Cinta Biru: Runtuh Hati Jin Bersayap

Cinta Biru: Runtuh Hati Jin Bersayap
Skandal


__ADS_3

Benar hari ini adalah suatu kenyataan pasti. Kita tidak terpisahkan sekalipun cobaan membentang. Lihatlah, engkau selalu saja mengibarkan bendera kemenangan. Mengalahkan sifat dingin dan berhasil menduduki posisi pertama sebagai penguasa di hati ku.


Di musim bunga allysum biru, kedua jin saling beradu pandang tanpa ingin terpisah. Pertanyaan terakhir dari sang putri hanya di jawab dengan sentuhan hangat tepat di keningnya. Merah merona pipi sang putri, darah berdesir merasakan gejolak berlebihan itu.


"Sudah cukup, aku harus kembali" ucap putri mendorong dada bidang raja.


"Tidak sampai engkau mau menikah dengan ku" bisik sang raja.


"Aku, tidak bisa berhianat dari Jati jajar! cinta ini, sangat menyakiti hati ku" jawab putri.


Raja kembali mendekap, membungkus tubuhnya yang mulai kedinginan. Raut wajah sang raja menjadi khawatir merasakan suhu tubuh sang putri semakin dingin.


"Putri, aku akan mengantarmu sampai masuk ke dalam istana."


"Raja, aku tidak mau engkau menerima tumpahan amarah dari ayahanda" ucap putri menunduk.

__ADS_1


"Baiklah, aku akan mencari cara meyakinkan raja dan ratu Jati jajar. Tapi, sekarang yang lebih penting adalah meyakinkan hati mu agar tidak berpaling dari ku."


"Aku tidak akan berpaling jika engkau tidak berhianat" kata putri yang sudah berani membalas tatapannya.


"Tidak akan pernah aku menghianati dan melepaskan mu."


Setelah mendapat persetujuan dari sang raja Yaksa. Putri pun meninggalkannya berjalan memasuki istana jati jajar. Tanpa di sadari oleh mereka, sosok dayang yang tadi terlihat oleh raja kini diam-diam berhasil melihat mereka. Sayang utama melaporkan secara langsung kepada raja ketika dia sedang berada di dalam ruangan yang sedang sibuk di meja pemerintahnya. Mendengar aduan dari sang dayang, raja membanting seluruh benda yang berada di atas meja.


"Tidak bisa di maafkan!" bentak raja Jati jajar.


"Perintah di laksanakan yang mulia" jawab sang pengawal pendamping.


"Menghadap raja, ijinkan hamba ikut membantu" ucap panglima perang.


"Baiklah, aku memahami jin Bersayap itu pasti tidak mudah untuk di tangkap."

__ADS_1


Kedua panglima itu menyusun rencana di dalam ruangan militer. Akan tetapi, ternyata keinginan dari sang pengawal pendamping begitu keras untuk membunuh raja Permadi.


"Jadi setelah berhasil di tangkap, kita harus menyiapkan anak panah beracun" kata sang pengawal pendamping ke anak buahnya.


"Tunggu, apa maksud mu? bukankah raja menginginkannya secara hidup-hidup? kau tidak boleh menjadi pemberontak!" ucap panglima perang.


Panglima pendamping bertepuk tangan untuk sang panglima perang.


"Hebat! kini engkau melindungi raja Yaksa. Apakah sebaiknya engkau menjadi panglima perang mereka?" ucap panglima pendamping raja.


"Walau aku baru berjumpa dengan raja jin Bersayap itu. Aku sama sekali tidak menemukan perlawanan dan rasa ingin membunuh terhadap musuh. Dia meminta perdamaian dan telah menyelamatkan nyawa putri Arska" gumam pengawal pendamping raja.


"Aku hanya ingin engkau mengikuti semua kehendak raja" jawab panglima perang.


Keesokan harinya, tepat di putaran waktu yang sama. Para panglima dan pasukan bersembunyi di balik semak dan rerumputan yang lebat. Mereka mengenakan baju yang menyerupai warna daun. Senjata anak panah dan belati telah siap untuk membunuh raja Permadi. Perlahan mereka memperhatikan kedatangan raja mendekati beberapa jarak kilometer kerajaan jati jajar.

__ADS_1


__ADS_2