Cinta Biru: Runtuh Hati Jin Bersayap

Cinta Biru: Runtuh Hati Jin Bersayap
Haluan dunia jin


__ADS_3

Tidak ada yang dapat mengerti kehadiran sesuatu yang bersifat ganjil. Beberapa saja dapat merasakan sesuatu berseberangan detik jarum jam terpisah. Roda keberuntungan atau sebaliknya, menggapai angan kepastian mengarungi sajak perseteruan kisah. Jangan lagi ada kata tanya, sebab semua hal tidak bisa di pastikan dapat terjawab pasti.


......................


Membuka pintu mister fortal alam Jin dan manusia.


Sub Maharani


Di tengah mimpi di era masa depan, Maharani melihat sebuah lukisan usang ketika mengunjungi perpustakaan tengah kota. Lukisan itu berada di pertengahan sejarah kota ying dan yang. Maharani meminjam buku itu dan kembali ke rumah. Dia mencocokkan bagian buku pelajaran ilmu pengetahuan alam antariksa yang dia bawa pulang dan menyatukan bagian lukisan lain yang dia Terima dari Astro.


Peta wilayah asing


Letak daerah di dalam setengah lukisan itu mirip dengan bagian sudut rumahnya. Terutama pada bagian jembatan penghubung sungai sisi sebelah kiri peta terdapat barisan bunga teratai merah jambu. Potongan lukisan sisi kanan di sebuah istana megah berlapis perak.


Di dalam pandangan Maharani ketika melihat lukisan itu, terlihat sosok manusia yang memiliki sayap raksasa. Dia sedang memegang pedang sambil memeluk seorang putri bergaun putih. Langit berwarna bercak kemerahan, ada banyak hewan bersayap berterbangan di atas langit.


Di bagian paling bawah lukisan, ada tulisan Aksara Latin kuno. Maharani mencoba menerjemahkan tulisan, akan tetapi dia sangat kesulitan sehingga hanya mendapatkan sebuah potongan kalimat.


Reinkarnasi alam jin, waktu berputar kembali di putaran detik berbeda


Putaran dimensi ghaib. Setelah meminum ramuan ghaib dari cenayang Karang. Mereka melupakan kejadian dia alam tersebut. Kecuali raja Permadi yang masih samar-samar mengingat semua hal akibat meminum setengah ramuan


...----------------...

__ADS_1


Sambungan mimpi putri Arska di sela dua dunia yang pernah dia singgahi. Letak kolam teratai di Kerajaan Yaksa di aliri kolam darah dengan serpihan bulu-bulu hewan yang mengapung di atasnya.


"Putri! Putri! " panggilan suara sinar hijau masuk ke dalam bunga tidurnya.


Wujud cenayang Karang memakai jubah ritual pura muara hijau menghampirinya.


"Putri dengarkan aku. Sebentar lagi kerajaan Yaksa akan berada di ambang kehancuran. Semua itu, campur tangan suku Taraya dan sihirnya yang terselubung di putik bunga peoni."


"Baiklah, aku akan selalu mengingat semua pesan mu ini. Akan tetapi, wahai wujud sosok yang baik, siapakah engkau sebenarnya? Terimakasih selama ini engkau selalu baik membantu ku" ucap sang putri.


"Putri, aku adalah bagian serpihan sisa ilmu yang berkaitan dari anugerah pendamping mata ghaib yang engkau miliki."


"Terimakasih aku ucapkan sekali lagi, engkau selalu hadir dan menyelamatkan ku" ucap sang putri.


"Wahai putri, kerajaan Kalingga penyebaran pil bunga peoni dapat di hentikan dengan langkah awal mencari peta di dunia manusia melalui reinkarnasi Maharani. Aku akan membawa mu kesana" kata sang cenayang.


Cahaya sihir pintu alam lain berputar, sang putri berpindah ke alam dunia. Sang cenayang menghilang ketika putri sampai di tengah jalan raya pusat perkotaan. Rambu-rambu lampu hijau, laju cepat kendaraan. Salah satu mobil Sedan dari arah depan mengarahkan ke putri.


