Cinta Biru: Runtuh Hati Jin Bersayap

Cinta Biru: Runtuh Hati Jin Bersayap
Peperangan Dunia jin


__ADS_3

Setiap yang bernyawa pasti akan berpulang kembali ke asalnya. Begitu pun makhluk di alam jin. Batas detik waktu telah habis tapi keinginan dan harapan masih bersemayam. Ibunda Yaksa menginginkan kemakmuran negaranya dan kebahagiaan sang raja. Datang pendamping setengah mati terisak. Dia tiada henti mengucapkan do'a dan harapan agar beliau tenang disana.


"Henka, jika aku tiada maka engkau harus membuka ruang bawah tanah saat perang badar tiba. Setelah itu, segeralah engkau berlari dan bersembunyi. Atau mereka akan memakan mu."


Pesan terakhir darinya membuat datang pendamping Henka bertanya-tanya. Dia mengepal sebuah benda berbentuk sepasang sayap yang terbuat dari batu permata merah.


...----------------...


Setelah sinar hangat di kehidupan itu pergi, berat sekali sang raja memulai hari. Terlebih lagi hatinya semakin kacau. Tuan putri Jati Jajar seperti sudah enggan menerimanya lagi.


Hingga langit jin berganti sang fajar, raja Permadi belum beranjak dari tempatnya. Setengah menggigil tubuhnya di tahan menoleh lagi melihat langit jin di pagi hari. Terik cahaya matahari, awan putih di isi serpihan sayap salah satu helai jatuh di dekat sayap bagian sebelah kirinya.


Pandangan mata beralih meski sembab di tahan rasa pilu dan kesedihan.


Sungguh terbilang aneh, jika dalam dua hari dua malam serpih sayap hewan pejuang itu masih melayang di udara setelah menghabiskan hujan panjang.


Raja Permadi mengenal serpihan sayap berlapis darah itu. Berkali dia menghela nafas, duka di hati, kepenatan dan rasa risau membuatnya tidak bisa melakukan aktivitas apapun. Seluruh pikirannya masih bertumpu lagi dan lagi pada sang ibunda. Tanda simbol Yaksa walau tetap di ganti oleh sang raja tapi hal itu membuat pertanyaan di pikirannya.


“Menghadap Raja, hari ini akan di laksanakan pertemuan perundingan perihal perang mendadak mengenai serangan rahasia kepada kerajaan Jati Jajar” ucap sang pengawal pendamping.


“Apa maksud mu? bukankah aku sudah melayangkan bendera perdamaian?” tanya sang raja.

__ADS_1


“Yang Mulia, raja Jati Jajar mengirim lima ratus pasukan militer secara mendadak hingga menewaskan benteng pertahanan” kata sang pengawal.


“Apa? Ternyata dendam di hati raja Jati jajar belum pudar. Aku mengerti dan sangat paham karena kematian jin leluhur mereka terdahulu yang mengenaskan” gumam sang raja.


“Di pertengahan hari aku akan menghadirinya” jawab sang raja kemudian pergi berlalu.


Setetes air ataupun makanan dia sentuh. Suara sedikit serak memberi amanat dan taktik perang secara sembunyi-sembunyi untuk menyerang balik musuh. Dia harus menjaga negeri dan rakyatnya meskipun sangat berat melukai prajurit Jati jajar.


Di istana Jati Jajar


Suasana kesibukan mengalihkan pandangan sang putri yang tidak berhenti menangis. Dia mendengar suara hentakan kaki tentara jin. Api obor yang menyala bercampur pasukan kuda yang berbaris mengelilingi istana. Jeritan amarah raja menggelegar, di halaman istana dia mengarahkan para pasukan untuk bersiap menuju kerajaan Yaksa. Nama kerajaan itu tanpa henti dia sebutkan, sehingga sang putri memperhatikan dari jendela istana.


“Tuan putri, ratu memerintahkan akan menghadap kolam teratai” ucap dayang pita hijau.


“Ananda, benda apa ini?” tanya sang ratu memperhatikan dengan seksama.


