
Cinta biru tidak akan bisa terganti di dunia ini. Sekalipun harus melewati beberapa reinkarnasi kembali, perasaan yang begitu dalam tidak bisa terhapus. Raja jin bersayap penguasa dan penakhluk seluruh penghuni bumi para makhluk yang memiliki sayap itu benar-benar kehilangan kedali saat mengutarakan seluruh perasaannya yang menggebu. Tidak ada lagi kalimat bait yang terungkap selain perbuatan rasa cinta kasih begitu besar kepada ratu yang bertahta di hatinya.
Raja memperhatikan gerak-gerik putri beserta pengikutnya. Setelah keduanya pergi, raja terbang mengepakkan sayap untuk menghampiri sang putri. Kepakan sayap raksasa membentang mengibas membentuk air bergelombang membubarkan kerumunan ikan yang mendekati kaki sang putri. Raja tepat di hadapannya dengan kerlingan mata yang berusaha membius sang putri. Hal itu membuat putri enggan mendekatinya dan berusaha beranjak dari tempat duduknya. Tiba-tiba putri tergelincing karena pijakan kayu yang licin membuat pertahanan posisi berdiri tidak stabil. Raja Permadi langsung menangkap tubuh mungilnya, sambil melemparkan senyuman manis dia menenggelamkan rasa manis di tepian bibirnya.
“Raja, kau tidak pernah meminta ijin sebelum mengecup ku” ucap sang putri.
Drama percintaan itu di saksikan oleh kasim dan para dayang pendamping raja. Mereka langsung berbalik arah dan menunduk. Salah satu dayang pendamping raja berjalan mundur melaporkan semua yang dia lihat hari ini ke ibu suri. Wanita itu langsung murka, dia mengamuk memporak-porandakan isi ruangan kebesarannya.
“Yang mulia ibu suri tolong tenangkan diri mu! Ibu suri!” ucap dayang pendampingnya.
__ADS_1
...----------------...
“Putri ku, katakana apa yang sedang engkau rencanakan? Meriam tanda sinyal yang engkau lemparkan di kerajaan ku. Apakah ini berhubungan dengan pembunuhan sosok jin?” tanya raja Permadi.
Raja jin bersayap itu dengan sabar menggiring sang putri untuk duduk di kursi batu dan mengusap kakinya yang basah dengan jubah kebesarannya.
“Raja!” teriak sang kasim.
“Penasehat raja, kau harus bertindak agar negeri ini tidak hancur” ucap perdana menteri daerah.
__ADS_1
Di aula istana, sang perdana menteri daerah itu membrikan petisan pertentangan perdamaian. Begitu pula dengan beberapa perdana menteri lainnya.
“Letakkan saja semua gulungan petisan itu di meja ku, aku akan menyampaikan hal ini kepada sang raja. Jangan meminta ku berkomentar untuk membela sala satu dari kedua pihak. Aku harus tetap pada prinsip ku, yaitu memberikan nasehat secara adil” ucap sang penasehat raja.
Sang perdana daerah mengusap janggutnya, dia melirik pandangan sinis lalu meninggalkan aula istana. Dia berjalan menuju ruangan kebesaran hakim untuk mencari dukungan atas kehendaknya. Akan tetapi ketika dia akan memasuki tempa itu, dia di hentika oleh dua jin algojo yang membawa senjata raksasa di tangan.
“Tuan, siapun di larang oleh raja untuk menemui hakim” ucap salah satu algojo.
“Apa? Aku adalah perangkat raja yang terpenting. Tidak ada yang bisa menghalangi ku!” bentak perdana menteri daerah mendorongnya.
__ADS_1
“Maaf tuan, jika anda menentang maka kami akan bertindak sesuai perintah raja.”