lakukan” kata panglima bernada rendah.
__ADS_1
“Biar aku yang akan kesana, aku akan terbang secepat mungkin untuk mencarikan obat sang putri dalam waktu satu hari, tapi sebelumnya ijinkan aku menemui putri Arska sebentar saja” Raja Permadi melirik wajah panglima yang sudah gusar.
“Aku sebagai panglima utusan Raja untuk menjaga sang putri merasa berat dalam situasi seperti ini” Panglima meletakkan senjata di hadapan Raja Permadi.
“Hanya sebentar saja” ucap Raja.
Akhirnya panglima membawa raja masuk ke dalam istana Jati Jajar. Sebuah istana yang indah dengan ukiran-ukiran bangunan yang menenangkan mata. Di sepanjang lorong, ada bunga-bunga puja kesuma dan kelelawar putih mendekatinya. Pandangan raja menarik pada guci besar di dekat ruangan yang akan mereka tuju, tumpukan bunga Allysum biru seolah simbol kedekatannya dengan putri Arska. Para dayang istana ketakutan melihat kedatangan Raja Yaksa. Mereka berlutut sambil memperhatikan seretan sayap raksasa Raja Yaksa. Tibalah mereka di ruangan kebesaran sang putri, dayang utama membukakan pintu lalu membungkuk menghadap Raja dan panglima.
“Tinggalkan kami” ucap panglima.
Seluruh dayang penjaga putri meninggalkan ruangan, begitu pula panglima yang mencari tempat untuk membiarkan Raja menemui putri Arska.
“Panglima, apakah engkau sudah gila? Engkau membiarkan jin bersayap itu masuk ke istana dan berduaan dengan sang putri” ucap pengawal pendamping putri.
“Aku akan lebih gila dan benar-benar kehilangan akal jika sang putri tidak di temukan. Aku terpaksa menuruti perkataan Raja Yaksa, dia harus menemukan obat penawar putri Arska. Engkau hanya perlu mengingat bahwa hanya kita berdua saja yang tau bahwa raja masuk ke ruangan kebesaran putri tanpa di damping oleh ku” ucap panglima perang.
__ADS_1