Cinta Biru: Runtuh Hati Jin Bersayap

Cinta Biru: Runtuh Hati Jin Bersayap
Pengorbanan Raja Yaksa


__ADS_3

Melambungkan nama hanya satu yang tidak bisa terkikis oleh ruang dan waktu


Raja Permadi mengutus pengawal pribadi, algojo dan panglima perang untuk berjaga di wilayah sekitar kerajaan Jati Jajar. Dia juga meminta pertolongan kepada para hewan bersayap untuk melindungi kerajaan Jati jajar dan bersiap menjadi bala tentara menahan dan melawan serangan musuh. Sosok putri yang begitu lemah itu sedang di lindungi oleh kekuatan ghaib. Cahaya putih rembulan di dahinya akan tetap bersinar malam ini sekalipun itu adalah sinar bulan darah. Ikatan cahaya rembulan tidak akan lepas darinya. Begitu pula kekuatan cenayang Karang hadir membentuk suatu rantai ghaib di sekeliling ranjang putri Arska.


Dua dayang yang berjaga di dalam sangat terkejut melihat sosok jin lain masuk ke kamar kebesaran sang putri akan menyerang mereka. Pukulan dan menebas leher para dayang sampai kepala mereka terlepas, darah mengalir deras di sepanjang ubin. Kini giliran untuk menghabisi sang putri, pedang itu sudah berada di atas kepala putri Arska. Akan tetapi tiba-tiba sosok jin utusan putri Helena terbanting sampai kepalanya terbentuk oleh dinding. Meskipun demikian, dia terus mencoba mengayunkan senjata menebas leher sang putri. Lagi-lagi dia terbanting ke dinding, tidak ada darah yang keluar dari kepalanya sekalipun benturan kedua lebih keras terdengar seperti batok kepala yang retak.

__ADS_1


“Kenap aku tidak bisa membunuhnya?” gumam utusan putri Helena ingin mencoba sekali lagi.


Seakan darah di tubuhnya telah habis, yang tersisa hanya tulang berlapis daging yang masih bisa tegak berjalan. Darahnya sudah di kuasai dan di kendalikan oleh oleh bulan darah yang di puja oleh putri Helena.


Di luar kerajaan Jati Jajar

__ADS_1


Ternyata hewan tersebut menolongnya dari musuh yang akan menusuk dari belakang.


Di sisi lain, Raja permadi sudah mengepakkan sayap begitu cepat bagai kecepatan angin menuju tebing raksasa tertinggi. Iklim begitu buruk, hujan tidak pernah berhenti disana. Air atau hujan yang deras mengalami raja Permadi untuk menggunakan sayap raksasanya terbang. Di memilih memanjat tebing, walau bebatuan itu berlapis dengan lumut hijau yang licin. Dia memukan satu tumbuhan langka yang di ceritakan oleh tabib. Perlahan raja menggapai dari satu batu kebebatuan yang lain. Sayapnya sudah terlalu basah kuyup. Telapak tangan raja Permadi penuh luka, setiap batu yang dia gapai untuk menopang tubunya membuat telapak tangan itu semakin berdarah. Perih yang dia rasa tidak lagi terasa bersama rasa dingin membuat tubuhnya menjadi menggigil.


Raja sudah memanjat tebing raksasa sangat tinggi, namun dia belum melihat tanaman obat yang sang tabib maksud. Walaupun begitu dia tetap tidak berputus asa dan melanjutkan pendakian sampai di bagian tengah tebing dengan batu runcing dan kasar.

__ADS_1


..._To be continued_...


__ADS_2