Cinta Biru: Runtuh Hati Jin Bersayap

Cinta Biru: Runtuh Hati Jin Bersayap
Selipan surat kepada pembaca


__ADS_3

Putri menyerang pangeran Danel dan menusuk perut para prajurit Gurun yang akan menikam Raja Permadi. Melihat kehadiran putri Arska, pangeran Danel tidak berhenti menatapnya. Walau wajah sang putri terlihat pucat, rambut panjang bertubuh mungil itu berhasil menarik perhatian pangeran Danel.


“Wahai putri, aku jadi mengurungkan niat membunuh penghuni jati jajar. Bagaimana jika bekerja sama dengan ku membunuh sosok bersayap ini?” ucap pangeran Danel.


Raja Permadi mendengar perkataan pangeran Danel. Walaupun matanya tidak bisa terbuka, masih menahan rasa panas dia mencari-cari keberadaan sang putri berdiri.


“Putri, putri dimana engkau?” tanya Raja permadi.


“Hahaha.. tunggu sampai beberapa jam lagi maka engkau akan kehilangan penglihatan.”


Mendengar hal itu sang putri langsung meraih tangan Raja Permadi.


“Ayo, bawa aku ke lembah sungai. Aku yang akan menuntun jalan di udara” kata putri Arska.


Raja dan putri Arska mengudara menuju lembah sungai. Putri membantu Raja membersihkan matanya yang. Sangat lama sudah berkali-kali sang Raja mencoba tapi dia tidak bisa melihat juga.


“Putri, maafkan aku. Aku tidak bisa melindungi mu lagi tanpa sepasang penglihatan” ucap sang Raja menggenggam erat tangan sang putri.


“Tidak, ayo kita pergi ke tabib atau aku akan memberikan mata ku untuk mu” ucap putri Arska menangis.

__ADS_1


“Tidak, aku tidak akan mengijinkan engkau melakukannya. Putri apakah engkau mencintaiku?” tanya Raja Permadi.


Sementara pangeran Danel berhasil menemukan keberadaan mereka tanpa aba-aba melakukan gerakan menyerang menusukkan pedang dari arah belakang sang Raja. Pedang mendarat tepat di punggung sang putri. Melihat hal itu kaki pangeran Danel lemah sekita, putri Arska seolah mati di tangannya. Pangeran berlari meninggalkan Raja dan putri Arska.


“Putri, ada apa dengan mu? Kenapa engkau tidak menjawab pertanyaan ku?”


Raja Permadi mencari-cari sang putri. Dia menyentuh pedang yang tertancap di bagian punggung putri Arska.


“Putri!” teriak Raja Permadi.


Langit mendung menggulung awan hitam membawa hujan deras di atas tanah peperangan membasahi luka-luka yang terkena tebasan pedang. Raja Permadi menangis memeluk tubuh putri Arska, dia perlahan mencabut pedang dari tubuh sang putri lalu menutup dengan sayap besarnya.


Air mata sang raja yang keluar seolah mengeluarkan racun dan hawa panas serbuk yang di berikan dari pangeran Tranggala. Dia dapat melihat kembali, mengusap dan mengguncangkan perlahan tubuh putri Arska. Raja mengangkat pedang itu berniat akan menebas kepalanya sendiri.


...💙💙💙...


Padahal aku sudah membohongi waktu


meneguk ramuan dari putaran reinkarnasi di masa kini dan lalu

__ADS_1


Aku selalu berusaha melindungi mu dan selalu menunjukkan segala keseriusan ini


Kenapa tetap saja engkau meninggalkan aku?


_Teruntuk putri Arska_


...💙💙💙...


Petir menyambar pedang sang Raja, pusaran angin kencang dan bola sinar berwarna putih keluar dari dahi putri Arska. Detak jantung sang putri melemah, raja berusaha meraih pedang yang terlepas tanpa melepaskan pelukannya.


“Wahai penguasa Yaksa, sekalipun engkau melawan takdir maka waktu yang sama tetap berjalan. Kini terimalah kepergian sang putri” gema suara cenayang Karang.


......................


...🔥🔥🔥🔥🔥...


Surat kepada para pembaca yang budiman:


Apakah sang putri dan Raja akan benar-benar berpisah? Masih menjadi tanda tanya di episode berikutnya. Author mau tanya nih, peran mana yang paling kalian suka? Jawab pada bab ini ya all.

__ADS_1


Jangan lupa tetap dukung author agar lebih semangat up date ya. Tetap tekan like sebanyak-banyaknya 👍🏻, favorit ❤️, vote, rate bintang Lima ⭐⭐⭐⭐⭐ komentar halu, setangkai bunga mawar🌹 dan secangkir kopi hangat☕. Terimakasih salam persahabatan selalu.


__ADS_2