Gerakan tangan putri menutup wajahnya. Dia sangat ketakutan, suasana yang sangat berbeda dari dunia jin. Tampak kilau sinar hijau di pinggir jalan menuntunnya menuju ke salah satu gedung pencakar langit. Sang putri berlari tergopoh-gopoh. Dia mengikuti hingga langkah berhenti saat masuk ke dalam gedung dan menaiki seribu anak tangga yang mengarah ke perpustakaan umum.


Di dalam, ada sebuah pintu yang membentuk pusaran melingkar. Sinar cahaya hijau mendorong putri masuk sampai tubuhnya terlempar ke dalam. Kini dia berpindah tempat dan berdiri di depan lahan kosong. Sinar cahaya hijau berwujud sosok jin memberikan sebuah kantung hitam. Dia menggerakkan tangan sang putri untuk menabur isi di dalamnya. Sang putri membiarkan sosok tersebut menggerakkan tangannya. Berselang beberapa lama, tanah berubah tandus, retak, kering hingga aroma debu dan tanah menguap tertiup angin.


"Apa yang telah aku lakukan? Aku merusak tanah yang seharusnya subur!"

__ADS_1


...----------------...


Hari penyebaran pil opium secara sembunyi-sembunyi. Para tentara jin berkuda memakai pakaian jirah kerajaan Yaksa memasuki gerbang istana. Hari ini panglima perang maupun kepala penjaga gerbang tidak di tempat. Mereka sedang melaksanakan tugas rahasia dari sang raja. Para prajurit Yaksa tidak mengetahui para tentara palsu dari Kalingga memasuki istana.


Di malam yang gelap, tentara Kalingga menyebar ke setiap ruangan. Salah satunya ke dapur umum istana. Sosok jin dayang istana di suap dengan menawarkan tiga keping perak. Satu persatu ceret batu di tuang ke beberapa prajurit. Manik mata dan rasa gugup pun menghampiri sang dayang.


"Aku harus pergi sejauh mungkin!" Batin sang dayang.


Sementara sang putri masuk melewati sinar putih agar bisa kembali ke alam jin. Netral terik membias cahaya ilusi terlalu terang hingga kedua tangannya menutupi wajah. Dia memaksa terus berjalan sampai berhasil menembus kaca ghaib.


Putaran jam, waktu dan menit yang berkesinambungan. Ketika sampai di lembah sungai jin. Putri memanggil Gangga agar membawanya me kerajaan Yaksa. Dari kejauhan, pasukan hewan bersayap satu-persatu menyambut kedatangannya. Untuk menghentikan pergerakan dan rencana Kalingga, sang putri mencabut paksa bulu Gangga. Hewan raksasa itu kehilangan keseimbangan akibat kesakitan.


Sayap raksasa membentang angin yang sangat kencang. Pasukan hewan bersayap berhamburan ke segala arah. Putri masih berpegang kuat pada paruh Gangga. Dia mengarahkan gerakan agar tetap berada di atas istana. Mendengar keributan di luar begitu kacau, raja Permadi beserta para punggawa dan prajurit perwakilan menghentikan aktivitas pertemuan di aula istana. Ada dua jin secara mendadak jatuh dengan wajah berbuih dan membiru. Beberapa prajurit di luar istana sudah berjatuhan dengan keadaan yang sama.


"Ada apa ini? " ucap sang raja terkejut.


Banyak para pasukan, punggawa dan perdana menteri sudah sekarat. Para tabib menyampaikan kepada sang raja bahwa para jin tersebut sedang keracunan. Di sisi lain, dayang pengantar minuman beracun sudah melarikan diri sampai melewati perbatasan lembah sungai jin.


"Raja! cepat tutup gerbang istana!" teriak sang putri. Ketika raja Permadi menggiring bala tentara bersiap berjaga di sekeliling istana.


"Cepat tutup pintu gerbangnya!" teriak raja.


Ada dua prajurit pasukan berkuda secara tidak sengaja terlihat dua tanda simbol baru giok yang terikat di pinggang mereka. Sontak saja pasukan jin berkuda Yaksa mengejar mereka sambil melemparkan anak panah api. Di bantu dengan pasukan bersayap dengan serangan hujan batu yang beruntun. Dua jin itu berhasil di lumpuhkan dan di rantai untuk di adili.

__ADS_1


__ADS_2