“Menjawab ibunda, ini adalah benda yang tidak sengaja hamba temukan di lembah sungai jin” ucap sang putri sedikit terbata.


Perasaan sang ibunda memahami isi hati sang anak sebenarnya. Dia hanya menghela nafas, memeluk sang putri sambil mengusap rambut panjangnya. Teringat lagi pada era lalu, kedekatan antara dirinya dengan sang raja yang sempat terhalang oleh berbagai macam masalah dan perbedaan. Namun takdir dan nasib berpihak pada mereka sehingga garis jodoh terjalin membangun satu kesatuan tanah Jati Jajar yang Makmur dan sejahtera.


“Apapun pilihan mu maka ibunda tidak akan melarangnya. Tapi ingatlah lagi, darah rakyat yang tumpah hari ini menjadi saksi mempertahankan negeri kita” ucap sang ratu.

__ADS_1


“Ya ibunda, ananda akan selalu mengingatnya” jawabnya.


Bunyi Shofar membentang bersahutan terbawa angin di sela susana yang sunyi nan tenang. Terik sinar menyilaukan pantulan senjata perang, baju zirah dan pedang yang di angkat ke udara. Perang badar besar terjadi lagi pada dua kerajaan yang seharusnya sudah berdamai itu. Nyala api menggaris panjang membatasi kedua barisan prajurit. Perang ini tidak di bantu oleh pasukan hewan bersayap ataupun sihir dari cenayang Han maupun Karang. Raja Permadi berada di barisan paling depan begitu putri Arska. Mata tajam dingin sang dahulu kala kembali lagi, putri mengarahkan pedangnya tepat di hadapan sang raja.


Dunia ini tidak seindah tebaran bunga alyssum biru, di dalam hening yang tajam pernah membias samar indah bayang keindahan manis biru muda. Bersama cinta yang tersemat dalam cangkang peradaban di lembah sungai jin. Hari ini tidak sama yang di rasakan oleh sang putri, segalanya telah membeku bahkan terhempas di dalam serpihan asap hitam bekas bakaran api yang membara.


“Serang!” teriak sang raja Jati Jajar.


Hentakan suara kaki kuda jin, tentara hitam, algojo dan prajurit saling menyerang tanpa jeda. Suara pedang tajam merobek, menusuk bahkan memenggal kepala pasukan secara brutal. Darah tumpah membanjiri tanah yang sempat mengering di pertengahan hari ini. Putri, di dalam benaknya kini tidak ada lagi setetes dahaga rindu ketika melihat sayap raksasa itu. Kebenciannya pada sang raja Yaksa semakin dalam bahkan sampai kini setelah mendengar rahasia dari putri Kayana membuatnya menjadi menginginkan kematian sang raja.


Beberapa hari yang lalu sang putri Kayana memberikan bisikan api yang membakar hati putri Arska. Dia juga menunjukkan bunga Alyssum biru yang terangkai indah.


"Wahai putri, kenapa engkau terlalu polos mempercayai raja jin bersayap itu? dia juga memberikan kehangatan di balik bunga indah ini. Pergi dan tanyakan kepada panglima perang bahwa sang raja menghalangi ku ketika melakukan percobaan bunuh diri. Sayapnya sangat erat menyelamatkan dan memeluk ku! Hahahah!" bisik putri Kayana.


Di atas lembah sungai jin, pertemuan mereka berdua di saksikan oleh sang pengawal pendamping putri Arska. Dia siap berlari dan mengeluarkan pedang jika putri jahat itu melakukan sesuatu yang buruk kepada putri Arska.


"Wanita licik itu!" gumam sang pengawal memperhatikan secara tajam.


...❄❄❄...


Menyerang tanpa sayap raksasa Gangga di udara. Sang putri menebas leher musuh di atas kuda jin putih miliknya. Di sisi kiri tepat saat dia akan menghindar dari musuh, tiba-tiba serangan mendadak dari sisi kanan dan kiri hampir menghabisi nyawanya.

__ADS_1


Brughhhh


__ADS_2